Friday, July 4, 2008
Friday, June 27, 2008
Lima Prinsip Dasar Orang Singapura
Topic : Government
By Ari Satriyo Wibowo
Suatu ketika mantan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. Farid A. Moeloek, Sp OG (K) berkunjung ke Singapura. Dalam sebuah pertemuan ia terlibat diskusi dengan warga negara negeri Singa itu.
Singaporean : “ Prof. Moeloek, Indonesia have a very beautiful five principles called Pancasila. But it was very normative.”
Prof. Moeloek : “ What is your principles?”
Singaporean : “We also have five principles. But our principles is much more simple than you are. And very easy to remember.”
Prof. Moeloek :” Would you please mentions your five principles?”
Singaporean : Number One. One Wife.
Number Two. Two Children.
Number Three. Three bedrooms.
Number Four. Fourwheels.
Number Five. Five Thousands US$ of salary (at least).
Wah, ternyata sederhana sekali lima prinsip dasar orang Singapura. Mereka bersepakat untuk menikah dengan satu istri. Kalau memiliki anak maksimal dua anak. Mereka juga cukup menghuni apartemen dengan tiga ruang tidur. Sudah begitu mesti punya kendaraan roda empat alias mobil. Dan yang tidak kalah penting adalah memiliki gaji paling sedikit US$ 5.000 per bulan (atau setara hampir Rp 50 juta per bulan ).
Lima prinsip dasar orang Singapura itu memang sederhana dan mudah diingat. Bandingkan dengan Pancasila yang memang indah tetapi susah diraih. Buktinya, masih banyak rakyat Indonesia yang belum bebas dalam beragama dan dilanda kemiskinan dan menderita kelaparan. Pokoknya cita-cita adil makmur masih jauh sekali rasanya.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
7:38 PM
|
Labels: Government
Saturday, June 21, 2008
Pertanian Kecil Multifungsi Ternyata Amat Produktif
Sumber gambar : http://www.fao.org/organicag/doc/v6640e0l.jpg
Topic :Government, Business
By Ivan A Hadar
World Food Programme atau WFP belum lama ini menyatakan, ”Akibat melejitnya harga pangan dunia, sekitar 100 juta orang bakal kelaparan.”
Badan PBB ini menyebut kondisi saat ini sebagai the silent tsunami, petaka yang melanda diam-diam (WFP, 22/4/2008).
Oxfam, sebuah LSM dari Inggris, memperkirakan setidaknya 290 juta orang terancam kelaparan akibat krisis pangan. Setelah kenaikan harga BBM dan melonjaknya harga kebutuhan pokok, kita patut cemas, hal itu akan menjadi kecenderungan di negeri ini (Kompas, 7/6/2008).
Tajuk Kompas (7/6/2008) menulis, berapa pun jumlahnya dan di mana pun mereka berada, kelaparan adalah tragedi kemanusiaan yang harus diatasi bersama. Ironisnya, sebagian dari mereka yang (terancam) kelaparan adalah petani. Perwakilan petani kecil dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pangan di Roma, baru-baru ini, menyatakan muak terhadap kesimpulan pertemuan puncak itu yang sama sekali tidak menyuarakan kepentingan mereka. Padahal, berdasar temuan banyak studi, ketahanan pangan sebagian besar bertumpu pada produksi pertanian kecil multifungsi (Roman Herre, 2008).
Temuan ini berbeda dengan konsep lembaga multilateral, macam Bank Dunia atau Global Donor Platform on Rural Development, yang lebih memprioritaskan agroindustri berorientasi pasar dunia dan menjadi penyuplai jaringan supermarket global.
Konsep yang mengusung argumentasi produktivitas dan kuantitas ini sedang merancang ”Revolusi Hijau” bagi Afrika, dengan mempromosikan bibit hibrida yang telah dipatenkan dan memanfaatkan tanaman yang telah dimanipulasi secara genetik dalam pertanian industrial dan monokultural. Semua itu membutuhkan irigasi, pupuk, dan pestisida yang tak terjangkau petani kecil, buruh tani, komunitas adat, dan organisasi perempuan.
Pertanian kecil multifungsi memang tidak hanya berdasar kalkulasi ekonomi, tetapi lebih pada ketahanan pangan lokal dan nasional, bertambahnya lapangan pekerjaan dan merupakan bagian integral budaya serta sistem pengetahuan pedesaan. Meski sering dituding mempromosikan romantisme small is beautiful, berbagai studi menunjukkan, lokasi yang pas, cara berproduksi ramah lingkungan, dan pertanian skala kecil ternyata amat produktif. Sebaliknya, sistem monokultur dan industrialisasi pertanian adalah penyebab utama punahnya banyak jenis tanaman.
