Google

Tuesday, July 31, 2007

“Indonesia Tempo Doeloe” Pernah Memiliki Seorang Pemenang Nobel Kedokteran

Topic : Academic


By Ari Satriyo Wibowo

Menurut dr. Doddy P. Partomihardjo, Ketua Iluni FKUI, dulu di zaman Hindia Belanda fasilitas laboratorium dan kualitas riset dan penelitian yang dilakukan di Batavia (Jakarta sekarang ) tidak kalah dengan yang ada dan dilakukan di Paris, Perancis.

Tidak mengherankan pula bila Christiaan Eijkman yang melakukan penelitian terhadap penyakit Beri-Beri dan menemukan penyebabnya akibat kekurangan Thiamine (Vitamin B1) berhasil meraih Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 1929.

Christiaan Eijkman lahir di Nijkerk, Gelderland, Belanda pada 11 Agustus 1858 sebagai anak ketujuh dari Christian Eijkman (senior), seorang kepala sekolah, dan Johanna Alida Pool.

Setahun kemudian, pada 1859, keluarga Eijkman pindah ke Zaandam, dimana ayahnya ditunjuk sebagai kepala sekolah sebuah SD baru di sana. Di sinilah Christiaan dan saudara-saudaranya menerima pendidikan awal. Pada 1875, setelah lulus sekolah menengah Eijkman menjadi mahasiswa Sekolah Kedokteran Militer Universitas Amsterdam, di mana ia dilatih untuk menjadi tenaga medis bagi tentara pendudukan di Hindia Belanda. Eijkman lulus dengan sangat memuaskan.

Dari tahun 1879 hingga 1881, ia menjadi asisten dari T. Place seorang professor Fisiologi. Sambil menjadi asisten ia menulis thesis berjudul On Polarization of the Nerves yang membuatnya berhasil meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan pada 13 Juli 1883. Pada tahun yang sama ia kemudian ditugaskan ke wilayah koloni Belanda di Hindia Belanda. Pertama kali ia ditugaskan di Semarang, kemudian Cilacap, keduanya di Jawa Tengah dan akhirnya di Padang Sidempuan, Sumatra Barat. Ketika di Cilacap itulah ia terkena malaria yang agaknya amat mempengaruhi kesehatannya sehingga pada 1885 ia mengambil cuti sakit dengan kembali ke Eropa.

Bagi Eijkman kembalinya dirinya ke Eropa merupakan suatu berkah sebab memungkinkannya untuk bekerja di laboratorium E. Forster di Amsterdam dan laboratorium bakteriologi Robert Koch di Berlin. Di sinilah kemudian Eijkman bertemu dengan A.C. Pekelharing dan C. Winkler, yang mengunjungi ibukota Jerman itu sebelum kembali ke Hindia Belanda. Melalui pertemuan itu akhirnya Eijkman dipilih menjadi asisten misi Pekelharing-Winkler bersama koleganya M.B. Romeny. Misi itu ditugaskan pemerintah Belanda untuk menyelidiki penyakit Beri-Beri, suatu penyakit yang sedang mewabah di kawasan itu.

Pada tahun 1887, Pekelharing dan Winkler dipanggil pulang ke Belanda. Tetapi sebelum pulang keduanya meminta kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda agar laboratorium yang sudah dibangun sementara untuk keperluan Komisi Rumah Sakit Militer di Batavia agar dibuat permanen. Proposal itu diterima dan Christiaan Eijkman ditunjuk sebagai direktur yang pertama, sekaligus sebagai direktur Sekolah Dokter Djawa yang baru dibentuk (yang merupakan cikal bakal STOVIA atau Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekarang). Itulah akhir karir singkat Eijkman di militer dan sejak itu ia mengabdikan diri sepenuhnya untuk ilmu pengetahuan.

Eijkman menjadi Direktur Laboratorium Kedokteran sejak 15 Januari 1888 hingga 4 Maret 1896. Selama masa-masa tersebut Eijkman melakukan berbagai riset penting. Misalnya penelitian tentang fisilogi penduduk yang hidup di wilayah tropis. Ia berhasil membuktikan bahwa sejumlah teori tidak memiliki data faktual. Pertama-tama ia membuktikan bahwa di dalam darah orang Eropa yang tinggal di daerah tropis sejumlah sel darah merah, serum maupun kandungan air , tidak mengalami perubahan, sepanjang sel darah tidak terkena penyakit yang membuatnya mengalami kondisi anemia.

Temuan terbesar Eijkman justru di bidang yang berbeda. Ia menemukan, setelah kepulangan Pekelharing dan Winkler, bahwa penyebab sesungguhnya Beri-Beri adalah akibat kekurangan beberapa substansi penting yang terdapat dalam makanan pokok penduduk pribumi, yakni pada bagian Pericarpium (”silver skin”) dari beras yang mengandung apa yang kini disebut Thiamine atau Vitamin B1. Penemuan tersebut membawanya kepada konsep dari vitamin. Temuan ini membuatnya meraih Hadiah Nobel Kedokteran dan Fisiologi pada tahun 1929.

Di tengah risetnya tentang Beri-Beri, Eijkman masih menyempatkan diri untuk menulis dua buku textbook untuk Sekolah Dokter Jawa. Pertama di bidang Fisiologi dan kedua di bidang kimia organik.

Pada 1898 ia menggantikan G. Van Overbeek de Meyer, sebagai Profesor di Bidang Hygiene dan Kedokteran Forensik di Utrecht. Pidato pengangkatannya diberinya judul Over Gezonheid en Ziekten in Tropische Gewesten (Masalah Kesehatan dan Penyakit di Daerah Tropis). Di Utrecht, Eijkman kembali memperdalam bakteriologi yang membuatnya terkenal melalu percobaan fermentasi pada air yang tercemar kotoran manusia dan hewan sehingga memicu tumbuhnya bakteri Coli. Riset lainnya tentang tingkat kematian bakteri yang disebabkan faktor eksternal, di mana Eijkman berhasil membuktikan bahwa proses tersebut tak dapat dijelaskan dalam bentuk kurva alogaritma.

Pada 1907, Eijkman ditunjuk menjadi anggota Royal Academy of Sciences dari Negeri Belanda, setelah melakukan korespondensi dengan lembaga itu sejak tahun 1895. Atas jasa-jasanya pemerintah Kerajaan Belanda menganugerahkan gelar kebangsawan kepadanya. Sedangkan pada perayaan ke- 25 Eijkman sebagai profesor pemerintah telah menghimpun dana bagi diselenggarakannya penghargaan yang diberi nama Eijkman Medal. Tetapi mahkota dari semua prestasinya berupa hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 1929.

Eijkman juga menerima penghargaan dari John Scott Medal, Philadelpia dan Foreign Associate of the National Academy of Sciences di Washington. Ia juga menerima penghargaan sebagai Honorary Fellow of the Royal Sanitary Institute di London.

Pada tahun 1883, sebelum keberangkatannya ke Hindia Belanda, Eijkman menikahi Aaltje Wigeri van Edema yang meninggala pada tahun 1886. Di Batavia, Professor Eijkman menikah lagi dengan Bertha Julie Louise van der Kemp pada 1888. Pasangan ini dikarunia seorang anak laki-laki bernama Pieter Hendrik pada 1890 yang di kemudian hari menjadi seorang dokter.

Eijkman meninggal di Utrecht, Belanda pada 5 November 1930.

Di Indonesia, nama Eijkman pada tahun 1993 diabadikan sebagai nama Lembaga Biomolekuler Eijkman yang dipimpin Prof. Dr. Sangkot Marzuki. Sayangnya, lembaga penelitian ini masih minim perhatian dari pemerintah dan belum memperoleh akreditisasi. Alhasil, meskipun secara teknis bisa melakukan uji DNA untuk kepentingan forensik --- seperti kasus Bom Bali --- tapi Eijkman belum mendapat akreditasi. Jadi, secara hukum tidak bisa dijadikan fakta di pengadilan.

Mungkin ini sebuah ironi, setelah Eijkman berdiri pada 1888 lebih seabad yang lalu menjadi lembaga penelitian kesehatan terkemuka dunia dan mengantarkan Christiaan Eijkman meraih Nobel pada 1929. Tetapi dengan hengkangnya Belanda pada 1945 membuat lembaga ini mati dan baru hidup lagi 1993. Namun, kondisinya sekarang malahan jauh ketinggalan dibandingkan lembaga kesehatan terkemuka di dunia lainnya.

Bagaimana pendapat Anda sebagai pembaca awam? (ASW)

Monday, July 30, 2007

Kerjasama ABG Mesti Dibungkus Komponen C (Community)


Topic : Government

Kalimat di atas merupakan komentar singkat yang disampaikan Bapak Menristek Kusmayanto Kadiman atau akrab disapa sebagai ”KK” ke ABGNET Blog Komunitas ABG ini.

Pesan itu sangat sarat makna karena ABG sesungguhnya tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya peranan dari Komunitas atau Masyarakat. Oleh karena itu, agar pembaca blog yang terhormat dapat menyelami lebih dalam pesan beliau maka sengaja kami terjemahkan kembali pokok-pokok pemikiran beliau dari makalah berjudul ”The Triple Helix and the Public” yang disampaikan dalam ”Seminar On Balanced Perspective in Business Practises, Governance and Personal Life” di Merchantile Club, Wisma BCA, 7 Desember 2006. Makalah aslinya dalam format PDF dapat Anda unduh di http://www.ristek.go.id/ , di tombol link Makalah Menteri yang terletak di bagian kanan website itu.

Berikut ringkasannya :

Kerjasama Triple Helix Academic-Business-Government yang populer disebut ABG telah menjadi isu utama dalam pembuatan kebijakan publik.

Sesungguhnya, banyak orang kunci dari kelompok ABG menyadari bahwa hubungan di antara tiga sektor tersebut harus dipererat. Saat ini semakin terbuka dan intensif komunikasi yang terjadi antara komunitas akademis dan bisnis, bisnis dan pemerintah maupun antara pemerintah dan institusi pendidikan.

