Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Tahun ini berbagai tim berdedikasi untuk riset pada proyek yang dinamakan Proyek Microbiome Manusia ( Human Microbiome Project atau HMP) dengan mulai mengumpulkan contoh faeces serta lendir vagina, mulut dan hidung dari 250 sukarelawan.
Peralatan yang digunakan adalah gene sequencing kecepatan tinggi yang dikembangkan khusus untuk Proyek Genome Manusia. Tugas mereka menyelidiki sekitar 1000 spesies bakteri.
Padahal, asal tahu saja satu bakteri memiliki gen yang jumlahnya mencapai 200.000 buah dibandingkan jumlah gen seorang manusia yang hanya 20.000 buah. HMP adalah proyek yang didanai National Institute of Health (NIH) sebesar US$ 100 juta. Riset hanya mengklasifikasikan mikroba yang tinggal di tubuh manusia, tetapi untuk mengidentifikasi di mana mereka tinggal dan strain apa saja yang paling sering ada pada tubuh manusia.
Sementara, proyek Uni Eropa senilai US$ 30 juta yang bernama Metagenomics of the Human Intestinal Tract (MetaHIT) berkonsentrasi pada kaitan antara bakteri pada usus manusia dengan kegemukan dan peradangan. Riset telah menemukan perbedaan besar antara populasi bakteri di usus orang gemuk dan orang kurus.
Ketika, orang gemuk melakukan diet dan kehilangan seperempat berat tubuhnya, maka flora yang hidup di usus mereka pun berubah mirip dengan kondisi flora orang-orang yang kurus. Oleh karena itu, perlukah diberikan jenis bakteri usus orang kurus untuk membantu orang mengurangi berat badan. Hal itu merupakan pertanyaan yang harus dijawab melalui riset ini. Beberapa probiotik ternyata dapat memacu jumlah asam empedu yang membantu para orang gemuk mengabsorsi lemak.
MetaHIT juga ingin melihat bagaimana metabolisme di usus dapat berpengaruh pada khasiat obat terhadap pasien penderita radang usus. Bulan lalu, Marika Kullberg dari Universitas York di Inggris mampu menjelaskan bagaimana sebuah molekul yang diproduksi salah satu bakteri dapat memperlambat radang usus pada tikus.
Dengan membuang parasit dari usus, diharapkan respon bakteri di usus tidak lagi menimbulkan peradangan pada usus. Bagaimana pendapat Anda?
Sumber : The Economist, 26 Juni 2008
Tuesday, July 1, 2008
Mengidentifikasi Jenis Mikroba yang Tinggal di Tubuh Manusia
Monday, June 30, 2008
Thursday, June 26, 2008
Perilaku Hidup Sehat Mampu Menghentikan Ulah Gen Penyebab Kanker
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Sudah jamak diketahui bahwa sikap hidup sehat dapat mencegah kanker. Sudah terbukti pula bahwa hidup yang bersih dapat membantu para penderita tumor untuk bertahan hidup lebih lama. Bahkan dapat mencegah penyakit datang kembali. Beberapa studi menunjukkan efek tersebut dalam hal kanker payudara dan kanker usus besar. Tetapi bagaimana cara kerjanya di tingkat bilogi molekuler masih tetap menjadi misteri.
Dr. Dean Ornish dari Universitas Kalifornia di San Fransisco mencoba mengungkap misteri itu. Selain sebagai pekerja akademis, Dr. Ornish adalah pendiri Preventive Medicine Research Institute, sebuah yayasan sosial yang bermarkas besar di Sausalito, Kalifornia. Ia juga dikenal sebagai penulis buku di bidang preventive medicine dan konsultan produsen makanan besar. Dr. Ornish merupakan orang pertama yang menunjukkan bahwa hidup sehat ( melakukan diet vegetarian rendah lemak, banyak olahraga dan tidak merokok) tidak boleh berhenti dan mampu mencegah terjadinya penyakit jantung koroner.
Ia dan teman-teman kemudian memutuskan untuk melihat aktifitas gen pada selompok orang penderita kanker yang bersedia mengubah perilaku hidup mereka menjadi sehat ketimbang harus menjalani perawatan kesehatan.
Tim tersebut memilih penderita kanker prostat pada penelitian itu. Para peneliti memilih kanker prostat karena perkembangannya yang lambat. Ketika suatu penyakit kanker didiagnosa awal, maka tidak melakukan apapun merupan cara masuk akal untuk menghindari trauma operasi, radiasi atau terapi hormon. Dr. Ornish memasukkan 30 pasien stadium awal kanker prostat dalam program “perubahan gaya hidup komprehensif”. Di antaranya diet rendah lemak, whole food, diet berbasiskan sayur-sayuran, manajemen stres, latihan tubuh ringan, menciptakan kelompok pendudung psikososial. Pasien dicatat kondisi awal ketika memasuki progrma dan dibandingkan tiga bulan kemudian untuk melihat apa saja yang telah berubah.
Bagai tingkat gen agar proses tersebut bekerja maka harus diterjemahkan melalui pembawa pesan molekuler. Sebuah molekul substansi yang disebut RNA membawa instruksi pembuatan protein kepada sebuah sel, tentang protein apa saja yang dibuat. Semakin banyak messenger RNA maka semakin aktif gen. Berdasar jumlah messenger DNA maka dapat dilihat efek pada gen pada penyembuhan kanker. Dr. Ornish menyebutnya sebagai gene chip technology.
Ia dan tim peneliti menemukan bahwa setelah tiga bulan, aktivitas dari 500 gen diubah di prostat sebagai bentuk gen yang bersifat melawan kanker. Kehidupan yang baik akan mematikan gen yang mempromosikan tumor (disebut Oncogenes) --- termasuk beberapa yang ditargetkan untuk menjadi obat anti kanker. Sementara itu, gen pencegah penyakit termasuk salah satu protein yang membantu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali sel tumor akan diaktifkan. Meski begitu bagaimana perubahan gaya hidup sehat berakibat pada gen tidaklah jelas. Tetapi, studi itu menunjukkan bahwa proses tersebut mencapai tingkatan biologi moleluler dalam tubuh.
Temuan Dr. Ornish itu sekali lagi menunjukkan bahwa tingkat kemauan pasien untuk mengubah perilaku hidup menjadi sehat akan mampu menanggulangi penyakit kanker yang mereka derita. “Karena semuanya berada pada tingkat gen,” pungkas Dr. Ornish.
Sumber : "Better than cure", The Economist, 19 Juni 2008
Tuesday, June 24, 2008
Perubahan Radikal di Bidang Energi Segera Tiba
Topic : Academic. Business
By Ari Satriyo Wibowo
Dunia gandrung pada segala sesuatu yang sedang booming. Dan yang sedang booming saat ini adalah perubahan teknologi. Para pemodal ventura pun berbondong-bondong mengadu nasib meraih peruntungan. Pada tahun 1980-an mereka sukses menciptakan boom teknologi komputer, tahun 1990-an boom teknologi Internet dan awal tahun 2000-an terjadi boom di bidang bioteknologi dan nanoteknologi. Bagaimana tahun 2010-an ? Tampaknya booming akan terjadi di bidang energi.
Boom di masa lalu di bidang energi selalu mengandalkan pasokan energi berupa bahan bakar tertentu : mesin uap bertenaga batu bara, motor bakar bertenaga bensin, pembangkit tenaga listrik tenaga gas dan pesawat jet tenaga avtur. Beberapa dekade lalu harga batu bara masih murah, Gas alam juga murah. Tahun 1970-an, harga BBM juga masih murah. Akibat harga murah itu, daya inovasi di bidang energi menjadi berkurang atau minimal sekali.
Sekarang BBM tak lagi murah. Sampai pertengahan 2008 harganya melesat mencapai hampir US$ 140 per barrel. Demikian pula gas alam harganya mengikuti kenaikan BBM. Sementara, batu bara meski harganya masih murah kini terancam dikenakan pajak tinggi sebab merupakan penyumbang gas efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Orang pun kemudian bepaling ke energi terbarukan dari angin dan tenaga matahari.
Pasar energi merupakan pasar yang besar sekali. Saat ini, penduduk dunia mengonsumsi sekitar 15 terrawatt daya listrik ( terawatt setara dengan 1000 gigawatts). Nilainya setara dengan US$ 6 triliun per tahun atau sekitar sepersepuluh output ekonomi dunia. Pada tahun 2050 diperkirakan kebutuhan listrik meningkat menjadi 2 kali lipat menjadi 30 terrawatt.
Energi terbarukan menjadi pilihan karena pembangkit tenaga surya atau angin tetap tidak akan membuat pembangkit listrik tenaga bata bara lantas tutup. Mobil listrik kelak juga kan berkembang karena makin efisien. Listrik yang dibutuhkan setara dengan membeli BBM dengan harga 25 sen per liter.
Energi terbarukan yang efisien kini juga menjadi incaran para jutawan di Lembah Silikon, Kalifornia. Elon Musk, yang menjadi salah satu penemu layanan Pay Pal, telah mengembangkan batere untuk mobil sport. Sementara pendiri Google, Larry Pages dan Sergey Brin menciptakan Google.org untuk mencari jalan menemukan energi terbarukan yang lebih muarah dari batu bara (atau mereka biasanya merumuskannya sebagai REC kepada teman-temannya).
Vinod Khosla, salah satu pendiri Sun Microsystems, memutuskan untuk menyediakan modal ventura untuk membiayai energi terbarukan.Tak ketinggalan Robert Metcalfe, yang menemukan sistem Ethernet untuk LAN dan Mr. Doerr dari Kleiner Perkins Caufield & Byers, salah satu pemodal ventura terkenal dari lembah Silikon. Sir Richard Branson dari Inggris juga tidak ketinggalan berpartisipasi melalui Virgin Green Fund.