Di Filipina sebelum Revolusi Hijau, misalnya, ada sekitar 3.000 jenis padi. Kini, 98 persen lahan pertanian negeri itu hanya ditanami dua jenis padi, juga di Indonesia. Menurut perkiraan, sepanjang abad ke-20, sekitar 75 persen tanaman berguna, termasuk tanam pangan, telah punah. Padahal, keragaman adalah prinsip keberlangsungan alam sebagai persyaratan utama penyesuaian terhadap perubahan kondisi lingkungan. Ketika iklim gonjang-ganjing yang berdampak pada pertanian, kemampuan itu menjadi sebuah keharusan.
Isu mendesak adalah akses terhadap lahan. Menurut lembaga PBB Hunger Task Force, penyebab utama kelaparan adalah ketimpangan ekstrem distribusi lahan. Penggusuran dan pada sisi lain konsentrasi berlebihan kepemilikan lahan memarjinalkan dan memblokir pembangunan pedesaan. Pendekatan berorientasi teknologi dan pasar tidak menyelesaikan, bahkan mempertajam masalah. Untuk membeli bibit, pupuk, dan pestisida, petani gurem sering harus berutang. Saat semua tidak terbeli, mereka akan kehilangan lahan.
Pengalaman mancanegara mengajarkan, aksesibilitas atas tanah merupakan persyaratan terpenting pembangunan pertanian dan pedesaan (Brandt/Otzen, 2002). Karena itu, reformasi agraria menjadi sebuah keharusan. Aksesibilitas atas tanah (landreform) adalah ”bahasa” ekonomi-politik baru, di mana salah satu kata kuncinya adalah property rights. Penggunaan istilah aksesibilitas mengingatkan kita kepada Amartya Sen dan asumsinya tentang entitlement, yaitu tak seorang pun harus lapar karena di dunia ini tersedia cukup makanan. Mereka yang lapar hanya karena tidak memiliki akses (untuk memproduksi) makanan.
Di India, sejak tahun 1950-an, beberapa negara bagian melakukan reformasi pemanfaatan lahan, tanpa perubahan status menjadi pemilikan, tetapi dengan memperkuat posisi penyewa serta menghapus institusi makelar. Lewat reformasi soft ini, tercatat penurunan kemiskinan yang signifikan lewat peningkatan pendapatan per kapita orang miskin (Besley/Burges, 2000).
Landreform yang kurang begitu berhasil terjadi di Amerika Selatan dan terakhir di Filipina disebabkan oleh keterbatasan dana, birokrasi yang njlimet, dan korup serta resistensi politis para tuan tanah. Meski demikian, jawaban atas kelemahan reformasi agraria oleh negara, demikian La Via Campesina, bukan liberalisasi, melainkan memperbaiki dan memperkuat peran negara. Reformasi agraria adalah kewajiban penegakan hak asasi manusia (HAM) oleh negara, yaitu hak atas makanan.
Pemerintah berkewajiban atas pemenuhan hak asasi paling mendasar ini dengan memberi akses lahan, bibit, air, dan sumber-sumber produktif lainnya agar mereka bisa menyediakan sendiri makanannya, demikian Sofia Monsalve, koordinator kampanye internasional reformasi agraria ”Bread, Land and Freedom”, yang didukung La Via Campesina. Tanpa itu, kita akan memanen apa yang sudah menjadi kenyataan di beberapa negara, yaitu kerusuhan yang dipicu kelaparan.
Ivan A Hadar, Koordinator Nasional Target MDGs (Bappenas/UNDP); Pendapat Pribadi
Sumber : Artikel Opini Kompas, Sabtu, 21 Juni 2008 dengan judul asli “Memerangi Kelaparan” karangan Ivan A Hadar.
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
10:57 AM
|
Labels: Business, Government
Wednesday, June 18, 2008
Ekspektasi Orang Asing Bila Mereka Tinggal di Indonesia
Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Banyak orang asing yang ingin tinggal di Indonesia tetapi sayangnya Indonesia masih memiliki masalah dalam hal citra di mata internasional. Sudah begitu orang asing membutuhkan tiga hal yakni peraturan yang jelas, ijin untuk memiliki properti dan aturan keiimigrasian yang kondusif. Hal itu disampaikan Clifford Rees, Senior Partner PricewaterhouseCoopers dalam diskusi menjadikan Indonesia sebagai Rumah Kedua bagi Pensiunan Asing Manca Negara di Gedung Kalbe, Rabu pagi.