Ketika banyak kalangan universitas yang berjuang mati-matian agar institusi mereka bisa menjadi universitas riset pada saat yang bersamaan universitas dituntut pula untuk menjadi institusi pendidikan yang memiliki jiwa kewirausahaan. Maksudnya, selain tugas utama mereka sebagai perguruan tinggi dan riset akademis, universitas diharapkan mampu menyediakan sumber daya manusia yang memiliki kualifikasi tinggi yang dapat membuahkan hasil riset yang yang sesuai dengan kebutuhan pasar atau memiliki nilai komersial. Meski begitu, Menristek memberi catatan khusus, bahwa universitas yang memiliki jiwa kewirausahaan jangan disamakan dengan universitas yang bersifat komersial.

Di lain pihak, komunitas bisnis harus mengalokasikan dana untuk mendukung aktivitas riset yang dilakukan di universitas atau mengadakan kerjasama timbal balik dalam bidang riset.

Universitas diharapkan mampu menyokong pemecahan masalah yang ditemui pemerintah dalam semua aspek pengembangan dan penyediaan informasi akurat serta menyeluruh sebagai acuan dalam membuat peraturan dan kebijakan publik. Komitmen pemerintah untuk meningkatkan alokasi anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dilihat perguruan tinggi sebagi momentum untuk meraih kedudukan akademis lebih baik dan meraih kemandirian institusi.


Pemerintah dan kalangan bisnis harus menetapkan bentuk kerjasama yang mereka lakukan. Peraturan dan kebijakan publik yang dibuat pemerintah hendaknya mampu merangsang pertumbuhan investasi domestik dan investasi asing. Di sisi lain, kalangan bisnis diharapkan menerapkan praktik bisnis yang etis, tidak melulu memikirkan bagaimana mencetak laba saja , tetapi juga memainkan peranan penting dalam pengembangan komunitas dan tanggung jawab sosial yang lain.


Co-Evolusi dari ABG. Menjaga keseimbangan peran di antara masyarakat bisnis, institusi pemerintah dan masyarakat akademis adalah suatu usaha yang terus-menerus dan dinamis. Setiap ABG bekerja pada landasan masing-masing. Bergerak ke kiri atau ke kanan, maju atau mundur merupakan suatu gerakan dinamis alamiah dari aktivitas yang bergerak maju.

Triple Helix ABG ini, menurut Kusmayanto Kadiman, tidak bisa disederhanakan menjadi interaksi timbal balik antar masing-masing sektor A-B, B-G, dan A-G. Oleh karena itu, KK menyisipkan Masyarakat Akademis (Academic Society) sebagai satu bagian yang yang tidak dapat dipisahkan dari ABG

Adalah baik untuk memusatkan kerjasama timbal balik antara B dan G. ”Namun, akan jauh lebih menyeluruh bila dalam mendiskusikan hubungan dari dua belah pihak tersebut kita juga membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat akademis untuk berkontribusi,” demikian tulis Kusmayanto Kadiman dalam makalahnya itu.

Isu umum dan populer mengenai hubungan antara B dan G adalah mengenai [ 1] kebutuhan pemerintah untuk memberikan layanan yang lebih baik dalam memberikan fasilitas bagi aktivitas bisnis. Di antaranya kebijakan publik yang mendukung, prosedur yang jelas, proses yang cepat dan pengeluaran yang sepantasnya untuk keperluan perijinan serta menciptakan iklim bisnis yang bagus berkaitan dengan keamanan, pajak, masalah perburuhan dan dukungan infrastruktur.

Sebagai imbalannya maka [2] komunitas bisnis akan meningkatkan peranan mereka sebagai mitra pemerintah dalam mengembangkan ekonomi nasional dan memperbaiki kesejahteraan sosial dari komunitas lokal di mana bisnis tadi berasal. Peranan komunitas bisnis dalam perbaikan pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja dan infrastruktur transportasi adalah yang umum ditanyakan oleh komunitas lokal.

Bila Komunitas (C, Community) atau Publik (M, Masyarakat) merupakan elemen penting dari kerjasama Triple Helix ABG itu mengapa mereka tidak diwujudkan sekalian sebagai mata rantai yang ke empat dari sebuah kerjasama Four Helix ABGC?

Menurut Kusmayanto Kadiman, Community atau Masyarakat mesti dilibatkan dalam aktivitas Triple Helix tetapi tidak perlu dimasukkan sebagai mata rantai yang keempat. Mengapa? Sebab, kalau dimasukkan maka Community hanya akan menjadi Stakeholder baru saja tetapi bukan berperan sebagai suatu komponen civil society yang mendorong terwujudnya co-evolusi dari kerjasama Triple Helix ABG.

Harus diingat, tambahnya, bahwa setiap individu di masyarakat, tanpa memandang posisi maupun profesinya, merupakan bagian dari ”Masyarakat” (Publik atau Komunitas). Sebagai contoh , seseorang yang berkecimpung di bisnis farmasi boleh jadi merupakan anggota GP FARMASI tetapi pada saat bersamaan ia juga merupakan bagian dari ”Masyarakat” (Publik atau Komunitas) yang juga perlu dipuaskan kebutuhannya akan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, kebutuhan rekreasi dan sebagainya.

Jadi disini jelas bahwa ”Masyarakat” ( Publik atau Komunitas) meliputi keseluruhan komunitas, sedangkan ABG adalah merupakan ”bagian kecil” dari masyarakat yang besar itu. Sekalipun demikian, ABG mampu menentukan ”hitam-putih” atau ”berwarna”-nya keseluruhan komunitas.

Bagaimana pendapat Anda para pembaca? Ditunggu komentar Anda sebagai bagian dari komunitas (C, Community). (ASW)

Saturday, July 28, 2007

Mengenal Bastyr University, Universitas Hibrida Allopathy dan Naturophaty


Topik : Academic

Di akhir pekan biasanya orang melewatkan waktu untuk kegiatan santai bersama keluarga. Tidak sedikit di antara kita yang memanfaatkan akhir pekan untuk mencoba obat-obatan herbal alamiah, menikmati pijat kesehatan dan pelbagai pilihan pengobatan oriental lainnya.

Tahukah Anda bahwa di luar negeri seperti di Jerman, Inggris dan Amerika Serikat (AS) selain terdapat dokter Allopathic yang meresepkan obat-obatan farmasi untuk para pasiennya, di sana dikenal pula dokter Naturopathic yakni profesi dokter pengobatan alamiah yang meresepkan herbal untuk para pasiennya. Mereka lazim disebut Naturopathic Doctor (ND). Mereka memperoleh pendidikan kedokteran Naturopathy dari institusi pendidikan resmi dan diakui keberadaannya oleh pemerintah setempat.

Salah satu universitas di AS yang terkenal sebagai penghasil herbalis dan dokter Naturopathic adalah Bastyr University. Semula sekolah tersebut berdiri pada 1978 dengan nama John Bastyr College of Naturopathic Medicine pada tahun 1978 di Seattle, Washington, AS. Pendirinya ada empat orang yakni Sheila Quinn, Joseph Pizzorno, ND, LM; William Mitchell, ND; dan Les Griffith, ND, LM. Namanya diambil dari nama John Bastyr, ND, DC (1912-1995), seorang dokter naturopathic yang memelopori pengobatan naturopathic di wilayah Seattle pada tahun 1960-an.

Kemudian pada tahun 1984 namanya berubah menjadi Bastyr College dan berganti lagi menjadi Bastyr University pada 1994 ketika mulai banyak program program sarjana dan pasca sarjana yang ditawarkan.

Bastyr University merupakan salah satu dari enam sekolah kedokteran naturopathy yang memperoleh akreditisasi dari Northwest Commision on Colleges and Universities sejak 1989 untuk menyelenggarakan pendidikan S1, S2 dan S3.

Bastyr menawarkan pendidikan Naturopathic Medicine (S2), Accupunture and Oriental Medicine (S1 dan S2), Nutrition (S1 dan S2), Herbal Science (S1), Health Psychology (S1) dan Exercise Science and Wellness (S1 dan S2). Sebagai contoh untuk meraih gelar di bidang Herbal Science seseorang mahasiswa dipersyaratkan untuk menyelesaikan 45 SKS yang terdiri antara lain pelajaran Kimia Organik, Anatomi dan Fisiologi, Ilmu Herbal, Biokimia, Identifikasi Tumbuhan, Farmakologi (Ilmu Khasiat Obat), Etnobotani, Botani Lanjutan, Kontrol Kualitas serta Interaksi Herbal dan Obat.

Sedangkan, Leadership Institute of Seattle yang merupakan bagian dari Bastyr University School of Applied Behavioral Science yang menawarkan pendidikan S2 di bidang mental health counseling and leadership/organizational development.

Pada tahun 1996, Bastyr pindah ke lokasi sekarang yakni di Saint Thomas Center, sebuah bangunan seminari tua yang berlokasi di lembah Inglewood-Finn yang bertetangga dengan wilayah Kenmore, Washington.

Bastyr mengoperasikan pula sebuah klinik pengobatan alamiah atau herbal yang diberi nama Bastyr Center for Natural Health di wilayah Wallingford, Seattle. Klinik ini menawarkan pengobatan alamiah, akupuntur dan pengobatan oriental yang dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan pasien.

Wah, tentu saja sebuah pengalaman pengobatan baru yang dapat menjadi saingan bagi pengobatan farmasi di masa depan.

Bagaimana pendapat Anda sebagai pembaca awam? (ASW)

Friday, July 27, 2007

Prof. Dr. Ali Sulaiman : Universitas Siap Asal Dilakukan dengan Win-Win Solution




Topik : Academic

Sekitar dua tahun yang lalu Prof. Dr. H. Ali Sulaiman PhD,SpPD-KGEH, FACG, seorang pakar hepatologi, bermaksud membuat makalah tentang peranan herbal pada penyakit hati. Ia kemudian berusaha mencari bahan-bahan ke Departemen Kesehatan dengan maksud untuk memperoleh hasil penelitian tentang Temulawak yang sudah dilakukan selama ini. Apa yang diperolehnya? Ternyata ia memperoleh jawaban bahwa Depkes tidak memiliki data tentang hasil penelitian Temulawak karena belum ada permintaan resmi untuk melakukan penelitian terhadap tanaman obat itu. “Padahal Temulawak itu secara tradisional sudah dikenal baik untuk mengobati penyakit hati. Jadi sayang sekali kalau belum ada pihak di sini yang melakukan penelitian,” katanya.