Perusahaan besar lain yang tertarik terjun ke bidang energi terbarukan ini adalah General Electric (GE) yang sudah terjun di bisnis kincir angina dan tertarik terjun ke bisnis energi surya. Para periset di laboratorium GE di Schenectady, New York, sangat bersemangat sekali dengan kebebasan intelektual yang mereka peroleh untuk bekerjasama dengan perusahaan start up yang dikombinasi dengan ketersediaan dana untuk riset.
Sementara itu, BP dan Shell, dua perusahaan minyak besar dunia ikut menjadi sponsor riset akademis dan perusahaan kecil baru dengan ide cemerlang. Demikian pula Du Pont perusahaan kimia terbesar ikut terlibat. Hanya Exxon Mobile yang memutuskan tidak ikut dalam kegitan itu.
Negara berkembang pun tak ketinggalan. RRC sekalipun dikenal sebagai pemilik pembangkit listrik batu bara terbanyak juga memiliki pembangkit tenaga angin yang jumlahnya bakal meningkat menjadi duapertiganya tahun ini. RRC juga merupakan produsen panel surya terbesar kedua di dunia, belum termasuk sebagai prosen pemanas air tenaga surya di atas atap rumah yang besar pula.
Brazil sudah sejak lama dikenal sebagai produsen biofuel yang memasok 40 % kebutuhan bahan bakar mobil di sana dan bakal menjadi pemasok 15 % kebutuhan energi untuk pemabngkit tenaga listrik. Sementara, Afrika Selatan mengembangkan teknologi yang mampu menciptakan reactor nuklir sederhana yang aman --- yang meski nuklir bukan energi terbarukan tetapi bebas polusi karbon.
Yang jelas ada tiga pilar energi yang menarik saat ini yakni energi angin, energi surya dan penciptaan batere teknologi tinggi.
Bagaimana pendapat Anda?
Sumber : “The future of Energy” dan “The power and The Glory” , The Economist, 19 Juni 2008
Monday, June 23, 2008
Teori Butterfly Effect Mengindikasikan Indonesia Bakal Tertib di Masa Depan
Sumber gambar : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/30/Sensitive-dependency.svg/300px-Sensitive-dependency.svg.png
Topic : Academic
By Satjipto Rahardjo
Amat sulit membayangkan Kejaksaan (Agung) lebih terpuruk dari sekarang. Bagaimana mungkin lembaga publik yang diandalkan menjadi salah satu ujung tombak telah ambruk?
Untuk sedikit ”menghibur” kejaksaan, menurut Sebastiaan Pompe, Mahkamah Agung sudah beberapa tahun lebih dulu mengalami kolaps (institutional collapse) seperti itu (Pompe, 2005).
Bangkit dan berubah
Jika integritas Kejaksaan Agung dirusak oleh ulah beberapa pejabat puncaknya, menurut studi Pompe, Mahkamah Agung mengalami kolaps karena (1) keberanian telah berubah menjadi kepengecutan, (2) kemampuan merosot menjadi tidak lagi mampu (incompetence), (3) integritas merosot menjadi korupsi struktural, dan (4) kehormatan berubah menjadi tercela (contempt).
Kepolisian (Polri) sedikit banyak juga sudah mendapat giliran dengan kejadian di Unas beberapa waktu lalu. DPR juga sudah beberapa lama menjadi sasaran kritik, cemooh, dan parodi.
Maka, sungguh dramatis keadaan yang menimpa kita. Rasanya tidak ada lagi yang tersisa. Menangis dan meratap? Sebentar boleh dan itu alami. Namun, hal lebih baik dan diperlukan adalah bangkit serta berubah. Keambrukan institusi publik negeri ini harus berhenti sampai di sini.
Karena itu, kita tidak boleh lagi kecolongan. Kita tidak boleh terpaku hanya pada Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, Polri, dan DPR, tetapi juga seluruh institusi publik yang melayani bangsa.
Awal ketertiban baru
Kini sudah terjadi pergeseran dalam sains, khususnya tentang konsep ketertiban (order) dan kekacauan (chaos). Keduanya tidak lagi berdiri terpisah dibatasi tembok tebal, tetapi berkelindan.
Ilya Prigogine, penerima Nobel di bidang kimia, menulis buku Order Out of Chaos. Itu tidak hanya disuarakan ilmu kimia, tetapi juga sudah merembes ke dalam ranah ilmu-ilmu lain, seperti The Chaos Theory of Law.
Kita sudah diperkaya paradigma dan perspektif baru bahwa kekacauan bukan ”kiamat”, tetapi awal suatu ketertiban baru. Dalam kekacauan tersimpan bibit- bibit ketertiban baru. Dalam konsep baru ini, ketertiban bukan suatu konsep statis, tetapi sebuah proses dinamis.
Perubahan bisa terjadi hanya oleh faktor/kejadian kecil dan sederhana (strange attractor), tetapi kemudian berubah skala menjadi kejadian luar biasa. Ini disebut sebagai butterfly effect. Kepak sayap kupu-kupu di Hawaii bisa menyebabkan suatu perubahan cuaca besar-besaran di New England. Itulah teorinya.
Marilah kita lihat dan tempatkan keambrukan institusi pelayanan publik dalam perspektif baru itu. Ini membuat kita bersemangat untuk bangkit kembali dari keterpurukan dan kekacauan. Semangat bangkit ini antara lain karena didukung sains mutakhir. Sains pasca-Newtonian ini seolah berkata kepada kita, ”Kamu, bangsa Indonesia, tidak akan terus-menerus kacau seperti sekarang, tetapi bisa berubah menjadi bangsa yang tertib teratur.”
Ada bukti empirisnya. Kendati dikepung masyarakat yang korup, jaksa, hakim, dan polisi kecil di pelosok tetap bertahan dalam kemuliaan martabat profesinya. Laporan Bank Dunia (Village Justice in Indonesia, 2004) memastikan kehadiran mereka. Inilah strange attractors yang kita miliki, yang diharapkan mampu memunculkan butterfly effect berupa badai ketertiban baru di negeri ini.
Perlu keberanian
Memang dibutuhkan keberanian untuk merasa sakit karena operasi untuk mendukung munculnya kupu-kupu kecil itu perlu dilakukan. Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, dan Mabes Polri telah membuat cetak biru pembaruan institusi mereka. Namun, itu semua adalah skema abstrak dan ideal. Skema itu perlu dibuktikan menjadi kenyataan. Kenyataan itulah yang dilihat seluruh bangsa, bukan skema- skema abstrak. Kenyataan itu berupa kekacauan dan keambrukan, sangat jauh dari skema abstrak dan ideal.
Namun, perlukah kekacauan itu? Pertanyaan ini amat ironis. Kekacauan yang mahal itu diperlukan guna menunjukkan di mana masih ada lubang-lubang dalam rancangan ideal yang telah dibuat. Kita menjadi tahu di mana ada kebocoran. Kekacauan ini seyogianya segera diintegrasikan dengan cara diterima sebagai koreksi terhadap rancangan itu.
Pasti ada yang salah dalam konsep cetak biru lama. Jaksa Agung berbicara tentang ”disiplin moral”. Mungkin ini salah satu butir koreksi sesudah melihat kebocoran di tubuh Kejaksaan Agung. Hal yang penting, rancangan baru segera dibuat dan langkah-langkah nyata segera dilakukan. Tugas kita adalah terus menghidupkan semangat untuk bangkit dan melakukan kontrol publik. Teori baru sudah mengatakan adanya harapan baru untuk keluar dari kekacauan dan menjadi bangsa yang tertib.
Satjipto Rahardjo adalah Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro, Semarang
Sumber : Artikel Opini Kompas, Senin, 23 Juni 2008 dengan judul "Kini Saatnya Memunculkan Ketertiban" oleh Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH
Friday, June 20, 2008
Kesehatan Mata dan Gangguan Penglihatan Pada Usia Lanjut
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Dengan bertambahnya usia akan terjadi kekenduran pada seluruh jaringan kelopka mata. Lensa mata bening mula-mula yang transparan kemudian menjadi keruh (katarak). Daya akomodasi yaitu daya mengembung dan memipihnya lensa juga berkurang. Akibatnya adaptasi terhadap gelap menurun dan secara keseluruhan tajam penglihatan juga menurun dimana terjadi kabur dekat, penyakit ini disebut dengan presbyopia. Untuk menjaga mata agar tetap bisa melihat dekat seperti membaca, menjahit dibutuhkan kaca mata positif (plus).
Mata sebagai organ penglihatan merupakan jalur informasi terpenting karena porsinya mencapai 83 persen. Sementar, telinga atau pendengaran(11 %), hidung atau penciuman (3,5 %), kulit atau perabaan (1,5 5) dan lidah atau pengecap (1 %).
Sedangkan penyerapan informasi yang diperoleh dari membaca sebesar 10 persen. Mendengar (20%), melihat (30%), melihat dan mendengar (50%), berbicara (70 %) dan berbicara dan melakukan (90%).
Menurut Dr. Tjahjono D. Gondowiardjo, Sp M (K), dari PP Perdami pada presentasi di Seminar Lanjut Usia Sehat dan Mandiri, Selasa (17/6) lalu, ada korelasi positif antara kemiskinan dan tingkat kebutaan di kalanagan lanjut usia. Berdasarkan survei yang dilakukan di Jakarta maka prevalensi buta katarak di daerah Kebon Jeruk yang masyarakatnya relative makmur hanya 1 persen sementara di daerah Pulo Gadung mencapai 4 persen. Adapun penyebabnya 23 % karena ketidaktahuan, 10 % ketidakpedulian dan 20 % karena ketidakberdayaan. Sedangkan kombinasi ketidakpedulian dan ketidakberdayaan mencapai 16,7 %.
Adapun faktor resiko utama buta katarak adalah faktor lingkungan sosial ekonomi yang terdiri dari kondisi gizi buruk, kekurangan vitamin A, menderita diabetes dan penyakit parasit.