Rees yang berumur 50 tahun sudah menghabiskan waktu sekitar 24 tahun di Indonesia. Itu berarti separuh dari hidupnya dihabiskan di Indonesia. Tak heran bila ia mengetahui dengan mendalam seluk beluk Indonesia. Kelemahan Indonesia menurutnya karena wilayahnya terlalu luas. Sudah begitu masih ada sisi negatif Indonesia berupa kemiskinan, buta huruf, pengangguran dan gangguan kemananan. Juga rasa nasionalisme yang berlebihan.
Lokasi yang diminati orang asing dari Eropa adalah Bali, Lombok, Jakarta dan Jogya. Sedangkan yang menjadi motivasi para pensiunan asing untuk tinggal di Indonesia adalah faktor cuaca dan atmosfer.
Kalau orang asing khususnya para pensiunan tertarik untuk tinggal di Malaysia adalah karena di sana mereka tidak dikenakan pajak alias terkena pajak 0%. Para pensiunan asing tidak diperkenankan bekerja di Malysia tetapi mereka boleh berinvestasi menanmakan modal, saham, obligasi, reksa dana dan sebagainya. “Malaysia has comfortable legal system and security,” ujar Rees.
Bila ingin membidik para pensiunan asing, menurut Rees, penuhi saja kebutuhannya. Mereka memerlukan restoran yang bagus untuk menikmati hidangan bermutu, mal serta arena hiburan. Mereka juga membutuhkan komunitas sebangsa atau senegara. “Orang Inggris ingin tinggal bersama orang Inggris, orang Jerman dengan orang Jerman,” Rees menambahkan.
Khusus untuk membangun komunitas daerah di Jagorawi dapat dikembangkan sebagai komunitas golf antar bangsa. Itu yang bisa dikembangkan sebagai daya tariknya. "Jakarta merupakan kota yang memiliki lapangan golf paling banyak di dunia yakni lebih dari 70 buah,” kata Rees, “Selain itu, dipandang dari segi biaya akomodasi maka Jakarta adalah kota yang paling murah di dunia.”
Agar nyaman tinggal di Indonesia maka para pensiunan asing itu tentu saja masih membutuhkan infrastruktur, fasilitas medis, pemeliharaan kesehatan, tempat hiburan dan tempat belanja yang lebih baik.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
5:00 PM
|
Labels: academic, Business, Government
Tuesday, June 17, 2008
Depkes Luncurkan Situs ASEAN+3


Topic : Government
By Ari Satriyo Wibowo
Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP(K) , Selasa pagi ini di Gedung Depkes, meresmikan beroperasinya program tukar informasi tentang penyakit infeksi baru (emerging infectious diseases) di negara-negara ASEAN ditambah Cina, Jepang dan Korea Selatan (ASEAN + 3). Program berbasis jaringan internet ini akan dikelola oleh Depkes dengan dukungan Sekretariat ASEAN dan USAID.
Situs www. ASEANplus3-eid.info akan menjadi ajang tukar informasi dan diskusi tentang penyakit-penyakit infekso yang bermunculan serta menjadi sumber informasi bagi pembuat kebijakan, pengelola program, dan pemangku kepentingan. Diharapkan kelengkapan informasi dan intensitas diskusi akan mendorong makin dalamnya pemahaman terhadap masalah-masalah kesehatan yang sedang terjadi, dan terciptanya intervensi untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut.
Departemen Kesehatan RI akan mengelola situs sebagai sumbangan bagi upaya regional untuk mencegah dan mengendalikan penyakit. Kesinambungan informasi di dalamnya terutama menjadi tanggungjawab ASEAN Experts Group (Kelompok Pakar ASEAN) dan ASEAN + 3 Focal Points for Communication and Information Sharing (Narasumber Utama untuk Komunikasi dan Pertukrana Informasi ASEAN + 3)
Dr. Siti Fadilah Supari dalam sambutannya menyatakan bahwa meski berbagai penyakit menular seperti cacar dan polio telah dapat dikendalikan, berbagai jenis penyakit lain yang baru bermunculan belum dapat sepenuhnya dikendalikan. Kini, dengan kemajuan transportasi tingginya lalu lintas manusia, maka penyalit menular lebih mudah menyebar antar Negara. Karenanya penting menjalin kerjasama antara Negara demi efektifitas pengendalian penyakit menular. Kerjasama yang saling menguntungkan perlu dikembangkan dan terus menerus dipelihara dengan baik.
