Google

Monday, October 1, 2007

Saran Prof. Dr. Soefjan Tsauri, MSc untuk Kerjasama ABG Berdasarkan Pengalaman Membuat APC

Topic : Academic, Business, Government

Prof. Dr. Soefjan Tsauri adalah mantan Kepala LIPI untuk periode 1995-2000. Saat ini Soefjan menjabat sebagai Ketua Majelis Profesor Riset sejak Agustus 2006 disamping sebagai Staf Ahli Kepala LIPI di bidang Teknologi Pertahanan.

Dalam wawancara Senin (1/10), ia mengungkapkan pengalamannya membina kerjasama ABG (Academic, Business, Government) untuk membangun Kendaraan Tempur Pengangkut Personel atau lazim pula disebut APC (Armour Personnel Carriers).

Pada waktu itu, Soefjan bersama Prof. Dr. Budi Susilo Supandji, Dekan Fakultas Teknik Sipil UI yang kini menjabat salah satu dirjen di Departemen Pertahanan memutuskan untuk membangun Defense Design Centre (DDC). Dalam kerjasama ini dilibatkan pihak swasta, Dephan dan perguruan tinggi.

Soefjan pada awalnya berkata bahwa kerjasama tersebut disamping tidak gampang juga membutuhkan pengalaman lapangan. Sehingga ia kemudian meminta untuk membuat proyek yang mudah terlebih dahulu yang tingkat keberhasilannya tinggi. Dipilihlah kemudian pembangunan Kendaraan Tempur Pengangkut Personel atau APC sebagai proyek pertama.

Tahun pertama semuanya berjalan lancar karena semuanya masih sangat idealis. Mulai tahun kedua, mulai timbul masalah karena masing-masing mempunyai aturan main yang berbeda, khususnya yang menyangkut renumerasi atau honor.

Pada waktu tahun pertama masing-masing mencoba melupakannya karena masih memiliki idealisme. Pada tahun kedua, swasta mulai mengatakan,”Pak, hidupku ini berasal dari proyek. Karena itu saya akan mengajukan bagaimana anak buah saya billing rate-nya sesuai dengan apa yang ada.”

Kemudian swasta bertemu dengan birokrat yang aturan mainnya berdasarkan DIP (Daftar Isian Proyek). "Bagaimana bisa tenang dalam sebuah tim untuk menggolkan sebuah proyek bila yang satu katakanlah memperoleh Rp 2 juta per bulan sementara yang lain menerima Rp 750.000,- per bulan," ungkap pria kelahiran Gresik, 29 Desember 1942 itu. Terbukti kemudian proyek itu tidak bisa berlangsung mulus dan terhenti di tahun kedua. Kejadian itu terjadi sewaktu Soefjan menjadi Kepala Badan Litbang Dephan antara tahun 2002-2003.

Waktu itu, Soefjan sedang menggebu-gebu agar potensi-potensi yang ada di Indonesia semestinya sudah dapat membuat industri pertahanan yang mandiri. Caranya? Dengan menggabungkan antara Cilangkap dengan akademisi dan swasta yakni menggabungkan antara otot dan otak.

Oleh karena itu, Soefjan menyarankan untuk menjalin kerjasama ABG yang pertama kali harus dicari jalan keluarnya adalah agar dalam satu tim itu memiliki renumerasi yang sama ketika menangani sebuah proyek. Rasanya masuk akal bila hal itu yang perlu dibereskan terlebih dulu agar kerjasama ABG menjadi lancar.

Bagaimana pendapat Anda? (ASW)