Oleh karena itu, mantan Dekan FKUI periode 1996-2004 itu, menyambut baik kerjasama ABG yang sedang dirintis saat ini. “Kita dari universitas siap melakukan penelitian asal semua dilakukan dengan win-win solution. Semuanya saya kira bisa dibicarakan dengan baik-baik demi kebaikan kita semua termasuk pihak pemerintah,” ujar Prof. Dr. Ali Sulaiman di kantor administrasi Sub Bagian Hepatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Kamis (26 Juli 2007).

Semua pihak ABG harus bekerjasama dengan harmonis saling mengerti dan saling menguntungkan. Selain itu, harus ada semacam sasaran yang sesuai dengan kebijakan umum pemerintah. Prof. Ali Sulaiman lebih lanjut menambahkan, “ Research itu seharusnya menjadi tulang punggung dari universitas. Selama ini, mohon maaf , dalam hal riset kita lemah sekali.”

Dalam survei Asia Best University yang dilakukan Majalah Asia Week tahun 2000 untuk kategori multidisiplin ilmu maka peringkat universitas-universitas di Indonesia mengalami kemerosotan tajam. Universitas Indonesia misalnya berada pada peringkat ke-61, Universitas Gajah Mada peringkat ke-68, Universitas Diponegoro (peringkat 73) dan Universitas Airlangga (peringkat 75).

Bandingkan dengan Universitas Kyoto, Jepang yang menduduki peringkat 1, University of Hong Kong (3), Seoul National University (4), National University of Singapore (5). Bahkan, peringkat universitas di Indonesia masih di bawah universitas di Malaysia dan Filipina yakni University of Malaya (peringkat 47) dan The University of Philiphine ( peringkat 48)

Mengapa kita ada di bawah? Menurut Prof. Ali Sulaiman karena salah satu ukuran untuk menilai tinggi rendahnya peringkat universitas adalah kegiatan riset. Dalam pengertian berapa dana yang dapat dihimpun riset dan berapa banyak pula produk-produk riset yang dihasilkan. “ Di sini kita lemah sekali sehingga merosot peringkatnya,” imbuhnya.

Riset yang dilakukan di universitas sekalipun dilakukan sesuai kaidah-kaidah yang berlaku umum dan berjumlah ratusan buah tetapi tidak dimasyarakatkan dan dipublikasikan secara luas. “Jadi pada akhirnya riset tidak menghasilkan apa yang diharapkan tetapi sekadar sebagai persyaratan KUM akademis semata,” tandas suami Ny. Nunung Achmaria itu.

Tema riset juga harus diperbaiki karena banyak riset yang terlalu ilmiah sehingga tidak bisa diterapkan dunia industri.

Pria kelahiran Serang, 20 September 1939 itu menyoroti banyaknya tenaga peneliti andal bergelar PhD yang kemudian ditarik dari bidangnya untuk menjadi direktur utama Rumah Sakit.”Akhirnya bibit-bibit unggul di bidang penelitian kedokteran banyak yang tersedot menjadi birokrat. Tetapi, saya juga tidak menampik motif karir seseorang di Indonesia adalah menjadi seorang birokrat,” paparnya.

Padahal kalau di AS, masih menurut Prof. Ali Sulaiman, jabatan direktur RS itu sama halnya dengan seorang dokter spesialis. Sebab kalau seorang peneliti menjadi direktur atau birokrat maka hilang pula segala pengetahuan spesialis yang dimilikinya.”Yang kehilangan bukan hanya kita. Fakultas kehilangan dan negara kehilangan, semua kehilangan,” tambah pria yang dikaruniai 3 anak laki-laki dan satu perempuan itu.

Yang dirasakan Prof. Ali Sulaiman ketika menjadi Dekan FKUI dulu, ia banyak mengirimkan kandidat PhD ke luar negeri. Ketika kembali ternyata para PhD tersebut tidak bisa melakukan apa-apa karena fasilitasnya tidak disiapkan. Kedua, masalah kompensasi juga tidak memadai. Akhirnya mereka bekerja tidak sesuai dengan yang dipelajarinya. “ Dengan ABG ini saya harapkan memang betul-betul akan tercipta riset terapan, dananya tersedia dan ada kompensasi bagi yang mengerjakannya,” tegasnya.

Masalahnya untuk membuat riset terapan yang bagus diperlukan fasilitas dan dana yang besar. Dan waktu itu tidak ada yang bersedia menjadi penyandang dana. Pengalamannya ketika hendak melakukan Mapping Hepatitis B di Indonesia maka ia setengah mati mencari pihak yang mau mendanai. Akhirnya, ia memperoleh bantuan dana dari NAMRU2 (Naval Medical Research Unit-2 ) milik Angkatan Laut AS yang beroperasi di Asia Pasifik.

Pria yang meraih gelar doktor di Universitas Kobe Jepang tahun 1989 itu merasa iri dengan RRC yang memiliki tradisi pengobatan herbal dan memperoleh dukungan kuat dari pemerintah. Sementara, di pihak Indonesia terdapat sekitar 1500 tanaman obat dan berkhasiat obat yang belum terjamah penelitian. Sungguh berbeda dengan RRC dan Korea Selatan rajin melakukan penelitian dan memanfaatkannya untuk industri jamu dan farmasi mereka. “Saya pernah berkunjung ke pabrik herbal RRC. Ternyata mereka memiliki kerjasama yang erat dengan universitas,” ujarnya. Bagaimana pendapat Anda sebagai orang awam? (ASW)

Thursday, July 26, 2007

Apalagi Setelah Sintesa Curcumin?





Topik : Academic- Business

Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman dan 940 spesies di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat atau digunakan sebagai bahan obat (sumber : Departemen Pertanian, 1990). Keanekaragaman hayati Indonesia tersebut diperkirakan terkaya kedua di dunia setelah Brazil dan terutama tersebar di masing-masing pulau-pulau besar di Indonesia.

Sayangnya penelitian mengenai zat-zat yang terkandung dalam tanaman obat masih jarang dilakukan karena tiadanya tradisi riset di sini. Ujung-ujungnya keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia tidak mampu memberikan berkah kesejahteraan bagi penghuninya. Tidak mengherankan bila perusahaan-perusahaan asing yang lebih menuai manfaat besar dari kealpaan dan kelalaian kita untuk melakukan R&D dengan sungguh-sungguh.

Beruntung saat ini kondisi mulai pelan-pelan berubah. Berkat skema kerjasama universitas dan dunia usaha, Nunung Yuniarti Dosen dan Peneliti dari Fakultas Farmasi UGM berhasil membuat sintesa kunyit (Curcumin) yang disebut sebagai Gamavuton-0 dan memperoleh hak paten atas temuan tersebut. Nama “Gama” diambil dari Gajah Mada, “vu” dari Vrije Universiteit yakni nama universitas asal sang mentor dari Belanda (Prof. dr. Henk Timmerman) dan “ton” dari nama keton, salah satu ikatan kimia penyusunnya.

Pembuatan Sintesis Curcumin merupakan upaya para peneliti untuk menguak rahasia yang terkandung dalam kunyit. Kunyit (Curcuma longa Linn. atau Curcuma domestic Val. ) termasuk salah satu tanaman rempah dan obat, habitat asli tanaman ini meliputi wilayah Asia khususnya Asia Tenggara.

Tanaman ini kemudian mengalami persebaran ke daerah Indo-Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan . kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di negara-negara Asia. Kunyit sering digunakan dalam masakan sejenis gulai dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan.

Sejak turun temurun kunyit terbukti untuk berbagai pengobatan tradisional namun belum diketahui alasan ilmiahnya. Padahal tanpa mengetahui komposisi zat yang terkandung, pengobatan belum tentu berhasil untuk setiap orang bahkan mungkin memperparah.

Hal itu yang terjadi pada Jahe yang ternyata mengandung dua senyawa yang saling bertentangan yakni Gingerol dan Shogaol. Gingerol baik untuk tubuh, tetapi Shogaol kurang baik bagi tubuh karena memicu sariawan dan nyeri lambung.

Jahe sudah dikenal masyarakat Indonesia memiliki khasiat obat. Tidak heran bila masyarakat kita mengonsumsinya dalam bentuk wedang jahe, permen jahe dan bandrek. Orang Inggris pun akrab dengan minuman Ginger Beer dan Ginger Ale.

Di pasar dunia, Jahe diperjualbelikan dalam bentuk segar, kering, rajangan maupun kristal. Selain Jahe Indonesia ada pula varietas Jahe Afrika dan Jahe Cina.

Manfaat Jahe, berdasarkan sejumlah penelitian, antara lain merangsang pelepasan hormon adrenalin, memperlebar pembuluh darah, sehingga darah mengalir lebih cepat dan lancar. Tubuh pun menjadi lebih hangat dan kerja jantung memompa darah lebih ringan. Akibatnya tekanan darah menjadi turun.

Sebelumnya Perusahaan Asing Menikmati Berkah R&D

Perusahaan farmasi Ferrosan dari Denmark, misalnya, diketahui telah mematenkan temuan mereka setelah dr. Morten S Weidner dengan teknologi Lippocell berhasil memisahkan senyawa Gingerol dan Shogaol yang terdapat dalam Jahe ( Zingiber officinale sp.) Komponen aktif tersebut kemudian memperoleh paten sebagai alternatif penghilang nyeri sendi tanpa disertai nyeri lambung.

Terdapat dua enzim pencernaan penting dalam Jahe. Pertama, protease yang berfungsi memecah protein. Kedua, lipase yang berfungsi mengurai lemak. Kedua enzim ini membantu tubuh mencerna dan menyerap makanan. Pula meringankan kram perut saat menstruasi atau kram akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak.