Diperlukan empat langkah nyata untuk mencegah masyarakat khususnya kaum lansia dari kebutaan katarak yakni Perhatian (Awareness) , Pengertian (Understanding) , Empati Masyarakat (Public Emphaty) dan Komitmen Nasional (National Commitment).
Bagaimana pendapat Anda?
Thursday, June 19, 2008
Presbikusis dan Gangguan Keseimbangan pada Usia Lanjut
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Pada orang lanjut usia terjadi proses degeneratif pada organ pendengaran sehingga terjadi kemunduran sel-sel dan penurunan elastisitas membran. Disamping itu, terjadi pula gangguan pasokan darah pada otak sehingga orang lanjut usia akan mengalami gangguan pendengaran di mana yang pertama terkena adalah pendenagaran bunyi dengan nada tinggi selanjutnya diikuti dengan gangguan pendengaran bunyi nada rendah. Dalam dunia medis gangguan pendengaran karena proses penuaan dikenal dengan Presbikusis.
Di Indonesia berdasarkan survei tahun 2001 terdapat penduduk dengan usia 65 tahun ke atas sebesar 8,5 juta orang atau 4,1 persen. Penderita presbikusis usia 65-75 tahun ada 30-35 tahun. Sementara usia di atas 75 yahun mencapai 40-50%. Hal itu disampaikan Dr. Ronny Suwanto, Sp THT (K) dari Sub Departmen THT Komunitas, Departemen THT FKUI pada Seminar Lanjut Usia Sehat dan Mandiri di Depkes RI, Selasa 17 Juni 2008 lalu.
Gejala klinis Presbikusis adalah pendengaran berangsur-angsur berkurang, bila suara diperkeras atau berteriak menyebabkan sakit telinga, sulit memahami percakapan terutama pada lingkungan bising, dapat mendengar tetapi tidak paham (diskriminasi ucapan), sulit mendengat nada tinggi “s” dan “th”, lebih mudah mendengar suara pria ketimbang wanita dan ada suara berdenging (tinnitus).
Adapun faktor risikonya berupa penyakit keturunan, artherosklerosis, penyakit sistemik seperti Diabetes Melitus, riwayat terpapar bising (bagi mereka yang pernah bekerja di pabrik) dan akibat obat ototoksik.
Sedangkan penyebabnya adalah proses degenerasi, perubahan struktur kohlea dan saraf pendengaran. Pada kohlea bila pada masa muda seseorang memiliki sekitar 31.000 sel rambut maka pada lanjut usia jumlah sel rambut menurun kurang dari 20.000 sel rambut.
Gangguan pendengar pada orang lanjut usia sulit dikenali karena terjadi berangsur-angsur, dimulai dari frekuensi tinggi bukan pada frekuensi percakapan sehari-hari (500-4.000 Hz).
Bila telah terjadi gangguan pendengaran maka upaya untuk meminimalkan gangguan pada penderita, menurut Dr. Ronny Suwanto, dapat diatasi dengan membaca ujaran bibir (lip reading), menghindari situasi lingkungan bising dan memanfaatkan bahasa isyarat.
Biasanya penderita direhabilitasi dengan alat bantu dengar. “Tetapi hal itu belum tentu menyelesaikan masalah,” kata Dr. Ronny,” Sebab akibat kerusakan syarat pendengatan maka suara yang diperkeras dapat mengalami distorsi saat melewati syaraf pendengaran.”
Selain itu, orang lansia juga mengalami gangguan keseimbangan yang disebut puyeng atau Dizziness (rasa melayang, kepala seperti kosong) dan pusing tujuh keliling atau Vertigo (perasaan diri sendiri atau lingkungan seolah berputar). Dalam kehidupan sehari, masih kata Dr. Ronny, Dizziness lebih banyak dijumpai.
Hampi 40 persen penduduk AS pernah mengalami Dizziness. Kemudian usia 65 tahun ke atas terdapat 12,5 juta orang yang mengalami Dizziness. Sedangkan pada usia 50 tahun ke atas maka hampir 65 persen yang terkena gangguan keseimbangan Dizziness. Dari jumlah itu maka 200.000 mengalami patah tulang pinggul per tahun. Sementara data dari Indonesia belum tersedia sampai saat ini.
Bagaimana pendapat Anda ?
Wednesday, June 18, 2008
Ekspektasi Orang Asing Bila Mereka Tinggal di Indonesia
Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Banyak orang asing yang ingin tinggal di Indonesia tetapi sayangnya Indonesia masih memiliki masalah dalam hal citra di mata internasional. Sudah begitu orang asing membutuhkan tiga hal yakni peraturan yang jelas, ijin untuk memiliki properti dan aturan keiimigrasian yang kondusif. Hal itu disampaikan Clifford Rees, Senior Partner PricewaterhouseCoopers dalam diskusi menjadikan Indonesia sebagai Rumah Kedua bagi Pensiunan Asing Manca Negara di Gedung Kalbe, Rabu pagi.
Rees yang berumur 50 tahun sudah menghabiskan waktu sekitar 24 tahun di Indonesia. Itu berarti separuh dari hidupnya dihabiskan di Indonesia. Tak heran bila ia mengetahui dengan mendalam seluk beluk Indonesia. Kelemahan Indonesia menurutnya karena wilayahnya terlalu luas. Sudah begitu masih ada sisi negatif Indonesia berupa kemiskinan, buta huruf, pengangguran dan gangguan kemananan. Juga rasa nasionalisme yang berlebihan.
Lokasi yang diminati orang asing dari Eropa adalah Bali, Lombok, Jakarta dan Jogya. Sedangkan yang menjadi motivasi para pensiunan asing untuk tinggal di Indonesia adalah faktor cuaca dan atmosfer.
Kalau orang asing khususnya para pensiunan tertarik untuk tinggal di Malaysia adalah karena di sana mereka tidak dikenakan pajak alias terkena pajak 0%. Para pensiunan asing tidak diperkenankan bekerja di Malysia tetapi mereka boleh berinvestasi menanmakan modal, saham, obligasi, reksa dana dan sebagainya. “Malaysia has comfortable legal system and security,” ujar Rees.
Bila ingin membidik para pensiunan asing, menurut Rees, penuhi saja kebutuhannya. Mereka memerlukan restoran yang bagus untuk menikmati hidangan bermutu, mal serta arena hiburan. Mereka juga membutuhkan komunitas sebangsa atau senegara. “Orang Inggris ingin tinggal bersama orang Inggris, orang Jerman dengan orang Jerman,” Rees menambahkan.
Khusus untuk membangun komunitas daerah di Jagorawi dapat dikembangkan sebagai komunitas golf antar bangsa. Itu yang bisa dikembangkan sebagai daya tariknya. "Jakarta merupakan kota yang memiliki lapangan golf paling banyak di dunia yakni lebih dari 70 buah,” kata Rees, “Selain itu, dipandang dari segi biaya akomodasi maka Jakarta adalah kota yang paling murah di dunia.”
Agar nyaman tinggal di Indonesia maka para pensiunan asing itu tentu saja masih membutuhkan infrastruktur, fasilitas medis, pemeliharaan kesehatan, tempat hiburan dan tempat belanja yang lebih baik.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
5:00 PM
|
Labels: academic, Business, Government
Monday, June 16, 2008
Indonesia Kurang Siap Sambut Bioteknologi Sebagai ’Gelombang Ekonomi Baru’
Topic : Academic
Sesudah teknologi informasi-komunikasi (TIK) mendominasi seluruh sektor kehidupan, bioteknologi kini menjadi gelombang ekonomi baru yang bakal menjadi kekuatan ekonomi dunia. Meski pun demikian, tampaknya Indonesia masih kurang menyiapkan diri menyambut kencangnya arus bioteknologi yang melanda dunia.
Begitulah statement Anies Baswedan PhD, rektor Universitas Paramadina ketika membuka Talk Show Series Biotechnology, The Next Great Entrepreneurial Wave yang pertama itu mengambil topik ‘Molecular Genomics’, di Universitas Paramadina. Indonesia sebenarnya mempunyai ilmuwan bioteknologi kelas dunia, bahkan banyak pendapat yang menyatakan bahwa dalam bidang biotek sumber daya manusia kita lebih maju dibandingkan Malaysia & Singapura. Sudah saatnya Indonesia secara serius memfasilitasi mereka untuk berkembang, karena penguasaan bioteknologi tidak hanya mampu meningkatkan pamor Indonesia didunia internasional, tetapi juga mampu mendatangkan manfaat ekonomis yang nyata. ”Kalau tidak, akan terjadi brain drain.” katanya lagi. Universitas Paramadina sedang dalam proses mendirikan program studi dan pusat riset bioteknologi. ”Alhamdulillah banyak pihak menyatakan komitment penuh mendukung rencana ini, termasuk dari kalangan swasta yang ternyata sangat concern. ” Anis menambahkan.
Di antara kekurangan Indonesia dalam bioteknologi adalah minimnya jumlah sumber daya manusia karena pendidikan bioteknologi yang ada terbatas hanya pada jenjang S2 dan S3 – dan itu pun hanya pada beberapa universitas negeri. Kondisi ini bertolak belakang bahkan dengan negara tetangga Malaysia yang menyebar program studi bioteknologi sejak dari S1, seperti kondisi di negara maju lain. Bahkan, sayangnya lagi, beberapa program studi S1 yang ada pun hanya berbasis pada aplikasi biologi (MIPA), kedokteran dan sejenisnya. ”Belum ada yang berbasis teknik atau rekayasa seperti sudah lazim di Jepang, Eropa dan AS,” kata Dr. Arief B. Witarto, Ketua Yayasan Memajukan Bioteknologi Indonesia (YMBI), yang menjadi pembawa acara talkshow itu.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Paramadina, bekerjasama dengan YMBI, dan menghadirkan ahli bioteknologi kelas dunia asal Indonesia seperti Dr. Muhammad Arief Budiman, peneliti senior di perusahaan genom AS, Orion Genomics, dan Dr. Wahyu Purbowasito ahli ilmu genome imprinting, yang kini menjadi Kepala Lab Teknologi Gen di Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT.
