Google

Wednesday, February 13, 2008

Chimeric Immunity : Mengakali Penolakan Organ Baru oleh Sistem Kekebalan Tubuh


Topic : Academic

By Ari Satriyo Wibowo

Sudah umum diketahui banyak pasien gagal ginjal dari Indonesia, asal usianya masih di bawah 60 tahun, yang melakukan transplantasi ginjal. Biasanya mereka melakukan operasi cangkok ginjal tersebut ke India dan RRC yang memiliki cukup banyak donor ginjal. Sayangnya, tidak semua operasi cangkok ginjal itu berjalan mulus. Penyebabnya tak lain adalah reaksi dari sistem kekebalan tubuh yang melakukan penolakan terhadap organ ginjal yang baru.

Di AS antrian untuk mendapatkan organ ginjal baru tak kalah panjang. Tidak mengherankan bila di sana setiap hari ada 17 pasien yang meninggal selama dalam proses antrian. Sudah mengantri begitu mereka juga harus menggantung hidupnya pada immunosuppressant drugs agar sistem kekebalan tubuh tidak melakukan penolakan pada organ ginjal yang baru dipasang.

Dr. David Sachs, Direktur MGH Transplantation Biology Research Center dan dr. Benedict Cosimi dari Harvard Medical School telah melakukan penelitian cukup lama untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengakali sistem kekebalan tubuh agar “berpikir” bahwa organ baru yang dipasang adalah organ tubuh yang asli sehingga tidak terjadi penolakan.

Temuan mereka itu kemudian dipublikasikan di New England Journal of Medicine bulan Januari 2008 lalu. Temuan itu merupakan terobosan baru sehingga memungkinkan semua organ tubuh dicangkokkan ke orang lain tanpa menguatirkan penolakan dari sistem kekebalan tubuh.

Bagaimana cara Sach dan Cosimi mengakalinya? Keduanya melakukannya dengan mencangkokkan suatu bagian dari sumsum tulang belakang pasien dengan organ ginjal. Asal sel kekebalan tubuh diturunkan dari sel punca (stem cell) yang berasal dari sumsum tulang belakangnya maka pasien tersebut akan mengembangkan chimeric immunity yang mencampur kedua elemen sistem kekebalan tubuh baik dari donor maupun penerima.

Prosesnya dimulai dengan melakukan perusakan sebagian pada bagain sumsum tulang belakang dengan menggunakan obat yang disebut cyclophosphamide, yang diikuti dengan perlakukan pada antibodi untuk mengurangi pasokan T cell, sebuah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang bertugas melakukan penolakan organ baru. Jika proses ini berhasil maka ginjal dan sumsum tulang belakang dicangkokan dan pasien dipindahkan ke ruangan steril untuk mencegah terjadinya infeksi serta agar campuran sistem kekebalan tubuh yang baru dapat berkembang biak.

Dr. Sachs dan Dr. Cosimi menguji coba prosedur baru tersebut pada 5 pasien dan 4 di antaranya berhasil dengan baik. Satu pasien yang gagal setelah melalui operasi standar yang diikuti pemberian immunosuppressant drugs sampai sekarang masih tetap hidup. Sedangkan salah satu yang berhasil bernama Jeniffer Serle berusia 26 tahun.

Namun, keberhasilan pada 4 pasien masih belum cukup untuk membuktikan bahwa Chemeric Immunity memang bekerja pada kasus tersebut. Masih banyak misteri yang harus diungkapkan.Selain itu, harus bisa dibuktikan bahwa metoda tersebut bisa diterapkan pada organ-organ lain selain ginjal.

Selama ini, untuk mengatasi keterbatasan donor para ilmuwan melakukan transplantasi dari organ tubuh yang berasal dari hewan yakni Babi yang paling dekat kemiripannya dengan organ manusia. Namun, metoda yang dikenal dengan istilah Xenotransplantation masih mengundang kontroversi serta dikhawatirkan dapat menularkan virus dari binatang ke manusia dan menciptakan penyakit baru.

Bagaimana pendapat Anda?

Sumber : “A Successful Mixture”, The Economist, 24 Januari 2008 dan berbagai sumber lainnya.