Jahe juga merupakan pereda rasa sakit yang alami dan dapat meredakan nyeri rematik dan encok.

Terdapat seratus lebih penyakit rematik yang mencakup sistem lokomotor tubuh seperti tulang, sendi, otot serta tendon atau pun jaringan ikat. Penyakit ini bervariasi mulai dari nyeri pinggang bagian bawah secara tiba-tiba, nyeri di persendian (osteoarthritis) sampai rheumatoid arthritis.

Jahe sekurangnya mengandung 19 komponen bioaktif yang berguna bagi tubuh. Komponen yang paling utama adalah Gingerol yang bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke dan serangan jantung. Gingerol juga membantu menurunkan kadar kolesterol.

Selain komponen bioaktif yang berguna dalam Jahe ada pula komponen yang berbahaya bagi tubuh yang disebut Shogaol. Senyawa ini dapat menyebabkan sariawan dan sakit lambung. Tanda-tanda terdapatnya zat ini dalam Jahe adalah rasa pedas dan panas. Semakin pedas Jahe berarti semakin banyak kandungan Shogoal di dalamnya. Jahe asal Indonesia dikenal memiliki kandungan Shogaol yang besar. Selain itu, salah kaprah pasca panen, dengan menjemur Jahe di bawah terik sinar matahari ternyata mampu merusak kandungan Gingerol dalam Jahe hingga 80 persen. Akibatnya, Jahe asal Indonesia kurang diminati produsen luar negeri.

Leukotrienes dan Prostaglandin

Ketika peradangan terjadi pada persendian, itu merupakan reaksi tubuh dalam sistem autoimun yang mengeluarkan zat bernama leukotrienes dan prostaglandin. Kedua zat ini menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan (radang) pada daerah persendian.

Cara pengobatan konvensional umumnya menggunakan obat anti rematik yang tergolong NSAID (Nonsteriodal Anti Inflammatory Drugs) yaitu pengobatan yang menghilangan rasa nyeri dan peradangan. Hasilnya? Penyakit rematik memang hilang. Tetapi kemudian timbul efek samping berupa nyeri lambung dan risiko kerusakan ginjal. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena NSAID selain memblok prostagladin yang menimbulkan rasa nyeri, juga melakukan pemblokan pada sistem perlindungan tubuh khususnya proteksi lambung dan ginjal. Hasilnya nyeri sendi hilang, nyeri lambung datang. Jahe dengan kandungan Gingerol tanpa Shogaol mampu memblokir prostaglandin dan leukotrienes tanpa mengganggu proteksi lambung dan ginjal.

Semuanya Melalui R&D

Hanya melalui aktivitas R&D senyawa-senyawa seperti yang ada pada Jahe itu dapat diketahui dan diisolasi. Kita masih memiliki banyak lagi tanaman obat yang dapat diteliti senyawa-senyawa yang terkandung di dalamnya mulai dari Temulawak, Lengkuas, Pala, Biji Pala, Kencur, Biji Adas, Sereh, Temu Kunci, Lengkuas, Kapulaga dan sebagainya.

Bahkan, buah Maja (Aeglis marmelosi Fructus) yang menjadi asal usul nama Kerajaan Majapahit pada abad ke 13 Masehi karena rasanya yang pahit sampai sekarang pun belum diselidiki senyawa apa saja yang terkandung di dalamnya. Tuhan Yang Maha Esa tentu menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya. Selama ini buah tersebut seolah tersia-siakan.

Buah yang oleh orang Betawi disebut Brenuk itu dihasilkan dari pohon yang tingginya mencapai 10-15 meter. Batang berkayu, bulat, bercabang, berduri, berwarna putih kekuningan. Daunnya tersebar pada batang muda, lonjong, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi atau berlekuk, panjang 4-13,5 cm, lebar 2-3,5 cm, berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, panjang 1-1,5 cm, berwarna putih. Buahnya bentuk bola, diameter 5-12 cm, berdaging, berwarna cokelat. Bijinya pipih berwarna hitam.

Apakah kita akan berdiam diri saja kemudian nanti ramai-ramai mempersoalkannya tatkala perusahaan asing melakukan R&D dan mematenkan temuan senyawa-senyawa baru yang ternyata berkhasiat menyembuhkan penyakit. Bagaimana pendapat Anda sebagai pembaca awam? (ASW)

Wednesday, July 25, 2007

Mengenal Lebih Jauh Sosok Prof. Henk Timmerman


Topik : Academic


Prof. dr. Henk Timmerman selama dua hari berturut-turut, Minggu dan Senin (22 dan 23 Juli 2007) , tampil menjadi bintang diskusi dan seminar di kalangan ABG Farmasi.

Yang pertama dalam dinner talk dengan tema “Memperat Kerja Sama Akademi, Bisnis dan Government (ABG) untuk Kemajuan Bangsa” di Hotel Four Season Jakarta dan yang kedua di acara Seminar Sehari GP Farmasi di Gedung Widya Graha LIPI.

Siapakah sesungguhnya dia? Prof. dr. Timmerman adalah pakar kimia medisinal terkemuka di Belanda yang pernah mengajar di Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda selama 15 tahun sejak 1980. Ia kini tinggal bersama istri tercinta di sebuah kota kecil tak jauh dari kota Leiden, Belanda.

Kimia medisinal atau farmakokimia adalah ilmu untuk merancang struktur senyawa obat, menyintesisnya, serta mengevaluasi aktivitasnya terhadap penyakit. Dengan ilmu ini struktur senyawa obat dapat dirancang dengan lebih akurat sehingga aktivitasnya diharapkan dapat lebih tinggi dan efek sampingnya dapat dikurangi.

Disiplin ilmu ini dinamakan kimia medisinal atau farmakokimia karena pada mulanya merupakan paduan ilmu kimia dan farmasi. Dalam 10 tahun terakhir kimia medisinal berkembang maju dengan diterapkannya program komputer pada tahap perancangan struktur senyawa obat.

"Program ini mempercepat penemuan struktur senyawa obat yang cocok bagi tubuh manusia serta menghemat biaya sintesis dan pengujian obat, sehingga penyediaan obat bagi masyarakat Indonesia dapat berlangsung lebih efisien," jelas Ketua LIPI Prof. Drs. Umar Anggara Jenie, Apt.

Pria kelahiran tahun 1937 itu dikenal kimiawan medisinal Indonesia setelah memberikan bantuan untuk riset kimia Curcumin (Kunyit) pada Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada. Berkat bantuannya kerjasama Fakultas Farmasi UGM dan dua institusi bisnis PT Indofarma dan PT Kalbe Farma berhasil mengembangkan turunan Curcumin berupa Pentagamavunon (PGV), Hexagamavunan (HGV) and Gamavuton (GVT) dan memperoleh hak paten di AS.

Prof. Timmerman sebagai pakar farmakokimia selalu menekankan agar kita tidak terlalu berharap terhadap munculnya obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Saat ini para ahli biologi molekuler yang melakukan berbagai riset genetika percaya bahwa dengan rekayasa genetika manusia akan mampu menyembuhkan segala penyakit. “Lebih dari 50 tahun lalu ketika kimia organik sintetis sedang naik daun, para ahli percaya akan adanya era berakhirnya segala macam penyakit. Kemudian tahun 1960-an ketika para ahli farmakologi baru saja menemukan berbagai reseptor mereka memperkirakan bahwa kanker dapat disembuhkan pada tahun 2000.”

Sekarang optmisme tumbuh lagi dengan keberhasilan manusia memetakan gen manusia dalam proyek Genome bahwa semua penyakit pada akhirnya bisa diatasi. Tetapi, imbuh Timmerman, mereka lupa bahwa pada 1960-an orang juga belum mengenal adanya HIV dan AIDS, temuan H2-antagonist, ACE-blockers dan proton pump inhibitor belum muncul dan kata-kata seperti COX, prostagladin dan protease inhibitor sama sekali belum pernah terdengar.

“Ambil contoh mengenai penyakit asma. Pada tahun 1960-an para ilmuwan berkesimpulan bahwa antihestamin yang merupakan penyebabnya. Tetapi kita sekarang tahu bahwa banyak faktor penyebab penyakit itu. Peradangan, misalnya, merupakan salah satu penyebab. Oleh karena itu, asma saya anggap sebagai “dirty desease” sehingga tidak bisa diobati dengan satu obat tunggal,” ujarnya.

Prof. Timmerman yang datang pertama kali ke Indonesia 25 tahun lalu melihat bahwa di Indonesia, riset belum menjadi budaya dan masih diabaikan kalangan ABG (Academic, Business, Government). Oleh karena itu, ia menyarankan agar Indonesia segera memiliki universitas riset yang sesungguhnya. Sedangkan dari dunia bisnis, ia mengharapkan bersedia bekerjasama erat dengan universitas dan dunia internasional. Caranya? Dengan melakukan fokus pada beberapa jenis riset yang bisa langsung diterapkan.

Baru-baru ini Prof. Timmerman menjadi sponsor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk memberikan penghargaan bagi kimiawan medisinal Indonesia yang berprestasi. Penghargaan berupa The Henk Timmerman Award senilai 1.000 dollar AS itu diberikan hanya kepada seorang kimiawan medisinal yang menunjukkan riset terbaik di bidang kimia medisinal berupa paten dan publikasi ilmiah.

Di tahun 2007 ini Henk Timmerman Award dianugerahkan kepada Nunung Yuniarti (28 tahun) dosen Fakultas Farmasi UGM . Nunung dibawah bimbingan Prof. Supardjo berhasil menemukan sintesa Curcumin dengan nama Gamavuton-0. Temuan pada 2003 itu telah dipatenkan di AS pada tahun 2004. Bahkan, dalam penelitian selanjutnya ditemukan pula senyawa Kalium Dehidrozineton yang berkhasiat sebagai bahan anti peradangan, pereda rasa sakit dan anti mikroba. Temuan ini telah dipatenkan di Indonesia tahun 2005.