Diskusi juga menyimpulkan bahwa, dengan mengembangkan bioteknologi berbasis teknik/rekayasa, manfaat bioteknologi akan lebih terdorong pada penciptaan produk yang harusnya menjadi tiang dari munculnya kewirausahaan bioteknologi (bioenterpreneurship). Kalau tidak, maka bioteknologi hanya akan menjadi ilmu dan penelitian yang tidak tuntas untuk menelorkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Itu sebabnya, perguruan tinggi sangat perlu mengembangkan minat pada bidang bioteknologi agar mejadi salah satu elemen masyarakat yang mendorong kemajuan dan berguna bagi bangsa.
Bioteknologi adalah gelombang ekonomi baru setelah teknologi informasi-komunikasi atau TIK yang sekarang mendominasi seluruh sektor kehidupan, dan menjadi kekuatan ekonomi dunia (orang-orang terkaya di dunia adalah wirausaha pemilik perusahaan TIK, seperti Microsoft, Google, dsb). Buktinya, sudah muncul dalam dunia kedokteran dan pertanian. Untuk kedokteran misalnya, obat-obat berbasis protein -- seperti insulin untuk diabetes dan inteferon untuk hepatitis -- telah menumbuhkan perusahaan farmasi baru seperti Genentech, Amgen, yang dapat bersaing dengan perusahaan farmasi tua seperti Bayer, dsb. Persis seperti ketika Apple dan Microsoft muncul menyaingi IBM, dll.
Besarnya perusahan-perusahaan farmasi baru itu karena produk-produk obat bioteknologi dirasakan benar manfaatnya -- karena lebih ampuh dan kurang efek sampingnya -- dibandingkan obat generasi sebelumnya (yang berbasis sintetik kimia). Di bidang pertanian, misalnya, banyak perusahaan kimia kini berhasil menjaring keuntungan besar melalui pemanfaatan bioteknologi dengan cara mengkombinasi produk pestisida, herbisidanya dengan tanaman budidayanya yang direkayasa genetika agar cocok dengan produk kimianya itu. Berkat hasil produksi herbisida dan kedelai transgenik yang anti herbisida, umpamanya, perusahaan ’Monsanto’ bisa meraup penjualan yang tinggi karena kedelainya sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk membuat tempe, tahu dan kecap. Sebagian besar kedelai diimpor Indonesia dari AS -- yang kebanyakan adalah produk transgenik sehingga murah dan produktifitas tinggi.
Bioteknologi dan Indonesia
Bioteknologi adalah teknologi yang berbasis sumber daya hayati. Karena rekayasa genetik, rekayasa protein, semua bersumber dari makhluk hidup. Keragaman hayati Indonesia adalah modal besar untuk Indonesia berjaya dalam era bioteknologi berikutnya. Sebuah situasi yang berbeda dengan era TIK yang berbasis pada sumber daya manusia semata. Indonesia tidaklah terlambat dalam memulai bioteknologi sejak 1980-an, Pemerintah membuat kebijakan, membangun lembaga dan mengirimkan sumber daya manusia belajar ke luar negeri. Sayangnya, dibanding negara berkembang lain seperti Kuba, bioteknologi sebagai upaya kewirausahaan/bioenterpreneurship belum tumbuh subur; sehingga belum ada satu pun produk bioteknologi dalam negeri yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sementara di Kuba, masyarakatnya sudah merasakan obat-obat bioteknologi dengan gratis, berkualitas, sampai pelayanan penyakit jantung dapat dilakukan di pusat-pusat layanan kesehatan (semacam Puskesmas di Indonesia) karena memproduksi produk-produk obat bioteknologi seperti streptokinase (untuk jantung), dan sebagainya.
Bioteknologi genom
DNA adalah dasar informasi biologi yang dimanfaatkan dalam bioteknologi. Keseluruhan DNA dari satu makhluk hidup disebut genom. Oleh karena itu talkshow seri pertama ini membahas bioteknologi genom/molecular genomics. Genom dipelajari dengan membaca urutan DNA penyusunnya. Saat ini, informasi genom manusia, bakteri, hewan, tanaman, sudah mulai selesai dibaca dan tersedia dengan gratis untuk dapat diakses melalui internet. Bagaimana kita mampu memanfaatkannya itu?
Sumber daya manusia bioteknologi Indonesia yang menjadi nara sumber talkshow ini adalah salah satu yang bekerja di bidang ini di AS. Dr. Muhammad Arief Budiman, menyelesaikan pendidikan S1, S2, S3 di AS pada bidang genom dan sekarang bekerja sebagai peneliti senior di perusahaan genom AS, Orion Genomics. Informasi genom dari tumbuhan yang dibaca, misalnya kelapa sawit, bisa memberikan informasi bagaimana meningkatkan produktivitas minyak sawit dengan cara merekayasa gen-gen yang penting dalam produksinya. Sebagai contoh kegiatan yang dilakukannya dalam aplikasi bioteknologi genom untuk pertanian.
Untuk kedokteran , misalnya, saat ini telah dipetakan gen-gen penyebab kanker payudara pada wanita, dan kanker prostat pada pria. Dengan pengetahuan itu, akan diproduksi perangkat diagnostik sehingga dapat mencegah munculnya kanker sebelum tumbuh meluas. Lebih dari itu, ia juga dapat menjadi cara mengobati penyakit-penyakit kanker dengan merancang obat khusus terhadap gen-gen yang aktif ketika menjadi kanker. Manfaat bioteknologi genom tidak hanya pada aplikasi bisnisnya, melainkan juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia seperti, siapa nenek moyang kita pertama, dari mana berasal, dsb. Proyek Genographic yang digelar oleh Yayasan National Geographics, AS dan IBM, umpamana, dilaksanakan untuk ”membaca” bagian genom tertentu dari suku-suku di seluruh dunia demi mencari tapak jejak asal usul manusia yang sampai pada satu titik, ibu pertama manusia (homo sapiens) di benua Afrika yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Nara sumber berikutnya, Dr. Wahyu Purbowasito menyelesaikan S1, S2, S3 di Jepang dan saat S3 mempelajari ilmu genome imprinting. Informasi dalam DNA ternyata dipadu dengan informasi dari lingkungan yang muncul sebagai respon dan tercatat di buku genom kita. Genome imprinting mempelajari bagaimana hal itu terjadi dan melihat korelasinya pada beberapa penyakit. Di Indonesia, Dr. Wahyu bergabung dengan Balai Pengkajian Bioteknologi dan menjadi Kepala Lab Teknologi Gen. Walaupun tidak lagi meneruskan studi serupa, tapi Lab ini tetap bergerak memanfaatkan teknologi genom yang mungkin berkembangan lebih jauh nanti sesuai kebutuhan.
Bioteknologi dan Paramadina
Kekurangan Indonesia yang lain dalam bioteknologi adalah kurangnya kuantitas sumber daya manusia, karena pendidikan bioteknologi yang ada terbatas jenjang S2, S3 dan hanya pada beberapa universitas negeri. Ini berbeda dengan negara tetangga Malaysia yang menyebar program studi bioteknologi sejak dari S1, seperti kondisi di negara maju lain.
Beberapa program studi S1 yang ada berbasis pada aplikasi biologi (MIPA), kedokteran dan sejenisnya. Belum ada yang berbasis teknik/rekayasa seperti sudah lazim di Jepang, Eropa dan AS. Dengan mengembangan bioteknologi berbasis teknik/rekayasa, manfaat bioteknologi akan lebih terdorong pada penciptaan produk yang harusnya menjadi tiang dari munculnya kewirausahaan bioteknologi (bioenterpreneurship). Kalau tidak, maka bioteknologi hanya menjadi ilmu dan penelitian yang tidak tuntas dalam upaya menghasilkan produk yang bermanfaat. Dengan semangat itu, Universitas Paramadina, mengembangkan minat pada bidang bioteknologi untuk mejadi salah satu perguruan tinggi yang mendorong kemajuan dan pemanfaatan bioteknologi di Tanah Air.
Monday, June 9, 2008
Prof. Dr. Iwan Darmansyah : Waspadai Efek Samping Obat Pada Lanjut Usia
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Bila seseorang memasuki masa lanjut usia maka gangguan yang perlu diwaspadai antara lain pendengaran, penglihatan, pikun, otot tungkai lemah, kegemukan , gigi dan keseimbangan badan perlu dijaga.
Seseorang menderita payah jantung karena mekanisme pompa jantung tidak mencukupi lagi. Sedangkan infark jantung terjadi karena pembuluh darah tersumbat. “Sayangnya saat ini yang diingat dokter untuk mengobati payah jantung adalah Digoxin padahal sesungguhnya Lasix (furosemen) merupakan pilihan yang lebih baik,” demikian dikatakan Prof. Dr. Iwan Darmansyah, Guru Besar Farmakologi FKUI.
Manusia lansia , masih kata Prof. Iwan, harus mampu mengendalikan hipertensi sebab tekanan darah tinggi tidak dapat dirasakan. “Hanya sedikit orang yang dapat merasakannya,” ujarnya.
Sudah begitu sebagian besar hipertensi tidak diketahui sebabnya dan obat harus diminum seumur hidup karena bersifat preventif.
Tekanan darah sistolik harus dijaga lebih besar dari 130 mm Hg sedangkan tekanan darah diastolik lebih besar dari 80 mm Hg. Menurunkan tekanan darah tinggi penting untuk mengurangi komplikasi stroke , payah jantung, infark dan gangguan fungsi ginjal.
