Google

Friday, January 18, 2008

Ibukota RI Perlu Pindah ke Pedalaman : Kota-kota Indonesia yang Terancam Tenggelam



Bila Benua Australia Saja Bisa Tenggelam Seperti Ini, Bagaimana dengan Indonesia ?

Topic : Government
By Ari Satriyo Wibowo

Saya selalu ditertawakan teman-teman ketika pada 1995 saya sudah membeli rumah untuk persiapan hari tua di Ungaran, sebuah kota kecil yang terletak di daerah pegunungan di Jawa Tengah.

Namun, dengan perkembangan pemanasan global yang makin meningkatkan permukaan laut pandangan mereka pasti akan berubah. Bahkan, kelak orang-orang akan berbondong-bondong membeli rumah di pegunungan.

Mengapa? Apabila air laut naik secara perlahan ke darat setinggi 1 meter saja maka kota-kota yang terletak di pesisir pantai akan tenggelam. Banyak kota-kota tersebut yang merupakan kota besar dan merupakan “urat nadi perekonomian” Indonesia. Misalnya, Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Makassar dan Manado.

Gangguan atau terputusnya urat nadi tersebut akan mengganggu kondisi ekonomi, social, hankam, pemerintahan dan lain-lain.

Bagi Indonesia, kenaikan permukaan air laut berpotensi menenggelamkan 50 meter daratan dari garis pantai Kepulauan Indonesia. Bila panjang garis pantai Indonesia sekitar 81.000 kilometer maka sekitar 405.000 hektar daratan Indonesia kan tenggelam. Ribuan pulau kecil pun akan lenyap dari peta Indonesia ditelan air laut. Selain itu, juga ratusan ribu hektar tambak dan sawah di daerah pasang surut akan hilang. Abrasi pantai dan intrus air laut pun mengganggu penduduk yang sebagin besar hidup di kawasan dataran rendah.

Bagaimana dengan RRC ?

Kota-kota besar China yang terletak di pinggir pantai juga terancam segera tenggelam akibat perubahan iklim yang mendorong naiknya permukaan laut.

Li Haiqing, juru bicara Badan Kelautan Negara (SOA), mengutip laporan tahun 2007 lembaga tersebut, mengatakan Shanghai dan Tianjin merupakan dua kota penting yang paling terancam. Menurutnya dalam 30 tahun terakhir Shanghai menghadapi kenaikan permukaan air setinggi 115 milimeter, atau separuh panjang sumpit.

Sedangkan Tianjin, pelabuhan utama sekitar dua jam perjalanan dari Beijing, telah menghadapi kenaikan permukaan air laut sebanyak 196 milimeter, kurang lebih sepanjang pensil.

Dalam 30 tahun terakhir, secara keseluruhan permukaan air laut di negeri tersebut telah naik 90 milimeter dengan rata-rata temperatur permukaan di lepas pantai naik 0,9 derajat Celsius. "Sebagai perbandingan, ketika permukaan air laut global naik 1,7 milimeter setiap tahun antara 1975 dan 2007, permukaan air laut di China naik 2,5 milimeter setiap tahun," kata Li, Selasa (15/1).

Dalam dasawarsa mendatang, SOA meramalkan permukaan air laut di pantai China tampaknya akan naik sebanyak 32 milimeter, atau 3,2 milimeter setiap tahun. Itu adalah kali pertama SOA melaporkan kenaikan permukaan air laut dalam 30 tahun terakhir. Laporan tersebut sekarang direncanakan dikeluarkan setiap tahun, dan bukan setiap tiga tahun.

Sistem peringkat resiko tiga-tingkat akan dipasang oleh SOA untuk memberitahu kota besar pantai mengenai potensi ancaman yang mereka hadapi, kata Chen Manchun, seorang peneliti di SOA, kepada China Daily. Kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia tak dapat diubah, sehingga para perencana dan pejabat kota besar melakukan berbagai tindakan guna menyesuaikan perubahan tersebut, katanya.

Pemanasan global adalah penyebab utama kenaikan permukaan air laut, kata para pejabat SOA. Tapi turunnya permukaan tanah juga memunculkan ancaman banjir di Shanghai dan Tianjin. "Ini akibat eksploitasi sumber daya air tanahnya secara serampangan," kata Chen.

Melihat fenomena seperti di atas maka sejak sekarang perlu dipikirkan untuk :

1. Mencari alternatif lokasi ibukota RI di kota pedalaman Jawa atau Pulau lainnya
2. Merelokasi industri-industri ke lokasi yang lebih tinggi atau membangun kawasan industri terapung.
3. Mengarahkan pembangunan perumahan rakyat di dataran tinggi

Bagaimana pendapat Anda?

Sumber : 1. Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo "Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global?", PenebarPlus, Jakarta, 2007 2. Kantor Berita Antara, Rabu, 16 Januari 2008