Prof. Timmerman datang ke Indonesia didampingi istri tercinta. Ketika ditanya bagaimana kesannya tentang Jakarta kedua pasangan suami istri itu mengaku senang tinggal di Jakarta. "Tetapi kami berdua lebih betah tinggal di Yogyakarta atau Bandung yang kondisi lalu lintasnya tidak seramai Jakarta.” Bagaimana pendapat Anda sebagai orang awam? (ASW)

Tuesday, July 24, 2007

Ketika Menristek Melakukan Sosialisasi PP No. 35/2007




Topik : Government



Bagaimana bila Menristek Kusmayanto Kadiman melakukan sosialisasi dan konferensi pers PP No.35 Tahun 2007? Acara yang diselenggarakan di Ruang Komisi Utama, Lt.3, Gedung II BPPT di bilangan Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat itu ternyata berlangsung seperti layaknya acara jumpa selebritis. Mengapa demikian? Karena hampir semua wakil ABG hadir dengan penuh antusias di acara tersebut. Tapi, jangan salah mengerti yang dimaksud ABG disini bukan Anak Baru Gede melainkan akronim dari istilah Academic, Business, Government.

Dari kalangan akademisi tampak hadir Rektor Unpad, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, D.E.A serta Dekan FISIP UI Prof. Gumilar R. Somantri yang baru saja terpilih sebagai Rektor UI baru untuk masa bakti 2007-2012.

Dari kalangan bisnis turut hadir wakil-wakil dari BUMN dan berbagai sektor industri seperti industri elektronik, komponen otomotif dan farmasi serta tak ketinggalan wakil dari perusahaan negeri jiran Malaysia.

Sementara dari kalangan pemerintahan hadir wakil-wakil dari kementerian BUMN, Depertemen Keuangan dan pemda DKI dan Jawa Barat. Alhasil inilah acara sosialisasi dan konferensi pers yang paling meriah yang pernah diselenggarakan Kantor Kementerian Riset dan Teknologi itu.

Belum puas dengan itu semua Menristek Kusmayanto tampil pula sebagai panelis didampingi Ir. Muhammad Said Didu (Sekretaris Kementerian Negara BUMN) , Ir. Rachmat Gobel (Wakil Ketua KADIN), Permana Agung Daradjatun (Inspektur Jendral Depkeu), Drs. Djonifar Abdul Fatah, MA (Direktur Peraturan Perpajakan II) dan Drs. Hanafi Usman (Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai). Mereka berenam dengan sigap menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan hadirin sehubungan dengan diluncurkannya PP No. 35 Tahun 2007 itu.

Latar Belakang

Dengan diundangkannya Undang-Undang No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian dan Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada tanggal 29 Juli 2002, Pemerintah bertekad untuk memperkuat tatanan dan keterkaitan unsur kelembagaan di perguruan tinggi, lembaga litbang maupun badan usaha, sumberdaya dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil kegiatan penelitian, pengembangan dan penerpan iptek yang banyak dilakukan di perguruan tinggi dan lembaga litbang perlu lebih dimasyarakatkan , sehingga penguasaan iptek lebih mengalir menjadi produk-produk yang dapat mendukung kebutuhan pembangunan nasional serta dapat meningkatkan daya saing dan mewujudkan kemandirian bangsa. Hal inilah yang menjadi dasar strategi pengembangan iptek dalam menghadapi berbagai tantangan jangka panjang yang dampaknya tidak hanya untuk generasi masa kini tetapi juga untuk generasi mendatang.

Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kerangka Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tidak terlepas dari peran badan usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan ilmu pengetahun dan teknologi. Badan usaha mempunyai fungsi penting di dalam menumbuhkan kemampuan perekayasaan, inovasi dan difusi teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomis.Oleh karena itu, Badan Usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab pula untuk meningkatkan secara berkelanjutan dan terus-menerus daya guna dan nilai guna sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya.

Penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi di sektor usaha diharapkan akan meningkatkan rantai pasokan (supply chain), baik melalui peningkatan kebutuhan masyarakat (tarikan pasar) yang pada gilirannya akan meningkatkan pula inovasi (technology push) sebagai upaya untuk mengubah perilaku masyarakat. Pada tahap inilah penguasaan kemampuan perekayasaan, inovasi dan difusi teknologi menjadi sangat penting. Dengan demikian adanya peraturan pemerintah ini bukan untuk menghambat kegiatan usaha, tetapi untuk lebih meningkatkan partisipasi dunia usaha ke dalam kegiatan-kegiatan perekayasaan, inovasi dan difusi teknologi sebagai upaya meningkatkan daya saing dan kemandirian nasional dalam perdagangan internasional.

Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan , Inovasi dan Difusi Teknologi merupakan salah satu peraturan perundang-undangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah selesai disusun. Sebelumnya dua Peraturan Pemerintah telah dikeluarkan, yaitu Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang dan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2006 tentang perizinan Melakukan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing, Badan Usaha Asing dan Orang Asing. Dengan diterbitkannya tiga peraturan pemerintah tersebut diharapkan upaya percepatan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dilaksanakan dengan lebih baik sebagaimana diamanatkan UU No. 18/ 2002 tersebut di atas.

Melalui aturan itu maka perusahaan yang melakukan R&D untuk kepentingan perusahaan sendiri akan memperoleh "insentif sebagian" sementara bila R&D itu utuk diberikan kepada khalayak luas maka akan diberikan "insentif sepenuhnya (100%)".

Berbagai Tanggapan

Sebagian besar peserta menyambut dengan gembira keluarnya PP No.35 tahun 2007. Namun mereka juga menuntut agar aturan tersebut ditindaklanjuti dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang jelas. Mereka mempertanyakan apakah insentif yang diberikan itu dapat diukur keberhasilannya. Selain itu, kata "dapat" yang dipakai dalam PP tersebut masih bersifat rancu dan multi tafsir sehingga harus dijabarkan secara rinci.

Ir. Muhammad Said Didu dari Kementerian Negara BUMN menyoroti implikasi hukum dari PP tersebut. Kepada pihak penegak hukum seperti polisi, jaksa dan hakim perlu dilakukan pula sosialisasi PP tersebut agar mereka mengerti pula bagaimana PP tersebut diterapkan dengan benar dan pihak mana pula yang melakukan kecurangan dengan memanfaatkan PP tersebut.

Dari pihak Departemen Keuangan berikut instansi pajak dan bea cukai yang sedang melakukan reformasi birokrasi mereka menyadari bahwa aturan itu memiliki dua sisi yakni Potential Revenue sekaligus Revenue Forgone. Artinya, PP tersebut mengandung peluang sekaligus ancaman. "Ibarat orang bermain ski di atas danau yang beku maka keselamatan seseorang tergantung sekali pada kecepatan berski yang dilakukan," ujar Irjen Depkeu Permana Agung Daradjatun melakukan perumpamaan.

Menanggapi peluang untuk mencurangi PP itu, Daradjatun menambahkan bahwa "Corruption" adalah masalah "Crime of Calculation". Jadi meskipun pelaku korupsi diancam hukuman mati sekalipun tetapi jika probabilitas seseorang yang melakukan korupsi untuk ditangkap dan masuk penjara amat kecil (bisa bebas dengan mudah) maka korupsi akan tetap marak terjadi.

Menjawab soal penilaian keberhasilan insentif dan pihak mana yang berhak atas insentif "sebagian" dan "sepenuhnya" maka Menristek akan membentuk sebuah badan independen yang akan menilai kelayakan sebuah institusi memperoleh insentif berdasarkan PP No. 35 Tahun 2007 itu. Bagaimana pendapat Anda sebagai orang awam terhadap PP baru tersebut? (ASW)

Monday, July 23, 2007

Tantangan, Peluang dan Inovasi melalui R&D di Industri Farmasi


Topik : Academic, Business

Dinamika ekonomi di pasar, dinamika internal ilmu pengetahuan mengenai produksi serta peran pemerintah sebagai penghubung di berbagai tingkatan berbeda telah memicu terjadinya kerjasama Triple Helix yang melibatkan tiga sektor yakni institusi akademis (A, Academic), kalangan bisnis (B, Business) dan pemerintah (G, Government).

Demikian dikemukakan Ketua LIPI Prof. Drs. Umar Anggara Jenie, Apt dalam seminar sehari bertema " Challenges, Opportunities and Innovation through R&D in the Pharmaceutical Industries" yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GP Farmasi) di Gedung Widya Graha LIPI, Senin, 23 Juli 2007.

Seminar itu dibagi dalam tiga sesi dengan menampilkan pembicara seperti Prof. dr. Henk Timmerman dari Belanda, Prof. Dr. Amin Soebandrio dari Kantor Menristek, Ir. Arief Budi Witarto, PhD dari LIPI, dr. Boenjamin Setiawan, PhD dari Kalbe, Ir. Dudi Hidayat, MSc dari LIPI, Dr. Adi Santoso dari Bioteknologi LIPI, Dr. Agus Haryono dari Puslit Kimia LIPI dan Dr. Tenny Mart dari FMIPA Fisika UI.

Dalam makalahnya yang berjudul “Kegiatan R&D Pharmaco-Chemistry di Indonesia”, Umar A. Jenie menguraikan tiga jenis kerjasama R&D antara universitas dan industri yang dikenal di dunia yakni Model 2, Model 2 + 2 dan Model Triple Helix.

Model 2 adalah kerjasama universitas dan dunia usaha dalam negeri. Misalnya, hal ini diterapkan dalam kerjasama Fakultas Farmasi UGM, PT Indofarma dan PT Kalbe Farma dalam mengembangkan turunan Curcumin berupa Pentagamavunon (PGV), Hexagamavunan (HGV) and Gamavuton (GVT) dengan hasil berupa US Patent No: US 6,777,447 B2 a.n. Reksohadiprodjo et al. yang terdaftar sejak 17 Agustus 2004.