Menkes juga mengingatkan bahwa kemutakhiran informasi situs bergantung pada seluruh amggota. Data, berita, kebijakan dan diskusi baru pelu terus disumbangkan para ahli dari negara-negara anggota ke falam wadah yang telah dibentuk ini.
ASEAN + 3 beranggotakan Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Vietnam, China, Jepang dan Korea.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
2:02 PM
|
Labels: Government
Thursday, June 12, 2008
Fenomena Obama dan Internet
Internet telah mengubah pola pengumpulan dana untuk membiayai kampanye pemilihan presiden di AS. Obama berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan calon presiden dari Partai Demokrat karena kepiawaiannya memanfaatkan peluang dari Internet. Melalui situs social networking FaceBook, Obama berhasil menghimpun donasi dari 1,3 juta orang yang rata-rata menyumbang kurang dari 200 dolar AS. Sementara kandidat lainnya masih mengandalkan donasi dari para lobbyist dan kalangan pengusaha besar. Apakah Indonesia mampu mengambil inspirasi dari Obama sehingga dana pemilu 2009 dapat dihimpun dari para fans kandidat presiden yang berasal dari situs social networking seperti Friendster, misalnya ? Itulah sebabnya blog ini memutuskan untuk menurunkan kembali artikel Philips J. Vermente yang dimuat di Kompas hari ini :
Topic : Government
By Philips J. Vermonte
Berakhirnya pemilihan pendahuluan untuk memilih calon presiden dari Partai Demokrat, posisi Barack Obama sebagai figur penting dalam politik di AS kian kokoh.
Banyak tulisan menggambarkan karisma Obama yang ditandai dengan kepiawaiannya berpidato sebagai sebab utama mengapa Obama tampil begitu fenomenal dalam kampanye pemilihan presiden AS kali ini.
Figur baru
Obama yang berkulit hitam dinilai sebagai figur inspirasional, menjadi ajang pembuktian American dream di mana tidak ada yang bisa membatasi mimpi seseorang. Obama menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi calon presiden AS.
Namun, diskusi yang dibatasi karisma atau kepiawaian berpidato akan mengaburkan pesan mendasar Obama, yaitu tentang munculnya sebuah ”politik baru” dalam lanskap politik di AS.
Obama adalah figur baru dalam politik AS. Namun, idealisme dan pengalamannya selama beberapa tahun menjadi community organizer di sudut miskin Chicago selepas lulus Universitas Harvard meyakinkan Obama bahwa politik harus bersifat bottom-up, bukan top-down. Keyakinan untuk mewujudkan politik bottom-up ini mewarnai cara Obama mengelola kampanyenya.
Majalah The Atlantic Monthly (Juni 2008) menurunkan laporan tentang mesin politik Obama. Kunci kesuksesan Obama adalah kemampuannya mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam seluruh kampanyenya.
”Kampanye” paling awal Obama adalah sebuah malam pengumpulan dana di Silicon Valley. Pengumpulan dana yang berlangsung sebelum Obama resmi mendeklarasikan diri menjadi calon presiden ini terbukti menjadi basis bagi mesin kampanyenya. Para entrepreneur teknologi di Silicon Valey, dari perusahaan kecil dan besar, bergabung dengan Obama dan membantu merancang kampanye pengumpulan dana melalui internet. Chris Hughes, pendiri situs Facebook—sebuah jaringan sosial berbasis internet paling populer di kalangan mahasiswa dan pelajar di AS— memutuskan cuti dari perusahaannya itu agar bisa bekerja full-time di markas besar tim kampanye Obama di Chicago.
Jaringan sosial berbasis internet itu selanjutnya menjadi tulang punggung penggalangan dana dan media bagi para relawan dalam tim kampanye Obama.
Berkat kecanggihan memanfaatkan jaringan internet, tim kampanye Obama menuai hasil spektakuler. Data terakhir menunjukkan, tim kampanye Obama memiliki 750.000 relawan aktif, 8.000 kelompok pendukung, dan tim ini mengorganisasi 30.000 events dalam 15 bulan kampanye pemilihan pendahuluan. Video-video rekaman pidato dan event-event yang dihadiri Obama bisa diakses gratis melalui podcast di iTunes store. Hasilnya, ratusan ribu orang bisa merasakan gemuruh pendukung Obama di tempat kampanye dan menangkap pesan kampanye melalui layar iPod masing-masing. Youtube, Facebook, iPod-podcast, dan My-space. Secara cerdas, internet dimanfaatkan Obama dengan efektivitas yang tak dapat ditandingi kandidat lain.
