Google

Saturday, October 6, 2007

Debbie dan Penelitian Enzim untuk Industri

Topic : Academic- Business

Debbie Soefie Retnoningrum, PhD belajar S3 di AS di bidang mikrobiologi mulai Februari 1988 hingga 1993. Di University of Minnessota, AS ia diterima di Fakultas Kedokteran untuk belajar tentang bakteri. Dulu Debbie tidak tahu bagaimana suatu penyakit bisa timbul. Ternyata, bakteri itu dapat berinteraksi dengan tubuh manusia. Di dalam interaksi tersebut, yang mengherankannya, untuk timbulnya penyakit ternyata tubuh manusia tersebut ikut membantu walaupun sebenarnya manusia juga memiliki sistem pertahanan tubuh.

Wanita yang meraih gelar S1 di Fakultas Farmasi ITB tahun 1983 itu pernah menjabat sebagai Ketua KPP Bioteknologi ITB selama periode 2003-2005. Sebelumnya lembaganya itu bernama PAU Bioteknologi ITB yang pernah dipimpin Prof. Oei Ban Liang,PhD antara 1985 dan 1997.

Waktu menjadi Ketua KPP Bioteknologi ada perubahan yang dilakukan Debbie. Pada zaman Prof. Oei Ban Liang penelitian dirancang untuk menemukan obat seperti Penicilin. Tetapi tampaknya penelitian itu kalah unggul dengan penelitian yang dilakukan RRC. Sehingga ketika menjabat sebagai Ketua KPP Biotek Debbie mengumpulkan kolega-kolega di bioteknologi sehingga akhirnya disepakati untuk melakukan penelitian di bidang teknologi enzim untuk industri. Sehingga kemudian banyak penelitian yang diarahkan ke sana. Pemanfaatan teknologi enzim itu, misalnya, untuk tekstil, produksi gula (glukosa) dan bioetanol.

Debbie tetap melanjutkan program-program yang dilakukan PAU Bioteknologi ITB sebelumnya tetapi ada satu yang baru dirintisnya yakni berusaha menggaet pihak industri. Untuk itu, ia melakukan roadshow ke berbagai industri seperti industri obat, vaksin dan minyak. ”Rupanya industri-industri di Indonesia masih tidak bersedia bila penelitiannya tidak bisa diaplikasikan langsung,” ungkap wanita kelahiran Bandung, 15 November 1956 itu.

Meski begitu, KPP Bioteknologi ITB pada akhirnya memperoleh proyek penelitian dari beberapa industri. Misalnya, dari Biofarma dan Kalbe Farma dalam bentuk ”small project”.

Dalam hal penelitian di dalam negeri lembaga yang dipimpinnya banyak menerima dana penelitian yang berasal dari dana dari DIKTI, RISTEK dan Toray.

Debbie juga berupaya bekerjasama dengan universitas-universitas yang levelnya masih di bawah ITB seperti Universitas Hassanudin di Makassar dan Universitas Udayana di Denpasar, Bali. Mengapa begitu? Waktu itu ada sebuah skema di Indonesia yang penelitiannya berkaitan sehingga ada universitas yang mesti harus dibantu atau dibina oleh mereka yang berkaitan disiplin ilmunya. Apabila partner kerjasama melakukan penelitian dengan Debbie maka dilakukan penelitian mengenai penyakit sesuai dengan bidang yang dikuasainya yakni mikrobiologi sedangkan bila dengan temannya di ITB yang menguasai bioteknologi lingkungan maka penelitiannya tentang bioteknologi lingkungan.

Tak cuma di dalam negeri, Debbie juga merintis international collaboration dalam bidang penelitian. Salah satu yang berhasil adalah kerjasama penelitian dengan Universitas Groningen, Belanda.

Kini ia kembali mengajar di Fakultas Farmasi ITB yang lebih terkenal sebagai ”School of Pharmacy ITB”. Di ruangnyayang terletak di lantai 4 ia kini merasa betah karena di sana dilengkapi pula dengan laboratorium mikrobiologi yang lengkap. Debbie memang benar-benar seorang peneliti sejati.

Bagaimana pendapat Anda?(ASW)