Model 2 +2 merupakan kerjasama universitas dan dunia usaha satu negara dengan universitas dan dunia usaha negara lainnya. Salah satunya kerjasama RC-Biotechnology LIPI + PT Kimia Farma dengan BMBF, Franhoufer GmbH + Sartorius Co dalam memproduksi Interferon-a 2a (IFN-a 2a), Human Serum Albumin (HSA) and Antibodi M-12 menggunakan teknik Molecular Farming.

Model Triple Helix ABG adalah model kerjasama tiga sektor yakni Akademis, Bisnis dan Pemerintah (G, Government). Keterlibatan G sangat diperlukan karena peraturan tentang prioritas seleksi riset dan pendanaan riset berada di tangan pemerintah. Peran utama G dalam model kerjasama Triple Helix adalah dalam hal peraturan dan aspek keuangan.

Selama akhir abad ke- 19 hingga akhir abad ke-20 universitas berkembang menjadi produsen ilmu pengetahuan yang berbeda di mata masyarakat. Universitas berubah menjadi “ menara gading” yang susah disentuh langsung oleh masyarakat. Peraturan universitas berubah menjadi tinjauan kualitas dan pengakuan akademis yang kemudian dikenal sebagai norma akademis universitas.

Kondisi universitas di abad ke-21 telah berubah. Menurut Umar A. Jennie mengutip pendapat Etzkovits H dan Leydesdorff L. (2000) saat ini ini universitas bergerak menuju model kewirausahaan dan meningkat perannya dalam perkembangan ekonomi melalui eksploitasi produk ilmu pengetahuan. Konsekuensinya relevansi ekonomi dan sosial harus menjadi bagian integral dari sistem normatif akademis.

Bila relevansi ekonomi dan sosial sudah menjadi bagian integral sistem normatif akademis, maka sekarang universitas bukan lagi merupakan institusi yang memproduksi ilmu pengetahuan tetapi bersama industri dan pemerintah menjadi sebuah instusi bagi penerapan pengetahuan produksi kepada masyarakat.

Jadi, ketiganya akhirnya saling tumpang tindih “Di mana yang satu mengambil alih peran yang lain dengan keterkaitan hubungan organisasi hibrida,” papar Umar Jenie.

Interaksi ABG tersebut menghasilkan Pusat Kerjasama (Cooperations Centers) di universitas, Aliansi Strategis (Strategic Alliance) di industri dan Pusat Inovasi Nasional (National Innovation Center) di pemerintahan. Sementara kerjasama saling berbagi di antara ABG ada tiga jenis pula yakni cost sharing, resources sharing dan brain/knowledge sharing.

Prof. Dr. Henk Timmerman dari Belanda dalam presentasinya berjudul “Targeted R&D Through Stucture Activity Relationship Studies” lebih banyak membahas tentang konsep selektivitas obat-obatan. Dikatakannya sebuah senyawa memenuhi kriteria selektivitas apabila senyawa itu memiliki efek terhadap satu sel tetapi tidak berpengaruh pada sel-sel lainnya. Ia juga membahas perihal efek samping obat yang diterangkan sangat teknis sekali lengkap dengan bagan biokimianya.

Sementara itu, Prof. Dr. Amin Subandrio dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi dengan makalah berjudul Difficulties Doing R&D in Indonesia menyoroti kondisi industri Indonesia yang lebih menekankan aktivitas down stream ketimbang up stream. Akibatnya aktivitas yang dilakukan hanyalah formulating (membuat formula), filling (mengisi) dan packaging (mengemas) saja tanpa adanya aktivitas R&D yang sesungguhnya.

Tidak mengherankan bila kemudian muncul fenomena “Tutuko” yang diambil dari istilah dalam bahasa Jawa, “Sing Teko Ora Tuku-tuku, Sing Tuku Ora Teko-teko” (Yang membeli tidak tertarik membeli dan yang membeli tidak tertarik untuk berkunjung).

Oleh karena itu, Amin Subandrio menawarkan strategi untuk industri farmasi dan kesehatan antara lain melalui peningkatan apresiasi dan promosi terhadap teknologi domestik untuk komersialisasi, peningkatan kesadaran publik tentang produk berbasis bahan alam, penciptaan iklim yang kondusif terhadap HaKI, keterlibatan institusi kesehatan dan obat luar negeri dalam transfer teknologi, peningkatan keterlibatan masyarakat dalam penentuan kebijakan mengenai pengembangan produk kesehatan dan obat serta peningkatan daya saing produk kesehatan dan obat dalam negeri.

Dr. Terry Mart dari Departemen Fisika FMIPA UI dengan makalah berjudul “ Tantangan dan Kesulitan melakukan penelitian di Indonesia” menekankan pentingnya kita untuk membedakan Riset Unggulan dan Riset Impian. “Riset Unggulan adalah riset di mana kita unggul dan mampu bersaing di skala internasional. Riset impian adalah riset di mana kita tidak unggul tetapi tetap ingin berkiprah,” tandasnya.

Pembicara lainnya Dr. Boenjamin Setiawan, PhD dengan makalah berjudul “Mengatasi Masalah R&D dengan kerjasama ABG memaparkan apa yang telah dikerjakannya di Laboratorium Kalbe dan Stem Cell and Cancer Institute (SCI) seperti melakukan R&D dalam drug delivery enteral dan transdermal drug delivery dengan menggunakan Franz Diffusion Cells. Pilihan jatuh pada topik penelitian itu karena memiliki beberapa keuntungan seperti ketersediaan literature dan referensi, peralatan R&D dan adanya bantuan dana penelitian.

Di bidang Stem Cell, dr. Boen sudah melakukan riset antara lain mouse embryonic stem cell ( SCNT), adult stem cell dari Peripheral Blood untuk Critical Limb Ischemia, Luka bakar, Cartilage, Stroke dan AMI dan Human Umbilical Cord Blood Xeno Free Expansion.

Sedangkan, dalam program penelitian kanker sudah dilakukan riset berupa cancer prevention program, molecular diagnosis and therapy, biomarkers dan therapeutic cancer vaccines.

Dr. Adi Santoso dari Bioteknologi LIPI menyajikan presentasi berjudul “Expression of Human erythropoletin in pichia Pastoris & Assesment of the biochemical & biological properties of the recombinant protein”.

Adi Santoso dikenal sebagai ilmuwan Indonesia yang berhasil memproduksi human erythropoletin (hEPO) yang berguna bagi penderita ginjal dan anemia dengan harga yang lebih murah. Ia menggegerkan jagat bioteknologi dunia berkat temuan produksi human erythropoietin (hEPO) dalam ragi dan tanaman barley (sejenis gandum). Ini temuan pertama di dunia. Bioteknolog Inggris dan Korea Selatan bahkan gagal mewujudkannya.

Temuan hEPO pada tanaman dan ragi disinyalir mampu mengubah wajah dunia kedokteran -- khususnya pengobatan anemia -- selamanya. Harga satu miligram hEPO kini dibanderol Rp 80 jutaan atau Rp 1 miliar per gram lantaran dibuat dari sel mamalia. Dampaknya, biaya cuci darah atau suntik hEPO bagi penderita anemia membumbung tinggi hingga Rp 24 juta per bulan.

Dengan hEPO berbasis media ragi (Pichia pastoris) dan tanaman barley, biaya produksi hEPO dapat ditekan menjadi sepersepuluh dari biaya yang diperlukan saat ini.

Paling tidak ada lima kesimpulan yang dapat diambil dari seminar sehari itu yakni :

  1. Kerjasama erat antara A (AKADEMI), B (BISNIS) dan GOVERNMENT (G) sangat diperlukan
  2. Pihak pemerintah harus menciptakan lingkungan yang kondusif untuk R&D
  3. R&D inovatif harus dirangsang dengan memberikan berbagai insentif (pajak, kepabeanan dll.)
  4. Industri harus menyediakan proyek penelitian untuk program S1,S2 dan S3 universitas
  5. Industri dan universitas harus kerjasama dalam R&D teraplikasi yang menghasilkan produk baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bagaimana pendapat Anda sebagai pembaca awam? (ASW)

Sunday, July 22, 2007

R&D Merupakan Ujung Tombak Kemajuan Sebuah Bangsa


Topik : Academic, Business, Government


Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
dan Kalbe menyelenggarakan “Dinner Talk” dengan tema “Memperat Kerja Sama Akademi, Bisnis dan Government (ABG) untuk Kemajuan Bangsa” di Presidential Suite Four Season Hotel pada Minggu malam, 22 Juli 2007. Acara ini hanya dihadiri tamu undangan terbatas setingkat CEO dan para akademisi terkemuka.

Dalam acara tersebut tampil tiga tokoh yang mewakili ABG (Academic, Business, Goverment) yakni Prof. Dr. Henk Timmerman dari Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda dengan presentasi “Some Observation on Performing Research” mewakili dunia akademis, Menristek Dr.Ir. Kusmayanto Kadiman dengan presentasi berjudul “Program Inovasi Nasional Melalui R&D” mewakili kalangan pemerintah dan dr. Boenjamin Setiawan, PhD mewakili dunia usaha dengan materi presentasi “ Inovasi Melalui R&D dengan mempererat kerjasama ABG.”

Dikemukakan Prof. Timmerman, ketika ia datang ke Indonesia 25 tahun lalu, apa yang dilihatnya di dunia universitas Indonesia praktis tidak ada riset. Yang ada hanya kuliah tetapi tanpa didukung riset. Hanya sedikit pelatihan praktis dengan infrastuktur dan fasilitas sangat minim. Tenaga penelitinya tidak memiliki ketrampilan dasar serta tidak memiliki kontak dengan dunia internasional. Semua itu akibat tidak adanya tradisi riset di Indonesia.

Bagaimana dengan kondisi saat ini? “Di tingkat universitas ada perubahan dari tingkat proyek ke program,” tutur Prof. Timmerman. Sayangnya, orang-orang terbaik di universitas seringkali dipromosikan untuk menduduki jabatan birokrasi penting di Jakarta. Sebagai akibatnya universitas kekurangan kader-kader terbaiknya di bidang riset. Sementara itu, di dunia usaha lebih tidak jelas lagi dalam hal inovasi, pembiayaan dan kerjasama dengan dunia akadenis.

