Google

Friday, July 27, 2007

Prof. Dr. Ali Sulaiman : Universitas Siap Asal Dilakukan dengan Win-Win Solution




Topik : Academic

Sekitar dua tahun yang lalu Prof. Dr. H. Ali Sulaiman PhD,SpPD-KGEH, FACG, seorang pakar hepatologi, bermaksud membuat makalah tentang peranan herbal pada penyakit hati. Ia kemudian berusaha mencari bahan-bahan ke Departemen Kesehatan dengan maksud untuk memperoleh hasil penelitian tentang Temulawak yang sudah dilakukan selama ini. Apa yang diperolehnya? Ternyata ia memperoleh jawaban bahwa Depkes tidak memiliki data tentang hasil penelitian Temulawak karena belum ada permintaan resmi untuk melakukan penelitian terhadap tanaman obat itu. “Padahal Temulawak itu secara tradisional sudah dikenal baik untuk mengobati penyakit hati. Jadi sayang sekali kalau belum ada pihak di sini yang melakukan penelitian,” katanya.

Oleh karena itu, mantan Dekan FKUI periode 1996-2004 itu, menyambut baik kerjasama ABG yang sedang dirintis saat ini. “Kita dari universitas siap melakukan penelitian asal semua dilakukan dengan win-win solution. Semuanya saya kira bisa dibicarakan dengan baik-baik demi kebaikan kita semua termasuk pihak pemerintah,” ujar Prof. Dr. Ali Sulaiman di kantor administrasi Sub Bagian Hepatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Kamis (26 Juli 2007).

Semua pihak ABG harus bekerjasama dengan harmonis saling mengerti dan saling menguntungkan. Selain itu, harus ada semacam sasaran yang sesuai dengan kebijakan umum pemerintah. Prof. Ali Sulaiman lebih lanjut menambahkan, “ Research itu seharusnya menjadi tulang punggung dari universitas. Selama ini, mohon maaf , dalam hal riset kita lemah sekali.”

Dalam survei Asia Best University yang dilakukan Majalah Asia Week tahun 2000 untuk kategori multidisiplin ilmu maka peringkat universitas-universitas di Indonesia mengalami kemerosotan tajam. Universitas Indonesia misalnya berada pada peringkat ke-61, Universitas Gajah Mada peringkat ke-68, Universitas Diponegoro (peringkat 73) dan Universitas Airlangga (peringkat 75).

Bandingkan dengan Universitas Kyoto, Jepang yang menduduki peringkat 1, University of Hong Kong (3), Seoul National University (4), National University of Singapore (5). Bahkan, peringkat universitas di Indonesia masih di bawah universitas di Malaysia dan Filipina yakni University of Malaya (peringkat 47) dan The University of Philiphine ( peringkat 48)

Mengapa kita ada di bawah? Menurut Prof. Ali Sulaiman karena salah satu ukuran untuk menilai tinggi rendahnya peringkat universitas adalah kegiatan riset. Dalam pengertian berapa dana yang dapat dihimpun riset dan berapa banyak pula produk-produk riset yang dihasilkan. “ Di sini kita lemah sekali sehingga merosot peringkatnya,” imbuhnya.

Riset yang dilakukan di universitas sekalipun dilakukan sesuai kaidah-kaidah yang berlaku umum dan berjumlah ratusan buah tetapi tidak dimasyarakatkan dan dipublikasikan secara luas. “Jadi pada akhirnya riset tidak menghasilkan apa yang diharapkan tetapi sekadar sebagai persyaratan KUM akademis semata,” tandas suami Ny. Nunung Achmaria itu.

Tema riset juga harus diperbaiki karena banyak riset yang terlalu ilmiah sehingga tidak bisa diterapkan dunia industri.

Pria kelahiran Serang, 20 September 1939 itu menyoroti banyaknya tenaga peneliti andal bergelar PhD yang kemudian ditarik dari bidangnya untuk menjadi direktur utama Rumah Sakit.”Akhirnya bibit-bibit unggul di bidang penelitian kedokteran banyak yang tersedot menjadi birokrat. Tetapi, saya juga tidak menampik motif karir seseorang di Indonesia adalah menjadi seorang birokrat,” paparnya.

Padahal kalau di AS, masih menurut Prof. Ali Sulaiman, jabatan direktur RS itu sama halnya dengan seorang dokter spesialis. Sebab kalau seorang peneliti menjadi direktur atau birokrat maka hilang pula segala pengetahuan spesialis yang dimilikinya.”Yang kehilangan bukan hanya kita. Fakultas kehilangan dan negara kehilangan, semua kehilangan,” tambah pria yang dikaruniai 3 anak laki-laki dan satu perempuan itu.

Yang dirasakan Prof. Ali Sulaiman ketika menjadi Dekan FKUI dulu, ia banyak mengirimkan kandidat PhD ke luar negeri. Ketika kembali ternyata para PhD tersebut tidak bisa melakukan apa-apa karena fasilitasnya tidak disiapkan. Kedua, masalah kompensasi juga tidak memadai. Akhirnya mereka bekerja tidak sesuai dengan yang dipelajarinya. “ Dengan ABG ini saya harapkan memang betul-betul akan tercipta riset terapan, dananya tersedia dan ada kompensasi bagi yang mengerjakannya,” tegasnya.

Masalahnya untuk membuat riset terapan yang bagus diperlukan fasilitas dan dana yang besar. Dan waktu itu tidak ada yang bersedia menjadi penyandang dana. Pengalamannya ketika hendak melakukan Mapping Hepatitis B di Indonesia maka ia setengah mati mencari pihak yang mau mendanai. Akhirnya, ia memperoleh bantuan dana dari NAMRU2 (Naval Medical Research Unit-2 ) milik Angkatan Laut AS yang beroperasi di Asia Pasifik.

Pria yang meraih gelar doktor di Universitas Kobe Jepang tahun 1989 itu merasa iri dengan RRC yang memiliki tradisi pengobatan herbal dan memperoleh dukungan kuat dari pemerintah. Sementara, di pihak Indonesia terdapat sekitar 1500 tanaman obat dan berkhasiat obat yang belum terjamah penelitian. Sungguh berbeda dengan RRC dan Korea Selatan rajin melakukan penelitian dan memanfaatkannya untuk industri jamu dan farmasi mereka. “Saya pernah berkunjung ke pabrik herbal RRC. Ternyata mereka memiliki kerjasama yang erat dengan universitas,” ujarnya. Bagaimana pendapat Anda sebagai orang awam? (ASW)