Dominasi internet
Donasi melalui internet adalah politik baru yang dibawa tim kampanye Obama. Tercatat, Obama menerima donasi dari 1,3 juta orang melalui internet. Kenyataan ini menghancurkan paradigma lama pengumpulan dana melalui lobbyist dan pebisnis besar. Obama lebih mengandalkan donasi berjumlah kecil dari massa pemilih yang berjumlah jutaan orang. Tim kampanye Obama melaporkan, 94 persen donasi yang mereka terima datang dari individu-individu yang menyumbang kurang dari 200 dollar AS.
Angka ini amat kontras bila dibandingkan dengan 26 persen yang dilaporkan Hillary Clinton dan 13 persen yang dilaporkan John McCain, calon presiden dari Partai Republik. Saat Hillary dan John McCain masih mengandalkan donor-donor besar, Obama mentranslasikan politik bottom- up yang dipelajari sebagai community organizer ke dalam pengumpulan dana kampanye menuju Gedung Putih.
Seperti ditulis The Atlantic Monthly, sejarah AS mencatat, transformasi cara berkomunikasi secara reguler mengubah wajah politik AS. Andrew Jackson membentuk Partai Demokrat saat teknologi printing mengalami kemajuan pesat pada awal tahun 1800-an. Andrew Jackson mengorganisasi editor dan penerbit untuk membentuk partai politik. Abraham Lincoln tampil menjadi tokoh legendaris setelah transkrip debat dalam kampanye presidennya yang terkenal disebarluaskan melalui koran-koran yang saat itu menjamur di AS.
Franklin Roosevelt memimpin AS melalui masa-masa sulit mengampanyekan program New Deal secara efektif melalui pesan regulernya di radio yang saat itu sedang disempurnakan. John Kennedy menjadi amat populer setelah debat antarcalon presiden dan pertama kali disiarkan televisi. Sejak itu, Kennedy cermat memanfaatkan televisi untuk memperkuat citranya.
Gairah baru
Hal terpenting lainnya, kampanye Obama membawa gairah baru bagi pemilih di AS. Bersama Hillary, berlomba untuk mencatat sejarah sebagai calon presiden wanita pertama di AS, tim kampanye Obama berhasil memobilisasi voter turnout dalam jumlah mengejutkan. Pemilihan presiden AS kali ini agaknya akan menjadi counter argument bagi ilmuwan politik Robert Putnam yang dalam bukunya, Bowling Alone (2001), mensinyalir, publik AS kian apatis secara politik, antara lain diindikasikan oleh penurunan secara drastis jumlah pemilih yang memanfaatkan hak pilihnya dari tahun ke tahun.
Philips J Vermonte , Peneliti CSIS Jakarta; Kandidat Doktor Ilmu Politik di Northern Illinois University, AS
Sumber : Kompas, 12 Juni 2008
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
9:27 AM
|
Labels: Government
Wednesday, June 11, 2008
Kontroversi Laptop 100 Dolar AS ala Negroponte
Topic : Business, Government
By Suryanto
Gebrakan Asus dan Intel dengan laptop murahnya "Eee PC" dan Zyrex dengan "Anoa" mengagumkan banyak orang. Namun, sesuatu yang lebih dahsyat tengah berlangsung saat pendiri lembaga nirlaba "One Laptop Per Child" (OLPC) Prof Nicholas Negroponte mengembangkan produk sejenis yang jauh lebih murah.
OLPC mengembangkan laptop super murah, yang harganya hanya 100 dolar per unit, atau kurang dari Rp1juta.
Laptop yang diproduksi untuk program bantuan bagi anak-anak sekolah di negara berkembang itu mengundang reaksi dari berbagai kalangan, baik pakar maupun industri teknologi informasi, hingga politikus yang diperkirakan akan mengambil manfaat dari program itu untuk mendongkrak popularitasnya di mata rakyat.
Sebagian kelompok merasa terusik karena harga yang lebih murah untuk jenis barang sama tentu akan mengganggu keberadaan barang sejenis lainnya yang dijual dengan harga lebih mahal.