Prof. Timmerman akhirnya memberikan saran agar Indonesia mulai mengembangkan universitas riset. Selanjutnya ia menyarankan agar merekrut orang-orang terbaik di bidang riset dan berikan mereka imbalan yang bagus. Mulai melakukan riset yang tujuannya dijabarkan dengan jelas dan memungkinkan untuk dikerjakan. Kemudian temukan perimbangan yang tepat antara riset ilmu dasar dan ilmu terapan. Danai proyek tersebut untuk jangka panjang dan lakukan hubungan dengan dunia internasional. Jangan lupa pula menerbitkan publikasi mengenai riset-riset yang telah dilakukan.

Sebagai gambaran Prof. Timmerman menyajikan data mengenai lulusan S3 yang berhasil dicetak berbagai Negara. AS pada 1983 mencetak 19.274 doktor dan pada 2003 menghasilkan 26.894. Eropa dari 25.000 (1983) menjadi 50.000 (2003). India dari 6.597 menjadi 13.733.Jepang dari 7.233 menjadi 16.314. Korsel dari 845 menjadi 6.690. Sedangkan, RRC kurang dari 125 pada 1983 menjadi lebih dari 8200 pada 2003.

Sedangkan, sarannya bagi dunia bisnis, diharapkan mereka mau bekerjasama erat dengan dunia akademis dan internasional. Lakukan fokus pada beberapa jenis riset saja yang bisa langsung diterapkan.

Pada kesempatan berikutnya Menristek Kusmayanto Kadiman mengemukakan berbagai peraturan pemerintah yang telah disusunnya. Misalnya, dulu perguruan tinggi yang bekerjasama dengan pihak swasta maka dananya berdasarkan UU APBN harus disetorkan kepada pemerintah karena pemerintah dianggap sudah membiayainya. Akibatnya, universitas tidak memiliki dana penelitian itu. Sekarang berdasarkan PP No. 20/2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan maka dana dari pihak swasta tersebut boleh dibelanjakan . Sedangkan PP No. 41/2006 mengatur kerjasama penelitian dengan pihak asing untuk memberdayakan para peneliti Indonesia agar tetap berhak atas paten dan publikasi ilmiah. Oleh karena itu, pihak asing yang melakukan penelitian di Indonesia diwajibkan memiliki local partner sekaligus equal partner.

Yang paling gres adalah PP No. 35/2007 tentang pengalokasian sebagian pendapatan badan usaha untuk peningkatan kemampuan perekayasaan, inovasi dan difusi teknologi. Intinya adalah pemberian insentif pajak dan kepabeanan bagi industri yang melakukan kegiatan R&D.

Tentang konsep ABG yang dirintisnya. “Saya sengaja menggunakan triple helix ABG agar terdengar lebih keren, “ ujar Kusmayanto,”Saya juga suka dengan semangat ABG (Anak Baru Gede) yang selalu kompak dan resources share (berbagi bersama) yang justru hilang saat seseorang sudah menjadi dewasa.”

Sementara itu, pada sesi terakhir dr. Boenjamin Setiawan, PhD dari Kalbe Farma menyampaikan presentasi berjudul “Inovasi Melalui R&D dengan Mempererat Kerjasama antara Dunia Akademis, Bisnis dan Government.”

Mengapa harus ada kerjasama di antara ABG? Menurut dr. Boen universitas merupakan tempat pelatihan paling penting untuk meningkatkan SDM. Sementara peningkatan SDM merupakan kunci untuk menghapus kemiskinan. Universitas adalah pemasok SDM dan industri adalah tempat menampung dan mengembangkan SDM selanjutnya. Universitas adalah tempat untuk mengembangkan R&D ilmu dasar dan terapan.

Bagaimana dengan peran pemerintah? Bagi dr. Boen pemerintah adalah katalisator untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk R&D yang inovatif di universitas maupun industri.

Oleh karena itu, di luar negeri untuk mempererat kerjasama ABG dibentuk University-Industry- Cooperative Research Organization. Untuk itu, industri harus membuka diri dengan memberikan kuliah tamu di universitas, memberikan beasiswa dan kesempatan R&D kepada para mahasiswa. Dana penelitian industri harus 50% dari semua biaya penelitian total (pemerintah 45%, industri 50% dan universitas 5%).

Indonesia bersama Filipina menempati urutan paling belakang dalam Business & Growth Competitive Rangking. Dalam peringkat daya saing dunia tahun 2004 Indonesia menempati rangking ke-60 jauh tertinggal dibandingkan Singapura (rangking 2 ), Malaysia (rangking 16), Thailand (29) dan Filipina (52).

Bagaimana dengan orang yang bekerja di R&D di tiap Negara? Pada tahun 2005, AS menempati peringkat pertama dengan 1. 328.413 orang, disusul RCC dengan 820.685 orang, Jepang (649.680 orang). Bagaimana dengan Indonesia? Agaknya ini merupakan tugas Menristek untuk menghitungnya tetapi dalam perkiraan dr. Boen ada sekitar 10.000 orang.

Sehubungan dengan PP No. 35/2007 yang diluncurkan Menristek baru-baru ini maka dr. Boen menyarankan agar selain insentif perpajakan, kepabeanan serta bantuan teknis R&D sebaiknya diberikan pula Double Deduction Tax Incentive seperti yang telah dilakukan Malaysia. “Ini akan lebih merangsang dunia industri untuk melakukan R&D,” ujar dr. Boen beralasan.

Asumsi yang dilakukan dr. Boen dengan kalkulasi apabila APBN setiap tahun naik 7%, dana riset naik 20 %-100 % per tahun, dana industri naik 40 %- 100 % setiap tahun dan GDP meningkat 7 % per tahun. Maka bila pada tahun 2007 dana APBN sebesar Rp 730 triliun, dana ristek Rp 1 trilun dan GDP 3500 maka dana R&D Indonesia saat ini hanya 0,042 % dari GDP. “Sangat kecil sekali, “ ungkapnya.

Bila asumsi dasarnya diterapkan pemerintah maka pada 2015 nilai APBN Indonesia Rp 1.370 triliun, dana ristek 20 % dan GDP mencapai 5940 maka pada saat itu dana R&D Indonesia bisa mencapai 1% dari GDP.

Menurut dr. Boen, R&D merupakan ujung tombak kemajuan sebuah bangsa. Bangsa Israel mengalokasikan 4,5 % dari GDP untuk R&D, Swedia 4% dan Finladia 6,6%. Hasilnya? “Kemajuan teknologi negara-negara itu berkembang pesat. Finladia yang berpenduduk sedikit sangat dikenal dengan pabrik Nokia yang memiliki teknologi canggih di bidang ponsel,” katanya.

Bangsa Asia pun diramalkan akan mencapai kemanjuan pesat di abad 21 ini karena melakukan investasi yang besar di bidang R&D. Mereka dalah RRC, Jepang, India, Korsel dan Taiwan. Bila tak ingin ketinggalan Indonesia pun harus segera mulai dari sekarang melakukan R&D melalui kerjasama ABG. Bagaimana pendapat Anda sebagai orang awam? (ASW)

Friday, July 20, 2007

Menjadi Hebat Berkat LUCKY dan DJITU



Topik : Business


Jaringan toko obat AS, Walgreens, adalah sebuah perusahaan kuno yang selama empat dasawarsa menerapkan pasar umum dalam kinerjanya. Tahun 1975 perusahaan itu berhasil meningkatkan kinerja perusahaan dan mulai meraih sukses luar biasa. Dari tahun 1975 hingga tahun 2000, Walgreens telah mencatat kinerja di pasar saham hingga 15 kali lipat. Prestasinya mampu mengalahkan perusahaan teknologi Intel yang hanya mampu meningkat dua kali lipat, General Electric meningkat lima kali lipat dan Coca-Cola delapan kali lipat.

Penjelasan apakah yang bisa menerangkan perusahaan itu dapat naik mendadak dan terus-menerus, keluar dari keadaan yang sedang-sedang saja? Jim Collins memulai riset selama lima tahun untuk mencari tahu. Dari daftar 11 perusahaan yang ia teliti, kesimpulannya dituangkan dalam buku “Good to Great : Why Some Companies Make the Leap … And Others Don’t.” Keunggulan perusahaan diukur dalam jangka waktu sedikitnya 15 tahun. Perusahaan yang Jim teliti antara lain Fannie Mac (hipotek financial), Gillete (silet), Kimberley-Clark (popok bayi dan tissue kertas), Kroger (pasar swalayan berdiskon), Nucor (baja), Philip Morris (rokok, cokelat, kopi) dan Pitney Bowes (peralatan kantor).

Seperti halnya penelitian yang dilakukan Jim Collins lewat buku laris sebelumnya yakni “Built to Last” ia memberikan perusahaan-perusahaan itu pembanding yang sepadan pula. Walgreens, misalnya, memiliki pembanding jaringan toko obat Eckerd.

Walgreens tidak hanya lebih baik dan unggul tetapi juga hebat. Walgreens punya konsep sendiri tentang yang terbaik dan hebat yaitu toko obat yang berlokasi di tempat yang nyaman, dengan keuntungan tinggi untuk setiap kunjungan konsumennya.


Pelajaran yang ditekankan Jim Collins : “Jangan merasa puas karena semata-mata baik atau unggul. Tentukan apa yang diperlukan untuk menjadi hebat.”

Dua tokoh di industri farmasi yang bersahabat sejak sama-sama kuliah di bangku Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yakni dr. Kahar Tjandra (Mahakam) dan dr. Boenjamin Setiawan (Kalbe) seperti halnya Jim Collins ternyata juga tidak puas untuk sekadar menjadi baik atau unggul. Mereka selalu berupaya untuk menjadi hebat di bidang masing-masing.