Bagi penderita diabetes maka kontrol kesehatan perlu lebih ketat dibandingkan pengertian sebelum tahun 2000. Tidak cukup lagi dengan periksa gula darah puasa dan 2 jam sesudah makan tetapi memerlukan tes HbA1c yang lebih akurat yakni mencapai angka normal sekitar 6.
Yang paling penting bagi penderita diabetes adalah diet. Tak perlu melakukan diet khusus yang terpenting jangan menambahkan gula ke makanan. Sebaiknya porsi makan kecil sedang tetapi dengan selingan snack diantaranya.”Sering kali pas ien tidak mengetahui makanan apa saja yang dapat menyebabkan kadar gula naik termasuk makanan pemberian dari teman baik,” ujar pria yang telah berusia 70 tahun ke atas ini.
Friday, June 6, 2008
Berbagai Teori Penuaan dari Dr. C Heriawan Soejono
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Ada banyak sekali teori mengenai penuaan. Intinya, menerangkan terjadinya interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan (polusi, gaya hidup dan radiasi). Selain itu, seiring dengan berjalannya waktu setiap organisme pasti mengalami perubahan. Hal itu disampaikan DR.Dr. CZ. Heriawan Soejoeno, SpD,KGer,MEpid dari PERGEMI (Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia) dan Unit Geriartri Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM/FKUI dalam sebuah lokakarya lansia beberapa waktu lalu.
Teori pertama adalah Teori Mutasi Somatik. Akibat pajanan radiasi DNA tidak lagi membentuk protein sel yang semrstinya. Mitokondria sebagai pusat pembangkit energi sel apabila DNA terjadi mutasi tidak mampu lagi membentuk energi untuk sel. Akibatnya sel akan mati, jaringan akan rusak dan organ akan terganggu fungsinya.
Teori kedua adalah Teori Error yakni menyangkut kesalahan pembentukan protein. Kesalahan itu terjadi akibat berbagai macam sebab termasuk radiasi elektromagnetik. Apabila protein salah maka fungsi organ yang diemban akan terganggu. Hal itu kemudian diakumulasikan dari generasi ke generasi.
Teori ketiga adalah Teori Glikosilasi non-enzimatik yang mengkibatkan pembentukan protein abnormal. Kondisi itu mengganggu fungsi sel, mengganggu fungsi organ, mengganggu faal jaringan yang kemudian mengakibatkan organisme mati. Sampai sekarang belum ditemukan pencetus proses non enzimatis tersebut.
Teori keempat berupa Teori Neuro Endokrin yang menyangkut pernanan hormon dalam proses kehidupan. Menyangkut hipotalamus, hipofisis dan kelenjar anak ginjal.
Teori kelima adalah Teori Apoptosis. Menurut teori ini radiasi, toksin, HIV dan TNF menyebabkan transkripsi gen. Terjadilah perubahan kode genetik yang mengatur usia sel dan terjadi pula pembentukan beberapa enzim yang mengubah struktur cairan sel sehingga sel menyusut dan akhirnya mati. Akibatnya terjadi kematian sel yang terprogram dan perubahan tersebut terjadi secara turun menurun.
Teori keenam adalah Teori Imunologis. Proses menua seiring dengan penurunan kadar antibodi, peningkatan kadar natural killer cell serta penurunan faal sel limfosit-T.
Teori ketujuh adalah Teori Radikal Bebas. Teori ini cukup populer menyangkut kadar lemak tinggi. Akibatnya banyak ikatan atom yang mudah teroksidasi secara berlebihan. Kemudian terbentuk atom atau molekul yang susunannya tidak lengkap. Karena pengaruh medan magnet bumi kondisi atom menjadi sangat labil, reaktif dan mencari electron “pelengkap” . Kondisi itu merusakan struktur dinding organel di dalam sel (mitokondria) sehingga mengakibatkan kerusakan sel. Radikal bebas dapat dinetralisir dengan antioksidan alamiah. Namun, apabila radikal bebas terlalu banyak dan antioksidan kurang maka kerusakan sel tetap terjadi.
Teori kedelapan adalah Teori Telomer. Berdasarkan teori ini menyangkut ketidakmampuan melakukan replikasi ujung akhir kromosom membuat kromosom memendek yang berakibat pada kematian sel. Kondisi itu terjadi akibat sel kekurangan enzim telomerase yang berfungsi memperpanjang telomere (ujung akhir kromosom agar sel tidak mati).
Kesimpulannya, apapun teori yang dianut selalu ada unsur pengaruh atau peran genetik atau peran lingkungan (polusi, gaya hidup dan radiasi). Selain itu, ada pula upaya untuk memperbaiki faktor eksternal seperti upaya untuk menjadi tua dan sehat serta upaya mencegah penyakit degeneratif.
Bagaimana pendapat Anda?
Wednesday, June 4, 2008
Mengenal Tokoh Pendidikan Sumatera Barat Engku Muhammad Syafei
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Sejarah mencatat, sampai dengan tahun 1970-an Minangkabau adalah "gudang para pemimpin Republik". Saatnya untuk kembali berbenah diri, menggali kembali budaya Minang (etos kerja, falsafah hidup, adat dan tradisi Minang) menjadikannya "pupuk" untuk memupuk tanaman yang bernama "Indonesia".
Menurut Dr. Farid Anfasa Moelok, SpOG (K), mantan Menteri Kesehatan RI yang pernah sekolah di Kayutanam , Rabu pagi tadi, hal itu disebabkan Sumatera Barat memiliki lembaga pendidikan setingkat SMA yang hebat. Ketika Jawa memiliki tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswa maka Sumatera Barat pun mempunyai tokoh pendidikan yang tak kalah hebat yakni Engku Muhammad Syafei dengan Sekolah Menengah INS Kayutanam, yang terletak antara Padang dan Bukit Tinggi.
INS Kayutanam didirikan oleh Engku Muhammad Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayutanam, sebuah desa kecil di Sumatera Barat. Sejak berdiri hingga perang kemerdekaan, perguruan ini telah berkibar namanya, bersamaan dengan berkibarnya nama Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di pulau Jawa.
Sebagai lembaga pendidikan swasta, INS mengalami pasang surut di dalam kemajuan dan perkembangannya, namun demikian “ruh” pendidikan INS yang dikibarkan oleh Engku Muhammad Syafei tetap hidup, dan bahkan kemudian diakui oleh Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan sistem pendidikan nasional.
Pola pendidikan yang dianut dan diterapkan di INS adalah pendidikan berbasis talenta, ini didasarkan pada falsafah Minang yang tersimpul melalui ungkapan,
“Alam terkembang jadi guru” (belajarlah dari alam dan pelajarilah alam itu), dan ucapan Engku Syafei, “Janganlah minta buah mangga kepada pohon rambutan, tetapi jadikanlah setiap pohon menghasilkan buah yang manis! (setiap insan memiliki talenta berbeda), serta, “Jadilah engkau menjadi engkau!”
Oleh karena itu, dasar pendidikan di INS Kayutanam ini adalah mendorong tumbuh dan berkembangnya bakat bawaan (talenta) yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Ini yang “membedakan” pendidikan menengah di INS dengan pendidikan menengah yang kita kenal sebagai Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), atau Sekolah Menengah Kejuruan(SMK). “Perbedaan” juga terdapat dalam hal sebagai berikut :
Mata pelajaran Bahasa Indonesia (yang terkait dengan aspek akademik) di INS Kayutanam digunakan untuk merangsang tumbuh dan berkembangnya talenta peserta didik dalam bidang
1) Jurnalis,
2) Cerpenis,
3) Novelis,
4) Penulis Naskah:
• Drama,
• Skenario Filem,
• Skenario Sinetron (TV).
5) Penulis Buku,
6) Pengajar Bahasa Indonesia,
7) Penerjemah,
8) Editor Buku,
9) Editor Majalah,
10) Reporter TV,
11) Presenter TV,
12) Kejujuran,
13) Akhlak Mulia.
Hal yang sama juga berlaku untuk mata pelajaran matematika, bahasa inggris, fisika, biologi, kimia, dan mata pelajaran lainnya.
Alhasil peserta didik disiapkan untuk menjadi insan mandiri dan wirausahawan yang menciptakan lapangan kerja, bukan pegawai. Hal yang amat berbeda dengan pola pendidikan di Jawa yang disiapkan untuk menjadi pegawai negeri (ambtenar).
Bagaimana pendapat Anda?
Sumber data tambahan : Blog Kelompok Pengkaji Pemikiran Engku Muhammad Syafei
Tuesday, June 3, 2008
UI Jaring Dosen Asal Indonesia di Luar Negeri
Topic : Academic
By Hilda Sabri Sulistyo
Rektor UI Gumilar Rusliwa Sumantri akan menjaring dosen terkemuka asal Indonesia yang mengajar di perguruan tinggi di luar negeri untuk berkarya di Tanah Air sehingga dapat dibentuk Centre of Excellent.
"Status Universitas Indonesia sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) memungkinkan kami menyiapkan tenaga pengajar yang handal sehingga kami akan panggil pulang profesor dan doktor asal Indonesia yang mengajar di universitas terkemuka di Amerika Serikat dan negara lainnya," jelasnya seusai menandatangani MoU dengan Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas, Suyanto.
Gumilar mengungkapkan pihaknya tahun ini membuka peluang bagi 50 dosen yang memiliki basis riset asal Indonesia dengan tawaran gaji berkisar Rp15 juta/bulan. Jumlah itu bisa jadi pertimbangan mereka untuk pulang ditambah berbagai fasilitas lainnya. Meskipun gaji mereka selama ini di luar negeri jauh lebih besar, namun biaya hidup juga tinggi. 
"Di Indonesia jika kita bisa memenuhi kebutuhan mereka untuk penelitian, up-grade laboratorium, dan juga mampu mengirimkan mereka ke forum ilmiah yang bersifat internasional maka tantangan untuk mengabdi pada bangsa dan negara sendiri tentu patut dipertimbangkan."
Menurut dia, tidak tertutup kemungkinan pihaknya bukan hanya merekrut dosen asal Indonesia yang kini bermukim di luar negeri, tapi juga dosen asing asal India, Australia, Amerika Serikat dan dari negara-negara lain sesuai dengan kebutuhan keilmuan.
"Kalau kita dapat mengumpulkan para dosen top dunia asal Indonesia itu maka kita akan memiliki Center of Exellent yang kuat untuk menerima berbagai tantangan yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini," tandasnya.
Dia mencontohkan mengenai tantangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar kalangan akademisi mencari dan menjalankan energi alternatif di luar Bahan Bakar Minyak (BBM), misalnya.
"Kalau UI ditanya soal energi alternatif, kami siap, karena kami punya banyak ahli energi alternatif. Sejumlah ahli energi alternatif yang dimiliki UI antara lain, profesor Muhammad Nasikin, ahli mix energy, Rosali Saleh sebagai ahli nuklir, dan juga fisikawan UI yang juga ahli partikel teori Terry Mart (penerima Habibie Award untuk Ilmu Dasar tahun 2001).
Sumber : Harian Bisnis Indonesia, Selasa, 3 Juni 2008
Monday, June 2, 2008
Aspek Medik Transplantasi Ginjal di HUT ke-4 IKCC
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Transplantasi ginjal (TG) adalah pengobatan paripurna (Total Renal Replacement Teraphy) pada pasien gagal ginjal terminal (GGT). Disebut gagal ginjal terminal atau gagal ginjal tahap akhir bila fungsi ginjal sudah sangat terganggu dan hanya tinggal sekitar 5-15 % serta tidak mungkin diperbaiki dengan pengobatan konservatif berupa diet maupun obat-obatan. Keadaan ini merupakan tahap lanjut dari suatu penyakit ginjal yang dikategorikan sebagai penyakit ginjal kronis tahap 5 tanpa membedakan penyebabnya.
“Umumnya ukuran kedua ginjal sudah mengecil dan padat,” kata Dr. Tunggul D Situmorang SpPD –KGH, Direktur Ketua RS PGI Cikini, Jakarta Pusat dalam seminar awam yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun ke- 4 Indonesia Kidney Care Club (IKCC)di Auditorium RS PGI Cikini, Sabtu, 31 Mei 2008.
Pada tahap tersebut pasien membutuhkan pengobatan pengganti ginjal (renal replacement theraphy), berupa “cuci darah” (dialysis) baik dengan mesin (hemodialysis =HD) atau melalui perut (peritoneal dialysis = CAPD). Sayangnya tindakan dialisis tidak mungkin dapat menggantikan seluruh fungsi ginjal. Fungsi pembentukan darah dan metabolisme tulang tidak dapat digantikan dengan dialisis. Karena itulah transplantasi ginjal merupakan pilihan yang paling ideal dan paling tepata untuk saat ini. ( Catatan : sebelum teknologi Sel Punca / Stem Cell mampu menggantikannya kelak).
Transplantasi ginjal adalah memindahkan satu ginjal sehat kepada pasien GGT. Transplantasi ginjal berhasil dilakukan di dunia pertama kali pada 23 Desember 1954 oleh dr. Joseph Murray di Boston, AS. Ginjal itu berasal dari saudara kembar si pasien dan Joseph Murray kemudian berhak mendapatkan hadiah Nobel. Di Indonesia transplantasi ginjal baru berhasil dilakukan pada 1977 di RSCM dan RS PGI Cikini atas prakrasa Prof. Dr. R.P. Sidabutar (alm).
Keberhasilan TG sangat ditentukan oleh perencanaan, persiapan dan koordinasi yang baik oleh tim transplantasi mulai persiapan, saat malakukannya dan pasca operasi. Evaluasi medik untuk calon donor dan resipien perlu dilakukan secara seksama.
Donor ginjal bisa berasal dari orang hidup atau dari jenazah. Umumnya donor hidup mempunyai hubungan darah langsung dengan resipien seperti saudara kandung, ayah, ibu, anak kandung. Sementara yang tidak memiliki hubungan darah langsung atau ada hubungan emosi khusus (suami/istri) dapat diterima dengan syarat-syarat khusus. Di AS donor paling banyak berasal dari jenazah sementara donor hidup hanya 33 %.
Syarat sebagai donor sangat ketat sekali, di bawah ini daftar kriteria mereka yang tidak boleh menjadi donor ginjal :
1. Umur di bawah 18 tahun atau di atas 65 tahun.
2. Penderita hipertensi (tekanan darah di atas 140/90 mmHg atau dalam
pengobatan)
3. Penderita diabetes
4. Terdapat proten dalam urin ( di atas 250 mg/24 jam)
5. Terdapat riwayat batu ginjal
6. Fungsi ginjal di bawah 80 ml/ menit
7. Penderita Hematuri atau kelainan urologi lainnya
8. Penderita penyaklit kronis, kanker, tumor
9. Mengalami obesitas (lebih dari 30 % berat badan normal)
10. Penderita gangguan psikiatri
11. Memiliki riwayat gangguan darah
12. Memiliki riwayat sangat kuat adanya keluarga diabetes, sakit ginjal dan
hipertensi
Di RS PGI Cikini jumlah transplantasi ginjal saat ini baru 283 orang dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun. "Kendala utamanya dalah sangat terbatasnya pendonor ginjal yang rela memberikan ginjalnya baik untuk sesama anggota keluarga maupun orang lain yang membutuhkannya," ujar Dr. Tunggul.
Di Indonesia sumber donor ginjal hanya berasal dari orang hidup (living donor) sedangkan di negara Barat sebagain besar berasal dari donor jenazah (cadaveric donor). Di RS PGI Cikini sumber donor sebagian besar (54%) dari orang tua kandung (ayah/ibu), saudara kandung (18%), anak kandung (14%) dan sumber lainnya seperti istri dan saudara (14%).
Realisasi donor jenazah di Indonesia belum terwujud kendati telah ditandatangani kesepakatan di antara tokoh masyarakat dan rohaniawan pada tahun 1995 dengan nama “Kesepakatan Kemayoran”. Keengganan bahkan terkesan ketakutan menjadi donor ginjal disebabkan kurangnya sosialisasi dan informasi yang memadai. ‘Negara Islam seperti Iran malahan memiliki donor ginjal yang melimpah karena pemerintah dan kaum ulama memasukkan donor ginjal sebagai kegiatan amal yang layak diberi penghargaan mulia termasuk tunjangan pendidikan bagi anak-anak pendonor,” pungkas Dr. Tunggul.
Bagaimana pendapat Anda?
Saturday, May 31, 2008
Pengalaman 36 Tahun Krisbiantoro Bersama Penyakit Ginjal
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Tidak banyak yang tahu bahwa penyanyi dan pembawa acara kawakan, Krisbiantoro yang kini berusia 70 tahun ternyata mengalami gangguan ginjal sejak tahun 1972. Hal itu karena artis dalam empat generasi ini selalu tampak ceria dan masih tetap terlihat gagah di usianya sekarang ini. Apalagi bila ia berbicara mengenai kecintaannya pada negeri penuh koyak para koruptor ini.
Rahasia itu diungkapkan Krisbiantoro dalam cara berbagi pengalaman (sharing) pada acara ulang tahun ke - 4 Indonesia Kidney Care Club (IKCC) di Auditorium RS PGI Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 31 Mei 2008.
Sejak tahun 1975 Krisbiantoro secara rutin menjalani pemeriksaan ginjal di RS PGI Cikini, Jakarta Pusat hingga sekarang. Tetapi, ia mengaku selama 36 tahun menderita sakit ginjal itu tak jarang terkena godaan ”setan”. Kris pun mengaku pernah mengonsumsi berbagai jamu, makan darah ular dan menjalani pengobatan alternatif tetapi hasilnya sia-sia belaka. Tak jarang perilakunya itu terkadang malahan mengancam jiwanya. Tidak mengherankan bila ia harus menjalani opname di RS PGI Cikini hingga 4 (empat) kali.
Pengalaman terakhirnya yang paling menegangkan adalah ketika ia bermaksud melakukan cangok ginjal di Guangzhuo, RRC. Selama 2 bulan di sana bukannya memperoleh kesembuhan tetapi Krisbiantoro malahan menjadi permainan “calo cangkok ginjal” di sana. Jiwanya pun ikut terancam karena hasil pemeriksaan dua rumah sakit menunjukkan hasil yang berbeda mengenai antibody tubuhnya, ketiadaan donor ginjal yang sesuai dan namanya pun diganti menjadi Li Ping untuk menghilangkan jejak. Walhasil, Krisbiantoro yang gagal cangkok ginjal malahan tetap sehat wal afiat sampai sekarang. Sementara, teman-temannya yang berhasil dioperasi di RRC malahan tidak sedikit yang meninggal dunia.”Semua sudah diatur yang di atas,” ujarnya.
Mantan penyanyi di klub Tropicana itu pun akhirnya kembali mempercayakan perawatan ginjalnya di bawah pengawasan Dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH yang merupakan Koordinator Ilmu Penyakit Dalam Ginjal Hipertensi sekaligus Direktur Ketua RS PGI Cikini. Selama kurun waktu 30 tahun RS PGI Cikini berhasil melakukan transplantasi ginjal terhadap 283 pasien. “Kita harus percaya pada kemampuan bangsa kita sendiri,” Krisbiantoro menamnahkan.
Kini sang pemandu acara yang dulu dikenal lewat lagu Dondong Opo Salak dan Lembah Hitam itu memenuhi komitmennya bahwa pada saat umurnya mencapai 70 tahun akan mengabdi untuk bangsa dan negara. Bentuknya bisa melalui bagi pengalaman, lagu, buku biografi yang hasil penjualannya di amalkan untuk RS Cikini dan sebagainya.