Berdasarkan catatan harian Kompas, dr. Kahar Tjandra lahir di Padang, Sumatera Barat, 24 November 1929. Ayahnya, Hardi Sjarif, dan ibunya, Noviar Sjarif, membesarkannya di Sawahlunto. Ia bersekolah hingga kelas 7, sempat terhenti sebelum kemudian menamatkannya di sekolah Jepang. Karena tidak ada SMP di kota kecil itu, ia pun bertani, memelihara ayam, membuat tambak ikan, dan menjual hasilnya.

Tahun 1948, Tjandra diantarkan ayahnya ke Padang untuk melanjutkan sekolah SMP dan dititipkan di rumah neneknya. Di belakang rumah neneknya ada kebun sangat luas. Ada pohon pisang dan kelapa di sana. Ia menjual buah pisang dan daunnya, juga buah kelapa, dengan gerobak dorong. Kacang asin dan cuka juga dijualnya.

Ketika masuk SMA, Tjandra memilih sekolah di Jakarta. Ayahnya meminta dipindahkan tugas ke Jakarta untuk menemaninya. Waktu SMA Tjandra menjadi tukang catut skuter. Saya membeli tiga skuter. Uang mukanya cuma sepersepuluh. Enam bulan kemudian ketika pesanan datang harga langsung naik. Ia pun menjual suratnya. Dua skuter dijualnya, sedang yang satu diperolehnya secara gratis. Waktu kuliah di FKUI, Tjandra terus berdagang.

Sejak kecil cita-citanya menjadi arsitek. Namun, karena jurusan arsitektur ada di ITB Bandung, ia batal kuliah arsitek. Karena di Jakarta yang paling top dan bergengsi saat itu adalah kedokteran, maka masuklah Kahar Tjandra ke FKUI. Setelah lulus kedokteran melanjutkan spesialisasi laboratorium.

Dia sempat menjadi dokter Departemen Kesehatan, lalu masuk wajib militer dan menjadi dokter berpangkat letnan satu di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD yang sekarang bernama Koppasus). Setelah itu, ia berkarya di RSCM Cipto Mangunkusumo selama 20 tahun sembari mengajar di FKUI.

Ia membuka Apotik Mahakam tahun 1967. Setelah pensiun, Tjandra menggeluti bisnis secara penuh-salah satu produknya yang terkenal adalah obat anti septik bermerek dagang Betadine. Kelompok Mahakam miliknya sangat dikenal.

Tjandra juga sangat peduli pada orang lain yang kekurangan. Ia rela membantu puluhan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-almamaternya-yang orangtuanya tidak mampu. Sejak tahun 1984, Kahar Tjandra sudah membantu membiayai kuliah "adik-adik kelasnya" itu. Lebih dari 30 dokter yang sudah berhasil dicetaknya lewat “program anak asuh “ itu. Dulu hal itu ia lakukan diam-diam, bahkan si penerima beasiswa tidak tahu siapa yang membantunya, tetapi kini bentuk hubungannya lebih terbuka. Ia juga memiliki bisnis hotel dan berbagai bisnis lainnya. Anak-anak asuhnya yang sudah jadi dokter ada yang bekerja di klinik yang melayani pegawai dan tamu hotelnya.

Dalam bincang-bincang beberapa minggu lalu dr. Kahar Tjandra mengungkapkan rahasia pribadinya menjadi sukses adalah berkat falsafah LUCKY yang diyakininya . Kata itu ia jabarkan dari LOVE TO GOD yakni seseorang itu harus memiliki kecintaan terhadap Tuhan dan taat kepada semua perintah-Nya. Kemudian, UNDERSTANDING yakni seseorang harus memiliki pemahaman terhadap bisnis yang dijalankannya. Menyusul selanjutnya, CONNECTION yaitu seseorang perlu memiliki hubungan yang baik dengan kalangan pemerintah dan relasi bisnis. Lalu, KNOWLEDGE yakni dalam menjalankan bisnis seseorang perlu memiliki pengetahuan yang mencukupi. Dan hasil akhir dari kesemuanya itu berupa YIELD yakni keuntungan dari bisnis yang dijalankannya.

Sementara bagi dr. Boenjamin Setiawan , rahasia agar perusahaan tetap bisa bertahan, unggul dan menjadi hebat adalah tergantung pada manusia (People) yang ada di dalam perusahaan itu. Manusia yang seperti apa? “ Manusia yang DJITU,” begitu dr. Boen selalu menandaskan.

Dalam penuturannya kepada Majalah SWA, dr. Boen menjelaskan tentang konsep atau falsafah DJITU yang diyakininya sebagai berikut :

DJITU merupakan akronim Disiplin dan Dedikasi, Jujur dan Jeli, Inovatif dan Inisiatif, Tulus dan Tanggung jawab, serta Ulet dan Unggul. Akronim DJITU disusun dr. Boen sekitar 3-4 tahun setelah Kalbe Farma berdiri. Penjabarannya:

Disiplin. “Bangsa Indonesia disiplinnya payah sekali. Kalau janji, sering tidak tepat waktu,” kata Boen. Dedikasi juga penting. “Kalau you mau melakukan sesuatu, mesti dengan passion, dengan senang hati.”

Kemudian, jujur. “Jujur di Indonesia juga masalah besar, karena korupsinya bukan main. Jadi, jujur itu penting,” ungkapnya. Selanjutnya, jeli melihat perubahan yang akan datang.

Inovatif dan inisiatif pun harus selalu ada. Lalu, tulus, yang berarti ikhlas alias jangan berpura-pura, dan mesti punya tanggung jawab. Berikutnya, ulet dan unggul. “Ini yang selalu saya tekankan.”

Selain itu, emotional intelligence dan cognitive intelligence sangat dibutuhkan pula. Inteligensi kognitif, berarti otaknya harus cerdas. Namun, pintar saja tidak cukup. Yang lebih penting, inteligensi emosionalnya. “Orang boleh pintar, tapi kalau tingkah lakunya bandit, berabe. Saya pikir, lebih baik emotional intelligence-nya yang diperbesar.”

Belakangan ketika dr. Boen bertemu dengan mantan Menteri Kehakiman Ismail Saleh, SH beliau diperkenalkan dengan Falsafah 3 H yakni Hongsui (memiliki tata ruang yang bagus), Hopeng (memiliki koneksi) dan Hoki (memiliki keberuntungan).

Menurut dr. Boen falsafah itu kiranya dapat dikembangkan menjadi 5 H dengan mencari dua kata lagi dalam bahasa Cina (Mandarin / Hokkian) yang memiliki suku kata awal “Ho”. Barangkali di antara pembaca ada yang memiliki koleksi kata seperti itu? Silakan untuk berbagi dengan memberikan komentar pada tulisan ini. Bagaimana pendapat Anda sebagai orang awam? (ASW)

Thursday, July 19, 2007

Memonitor Paten Baru dan Kadaluwarsa dengan Google Patent Search

Topik : Government - Business


By Ari Satriyo Wibowo

Di halaman 12 harian Kompas hari ini (Kamis, 19 Juli 2007) dimuat berita berjudul “ Paten Kadaluwarsa Dimanfaatkan untuk Produksi Obat Generik”.

Dalam berita itu Kompas mengutip pernyataan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman hari Rabu (18/7) bahwa paten setelah kadaluwarsa, lewat 20 tahun masa perlindungan hak kekayaan intelektual, maka temuan teknologi atau produk itu dapat diadopsi siapa saja. “Beberapa industri farmasi sudah melakukan riset pengembangan produksi obat-obatan dengan paten kadaluwarsa. Beberapa contohnya adalah obat-obatan generik,” kata sang menteri seperti dikutip Kompas.

Menurut Kusmayanto pengembangan riset dan produksi berdasarkan paten kedaluwarsa dari berbagai bidang di Indonesia belum menonjol. Sementara China dan Korea kemajuan teknologi otomotifnya telah memanfaatkan paten kedaluwarsa Jepang.

Lebih jauh dikemukakannya, saat ini Kementerian Negara Riset dan Teknologi terus mengumandangkan agar setiap institusi riset menangkap peluang dari setiap paten yang sudah yang sudah habis masa perlindungannya oleh negara manapun. Temuan kedaluwarsa itu dapat ditindaklanjuti. Sebuah riset temuan baru tidakmesti dari awal.

“Hal serupa berlaku bagi setiap industri. Kami mendorong supaya memanfaatkan peluang inovasi dari paten-paten teknologi yang kadaluwarsa,” ujar menteri.

Saat ini beberapa industri obat di Indonesia sudah melakukan riset paten dengan merek terkenal yang generik. Ketika masa pelindungan paten tersebut selesai, perusahaan-perusahaan obat di Indonesia sudah dapat memproduksi dan memasarkannya.

Memanfaatkan Google Patent Search

Masalahnya banyak perusahaan di Indonesia yang belum tahu bagaimana cara memonitor paten dan masa kedaluwarsanya. Sebenarnya dengan Internet hal itu dapat dilakukan dengan mudah. Google Inc. yang terkenal sebagai mesin pencari terbesar di dunia telah menyediakan fitur baru dari hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan Google Labs. Fitur baru tersebut disebut Google Patent Search dengan URL
http://www.google.com/patents

Pengguna dapat mengetikkan kata kunci pada kotak pencarian, kemudian menekan tombol Enter dan mengklik Search Patent. Pengguna juga dapat melihat informasi pada menu Advanced Patent Search. Selain itu, pengguna dapat mengakses paten terbaru yang telah tersedia atas beberapa pilihan.

Sayangnya dari sekitar 7 juta informasi paten yang tersedia masih terbatas yang didaftarkan di Amerika Serikat (AS) saja. Sementara, paten yang didaftarkan di luar AS belum tersedia. Tetapi itu tidak menjadi soal karena toh AS merupakan raksasa ekonomi nomor satu dunia dan menjadi trendsetter teknologi sejagad.

Dengan melakukan monitoring paten terbaru maupun yang kedaluwarsa kiranya perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat terpacu lagi untuk lebih inovatif di bidang industri masing-masing. Bagaimana pendapat Anda sebagai orang yang sering menggunakan mesin pencari Google?