Krisbiantoro hingga kini hidup bahagia di rumahnya yang asri --- lengkap dengan kolam renang untuk olahraga sehari-hari --- di Kawasan Cibubur bersama istrinya yang asal Vietnam, Nguyen Kim Dung. Asal tahu saja, pria yang sewaktu remaja biasa menempuh perjalanan ke sekolah dengan bersepeda dari Magelang ke Jogyakarta itu dikaruniai dua putri yang cantik-cantik.
Dr. Handrawan Nadesul : Pentingnya Perilaku Hidup Sehat
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Setiap makluk memiliki umurnya. Umur nyamuk bertahan beberapa minggu, lebah pekerja beberapa bulan, tikus 4 tahun, burung kolibri 12 tahun, anjing 15 tahun, gajah 70 tahun, ikan paus 100 tahun, kura-kura 150 tahun sedangkan manusi mempunyai “umur emas” 120 tahun.
Dr. Robert Butler dari National Insritute of Aging, AS meniscayai tubuh manusia dirancang memiliki biogentic maximum life span hingga 120 tahun.
Kalau umur harapan hidup orang sekarang lebih pendek dari potensi biologisnya, tentu hal itu disebabkan salah kelola. Bahkan , orang AS yang dianggap lebih sehat umur harapan hidupnya baru 76 tahun.
Lee Luan Yew, Mantan Perdana Menteri Singapura, yang mewarisi DNA panjang umur 85 tahun awalnya menyangka kesehatan itu diberikan oleh Tuhan. Pengetahuan yang salah itu membuat Lee sewaktu muda merokok, minum alkohol dan memiliki tubuh yang gemuk.
Sekarang ia merasakan kondisi tubuhnya tidak sehat secara utuh lagi. Sistem persyarafan tubuhnya sudah lemah sehingga motoriknya juga sudah layu. Lee Kuan Yew mengaku sangat menyesal dan berpesan pada generasi muda Singapura ,”Jangan meniru perilaku tidak sehat saya.”
Banyak penyebab mengapa bangsa di suatu negara tidak mencapai umur biologis optimalnya. Faktor musim, keadaan perang, kultur, ekonomi, tingkat pendidikan dan derajat kesehatan bangsa, semua mempengaruhi umur harapan hidup. Di tingkat negara. Penyebab terbesar lantaran factor ulah salah manusia.
Faktor ulah salah manusia berarti orang tidak sepenuh hati melakoni hidup sebagaimana yang diminta ilmu kedokteran. Bisa jadi karena ketidaktahuan. Orangtua, sekolah, pemerintah di Indonesia tidak mendidik anak-anak dengan perilaku hidup sehat.
Akibatnya beban layanan kesehatan Indonesia sampai saat ini masih didominasi lingkaran setan berupa buruknya sanitasi, kurang gizi, dan penyakit infeksi.
Hal itu karena pendidikan kesehatan Indonesia gagal membentuk perilaku sehat. Sementara program penyuluhan Puskesmas tidak optimal. “ Akibatnya 80 % masyarakat kita belum melek sehat, “ ungkap dr. Handrawan dalam lokakarya "Menuju Lansia Sehat" tanggal 28 Mei lalu.
Oleh karena itu, dr. Handrawan mengusulkan pembentukkan masyarakat melek sehat dengan pembangunan kesehatan di hulu yakni :
1. Membangun perilaku sehat anak sekolah
2. Mengubah perilaku tidak sehat masyarakat luas
3. Mengubah substansi kurikulum pendidikan kesehatan
4. Revitalisasi puskesmas
5. Menggalaklan program dokter kecil
Lalu bagaimana agar seseorang dapat meraih panjang umur? Menurut dr. Handrawan bila ingin panjang umur hendaknya kita belajar dari penduduk Okinawa di Jepang. Rata-rata orang Okinawa berumur seratus tahun. Bukan sekadar panjang usia belaka. Mereka menikmati hidup sentosa sepanjang hayatnya. Ini berdasarkan studi yang dilakukan Harvard Medical School selama 25 tahun yang kemudian diterapkan di dunia medis dengan nama “Program Okinawa”.
Dari Okinawa terbuka tabir rahasia panjang umur. Ternyata rahasianya terletak pada pola makan mereka yang serba alami, porsi kecil dan berpantang menu olahan.
Mereka memilih menu alami kaya karbohidrat, jenis padi-padian, kacang-kacangan, biji-bijian, umbi-umbian. Selain sayur-mayur dan buah-buahan segar. Porsi protein lauk-pauknya tak berlebihan dan lebih didominasi yang berasal dari ikan. Penduduk Okinawa sesedikit mungkin menyantap menu daging atau unggas dan beralih lebih banyak ikan dari laut dalam.
Bagaimana pendapat Anda?
Thursday, May 29, 2008
Titus K. Kurniadi : “Kalau Bisa Sehat, Kenapa Harus Sakit?”
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Kesehatan bukan segalanya tetapi tanpa kesehatan segalanya tidak ada artinya.(Health is not everything, but without health, everything is nothing) Itulah kata-kata mutiara yang selalu didengung-dengungkan drs. Titus K. Kurniadi, Ketua Umum Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI).
Dengan mengutip buku dr. Handrawan Nadesul berjudul “Sehat itu Murah” (2007) bahwa hampir tak ada penyakit yang tak dapat dicegah, Titus pun makin yakin hampir semua penyakit dapat dicegah. “Syaratnya tentu saja daya tahan tubuh harus kuat untuk menghadapi penyakit,” katanya pada Lokakarya "Menuju Lanjut Usia Sehat" di Jakarta, Rabu lalu.
Salah satu caranya adalah dengan menerapkan Pola Hidup Sehat yang terdiri dari :
1. Pola makan yang sehat dan alami yang berasal dari sumber nabati.
2. Olahraga yang teratur setiap hari.
3. Istirahat yang cukup 7- 8 jam per hari.
4. Mengelola kejiwaan dengan harmonis.
Sakit dan penyakit, menurut Titus, paling banyak terjadi sebagai akibat kesalahan sendiri karena menjalankan pola hidup yang tidak sehat. Bagaimana dengan penyakit keturunan? Tentu saja masih ada, katanya, tetapi sedikit. Bagaimana dengan usia yang makin lanjut? Masih ada juga, katanya, tetapi tidak banyak. Bagaimana dengan penyakit yang disebabkan lingkungan? Ada juga tetapi sekali lagi sedikit jumlahnya.
Dengan pengalamannya sendiri itu pria berpostur tinggi besar itu kemudian menuliskannya dalam sebuah buku berjudul, “Kalau Bisa Sehat, Kenapa Harus Sakit?”
Perubahan hidup Titus berawal setelah ia membaca buku karangan Rev. George H. Malkmus berjudu; “You Don’t Have to Be Sick” (www.hacres.com) pada 2003. Kemudian sejak 15 Mei 2003 hingga sekarang Titus mempraktikkan pola makan sehat yang ketat itu setiap hari sampai sekarang.
Ingin tahu pola makan sehari-hari yang dipraktikkan Titus :
1. Pagi hari setelah bangun tidur, ia meminum 1 sendok makan Barley. Makan paginya berupa buah atau oatmeal atau roti whole wheat. Sekitar pukul 10.00 pagi ia mengonsumsi jus sayur yang terdiri dari brokoli, seledri, tomat, timun, asparagus dan campuran sayuran lainnya.
2. Makan siang. Menu utamanya adalah Salad yang dicampur sayur masak sebagai dressing dilengkapi tahu, tempe dan beras merah. Kemudian pukul 16.00 ia meminum jus wortel.
3. Makan malam. Menu sama dengan makan siang. Bagaimana bila perut masih terasa lapar? Ia mengganjal perutnya dengan mengonsumsi buah-buahan. Kemudian diselingi minum air putih dan teh hijau.
Sedangkan bahan makanan yang harus dihindarkan atau dikurangi, menurut Titus, adalah sebagai berikut :
1. Semua produk hewani.
2. Gula pasir.
3. Garam meja.
4. Minyak goreng.
5. Nasi putih dan roti putih.
6. Rokok.
7. Alkohol.
8. Hormon.
Ringkasnya makanan tersebut di atas masih boleh dikonsumsi tetapi,”Jangan sering-sering dan jangan banyak-banyak,” pesannya.
Pada dasarnya, Titus ingin mengembalikan fungsi makan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit bukan untuk mencari yang enak untuk dikonsumsi.
Meski umur di tangan Tuhan, namun kesehatan sesungguhnya berada di tangan kita masing-masing. “Yang penting bukan kuantitas kehidupan melainkan kualitas kehidupan. Bukan hidup sampai usia berapa melainkan menjalani sebuah kehidupan yang bermakna.” ia menambahkan. .
Kesimpulannya, mencegah lebih penting daripada mengobati. Bagaimana pendapat Anda?
Wednesday, May 28, 2008
Dari Lokakarya Menuju Lanjut Usia Sehat
Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Lokakarya dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2008 bertemakan “Menuju Lanjut Usia Sehat” diselenggarakan di Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial RI, Rabu, 28 Mei 2008. Acara tersebut merupakan kerjasama Komnas Lansia, Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI), Perhimpunan Gerontontologi Indonesia (Pergeri) dan Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi).
Lokakarya diresmikan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah selaku Ketua I Komnas Lansia disaksikam Ibu Inten Suweno, selaku Ketua II Komnas Lansia. Dalam sambutannya Menteri Sosial menyoroti pertumbuhan penduduk kelompok usia 60 tahun ke atas dibandingkan kelompok usia lainnya. Antara tahun 1970 dan 2025 pertumbuhan lanjut usia diperkirakan sekitar 694 juta atau 223 persen. Tahun 2025 terdapat sekitar 1,2 milyar penduduk usia 60 tahun ke atas. Pada tahun 2050 jumlahnya meningkat menjadi 2 milyar dengan 80 persen hidup di negara berkembang.
Di Indonesia pada tahun 2008 jumlah penduduk lanjut usia berjumlah 14,4 juta orang dan diperkirakan pada tahun 2020 jumlahnya berlipat dua menjadi 28,8 juta.
“Selama ini timbul stigma di masyarakat bahwa orang lanjut usia itu uzur, sakit-sakitan dan bergantung pada orang lain.” ujar Bachtiar Chamsyah.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian karena banyak pula kaum lansia yang aktif beraktivitas dan tetap sehat. Hidup sehat kemudian menjadi dambaan setiap orang.
Mensos kemudian mengutip beberapa karya pegiat di kalangan lanjut usia seperti buku karangan dr. Handrawan Nadesul “ Jurus Sehat Tanpa Ongkos”, atau buku drs. Titus K. Kurniadi “ Kalau Bisa Sehat, Mengapa Harus Sakit?” atau slogan almarhum dr. Susilo Wibowo “Sehat OK, Sakit Noway.”
Selama tahun 2008 ini, Depsos berencana membantu sekitar 5000 orang lanjut usia terlantar dengan bantuan sebesar Rp 300.000 per bulan per orang. “Jumlahnya akan ditingkatkan lagi tahun depam menjadi 10.000 orang,” Bachtiar menambahkan.
Dalam lokakarya tersebut tampil beberapa pembicara antara lain Prof. Tribudi W. Rahardjo, Dr. C. Heriawan Soejono. Drs. Titus Kurniadi, dr. Handrawan Nadesul, Prof. Dr. Iwan Dharmansyah. Dr. Tony Setiabudi, Dr. Siti Setiati, dr. Samino, Dr. Lindawati Kusdhany, Dr. Sulastri dan Dra. Eva AJ. Sabdono, MBA
Dalam presentasinya Prof Tribudi W. Rahardjo dari Komnas Lansia mengemukakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan peringkat keempat terpadat di dunia dan kesepuluh terpadat untuk populasiu lanjut usia.
Pada tahun 2020 jumlah lanjut usia akan meningkat menjadi 28,8 juta atau 11 % dari total populasi penduduk Indonesia. Kurang lebih sekitar 70 % kaum lanjut usia menderita penyakit kronis. Penyakit-penyakit tersebut sesungguhnya dapat dihindari akan tetapi buku panduan mengenai Lanjut Usia Sehat masih sangat terbatas.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
4:56 PM
|
Labels: academic, Business, Government
Tuesday, May 27, 2008
Cara Baru Meningkatkan Kemampuan Kognitif Otak
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Selama ribuan tahun orang mencari obat yang mereka harapkan akan mampu meningkatkan kekuatan mental sekaligus stamina. Dedaunan, akar-akaran dan buah-buahan dikonsumsi, difermentasi dan diasapi untuk meningkatkan kemampuan otak. Pencarian berlanjut hingga kini dengan perbedaan peran pengobatan alternatif kini telah digantikan obat yang berasal dari laboratorium farmasi dibandingkan obat yang berasal dari tanaman di hutan.
Manusia mencari obat untuk mengatasi penyakit Alzheimer, stroke dan penyakit demensia yang berhubungan dengan penyakit Parkinson dan Schizophrenia. Dengan menciptakan senyawa yang bermanfaat bagi penderita maka itu pun meningkatkan kesehatan mental pula.
Beberapa obat berfungsi meningkatkan fungsi kognitif otak. Mereka bekerja dalam proses syaraf yang melakukan aktivitas seperti perhatian, persepsi, pembelajaran, pengingat, kemampuan berbahasa, perencanaan dan pengambila keputusan. Laporan paling mutakhir berjudul “Brain science, addiction and drugs” di The Academy of Medical Science dari Inggris menunjukkan banyaknya obat-obatan yang beredar untuk meningkatkan kemampuan otak dan akan menjadi tren dalam dekade mendatang.
Sir Gabriel Horn, seorang periset di Universitas Cambridge menyatakan bahwa para ilmuwan kini sedang meneliti sekitar 600 obat-obatan untuk mengatasi kerusakan syaraf. Dua diantaranya yang terkenal adalah Ritalin (methylphenidate) dan Provigil (modafinil) yang mampu meningkatkan fungsi kognitif pada orang sehat. Provigil, misalnya, menambah kemampuan untuk mengingat beberapa digit ekstra pada fungsi daya ingat. Sebab umumnya orang dengan mudah mengingat angka random dengan tujuh digit tetapi susah untuk mengingat secara random yang berjumlah delapan digit. Selain itu, obat itu ikut memperbaiki kinerja seseorang dalam melakukan tugas perencanaan.
Awal tahun ini jurnal Nature melakukan survei secara informal dengan hasil sebagai berikut : Satu berbanding lima dari 1400 orang yang disurvei menunjukkan mereka mengonsumsi Ritalin, Provigil dan beta blockers (obat yang memiliki efek anti anxiety). Mereka menggunakannya untuk menstimulasi fokus, konsentrasi atau meningkatkan daya ingat. Sebanyak 62 persen responden memilih Ritalin dan 44 persen Provigil, yang diperoleh melalui resep dokter ataupun membelinya langsung melalui internet.
Salah satu yang berfungsi sebagai transmiter sel syaraf adalah Glutamate. Senyawa ini membuat switch pada otak berada dalam kondisi “on” (menyala) dalam bentuk sirkuit memori. Senyawa ampakines diketahui meningkatkankan aktifitas glutamate sehingga memudahkan proses daya ingat.
Cortex Pharmaceuticals, yang berabasis di Irvine, California, merupakan salah satu perusahaan yang mengembangkan ampakine. Salah satu senyawanya yang dikenal dengan kode CX717 sedang diujicobakan pada penderita Alzheimer lanjut usia. Tidak seperti caffeine, amphetamines and stimulan lainnya , CX717 tidak menimbulkan efek samping pada tekanan darah maupun peningkatan denyut jantung. Yang lebih penting lagi ampakine tidak menimbulkan efek kecanduan.
Uniknya, booster dari glutamate lainnya yakni D-cycloserine digunakan bukan untuk meningkatkan fungsi daya ingat melainkan justru menguranginya. Hal itu karena proses “unlearning” memiliki proses yang mirip dengan proses pembelajaran.
Pendekatan lain untuk meningkatkan fungsi kognitif adalah dengan menggunkan transmiter sel syaraf yang disebut Acetylcholine. Cholinergic neuron berfungsi untuk meningkatkan daya konsentrasi, fokus dan proses berfikir. Pada penyakit Alzheimer sistem cholinergic ini yang diperlemah.
Di masa mendatang segmen “Mind Expansion” ini akan menjadi bisnis besar. Kendati obat diciptakan untuk mengobati penyakit, namun sangat sulit mencegah penggunaan obat itu pada orang sehat yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan otaknya.
Bagaimana pendapat Anda?
Sumber : "All On the Mind", The Economist, 22 Mei 2008
Monday, May 26, 2008
Vaksinasi HPV untuk Mengatasi Kanker Serviks
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Diperkirakan satu dari enam penyakit kanker disebabkan infeksi. Infeksi yang berasal dari virus menyumbang sekitar 70 persen dari keseluruhan kanker yang disebabkan infeksi.
Dalam kasus itu Human Papillomavirus (HPV) dianggap bertanggung jawab terhadap munculnya kanker dibandingkan virus penyebab kanker lainnya. Terutama sebagai penyebab kanker serviks, yang merupakan kanker penyebab kematian nomor dua bagi wanita di seluruh dunia.
Hal itu disampaikan Dr. Douglas R. Lowy, dalam Keynote Speech berjudul “The Prevention of Cervical Cancer By HPV Vaccination And Other Approach” dalam Simposium di MRIN / UPH, Lippo Karawaci, Tangerang , 10 Mei lalu.
Dr. Lowy merupakan Chief of the Laboratory of Celluler Oncology (LCO) di National Cancer Institute/National Institute of Health (NIH) sejak tahun 1983. Mulai tahun 1996, ia menjadi Deputy Director of NCI’s Division of Basic Sciences (DBS) dan the Center for Cancer Research (CCR). Pada tahun 2001 DBS menjadi bagian dari CCR. Karirnya di NIH telah dijalaninya selama lebih dari 30 tahun.
Dr. Lowy meraih gelar dokter di New York University dan mendalami masalah penyakit dalam di Stanford University dan penyakit kulit di Yale University. Ia memperoleh pelatihan riset laboratorium di Jan Vilcek di New York University dan Wallace Rowe di National Institute of Allergy and Infectious Diseases.
Sekitar 80 persen kanker serviks terjadi di negara sedang berkembang. Terdapat sekitar 15 tipe HPV yang berbeda yang menyebabkan kanker serviks, tetapi sekitar 70 persen kanker serviks ditimbulkan oleh tipe HPV 16 dan HPV 18.
Menurut Dr. Lowy, infeksi genital HPV dikenal secara umum sebagai penyakit menular seksual dan di negera industri angka kejadian infeksi cukup tinggi pada tahun pertama setelah terjadinya aktivitas seksual.
Temuan berbagai vaksin baru yakni vaksin prophylactic HPV berhasil melumpuhkan tipe HPV 16 dan 18. Salah satu vaksin malahan mampu melumpuhkan HPV 6 dan 11, yang dianggap 90 persen bertanggung jawab terhadap timbulnya kutil pada alat kelamin. Oleh karena itu, akan lebih hemat biaya bila vaksin diberikan pada wanita sebelum mereka aktif secara seksual.
Saat ini harga vaksin HPV terlalu mahal untuk disebarluaskan di negara berkembang. Generasi kedua vaksin HPV sedang dikembangkan dengan fungsi yang lebih ampuh tetapi dengan harga yang lebih terjangkau.
Bagaimana Pendapat Anda?