Kalau mengatakan "program bantuan ini akan merusak pasar laptop" dianggap tabu, beberapa kalangan memprediksi bahwa karya Negroponte dan XO (perusahaan perakitnya) ini akan melemahkan penjualan laptop yang telah ada di pasaran.
Seorang peneliti senior di perusahaan riset dan konsultan teknologi informasi Gartner, Brian Gammage, dengan terus terang menyebut kemunculan OLPC akan diamati dengan cermat oleh para produsen personal komputer dunia, sebab hal itu akan menjadi bagian dari porsi pasar yang mereka sedang sasar.
Jika tidak ada implikasi yang ditimbulkan pada kategori spesifikasi peralatan dan biaya pembuatannya, kemudian tidak ada gangguan yang ditemukan dalam jumlah produksinya, maka akan banyak konsumen yang membeli laptop ini.
"Itu merepresentasikan kanibalisasi dalam sebuah industri yang selalu dalam tekanan," kata Brian kepada sebuah media Inggris.
Sebuah situasi tidak menguntungkan terbangun ketika para pembuat PC terjebak dalam industri yang tidak sehat karena mereka akan terus bersaing dalam margin yang rendah.
Sebelumnya pun, persaingan ketat sudah berlangsung ketika banyak perusahaan menghadapi penjualan yang rendah dan sama-sama memilih produk jinjing dan praktis sebagai satu jalan keluar. Para produsen PC pun berlomba-lomba membuat "PC portable" alias laptop yang pasarnya tumbuh dengan sangat cepat.
Upaya produsen PC itu ternyata tidaklah cukup, karena entah sudah diprediksikan atau belum, para pembuat peralatan "portable" jenis lain seperti "smart-phone" juga mengikuti langkah mereka.
Terlebih industri yang kedua ini jauh lebih mahir dalam membuat dan merakit komponen kecil dalam peralatan yang berukuran kecil itu.
"Perang" pernyataan untuk mempertahankan citra produk yang merasa terancam pun dibangun.
Dengan alasan yang sangat realistis, general manajer di Intel, Willy Agatstein, mengatakan bahwa sangat tidak sepadan jika laptop buatan XO dan gadget sejenis keluaran Asus bersama Intel itu dibandingkan dengan laptop berbasis PC yang sudah dikembangkan HP, Dell, Sony, maupun Acer selama ini.
Laptop 100 dolar dari XO dan Eee PC punya Asus, serta Anoa dari Zyrex adalah dua alat yang dirancang untuk suatu kegunaan yang unik, yakni membantu dunia pendidikan bagi anak-anak di negara berkembang. Dengan alasan itu, maka alat itu menonjolkan pertimbangan jangkauan harga dengan spesifikasi dan fungsi yang disesuaikan alias lebih terbatas.
"Tidak ada satu ukuran yang pas buat semua," kata Willy.
Menanggapi berbagai komentar mengenai langkahnya itu, Negroponte mengatakan, akan mengabaikan kritik-kritik mengenai proyeknya itu.
Laptop untuk program "One Laptop Per Child" memiliki spesifikasi yang sangat berbeda dengan laptop pada umumnya, sebagaimana dikupas oleh penggagasnya Nicholas Negroponte di internet baru-baru ini.
Untuk memastikan bahwa laptop itu sempurna sebagai peralatan yang mudah dipelihara, maka beberapa perlengkapan yang mudah dipasang dan dilepas sengaja tidak disertakan.
Laptop buatan XO tersebut tidak dilengkapi dengan CD maupun DVD drive. Prosesornya yang berkemampuan rendah juga tidak dilengkapi dengan kipas pendingin.
Sementara kapasitas "hard drive"-nya adalah 1 GB, seperti umumnya digunakan kamera digital.
Pengembangan perlengkapan memory dapat dilakukan dengan memanfaatkan slot "memory card" yang ada di bawah layar atau dengan memasang perangkat melalui port USB (universal serial bus) yang ada di sisi kotak layar.
Mengatasi kapasitas "hard drive" yang hanya 1 GB ini, pengguna yang sasarannya adalah anak-anak sekolah menyimpan file ke dalam komputer server besar yang dipasang di ruang sekolah atau dengan memanfaatkan fasilitas online yang dikembangkan Google, sang mesin pencari raksasa.
Chip prosesor dalam laptop ini adalah buatan AMD yang memiliki kemampuan kecepatan hanya 433 Mhz. Sebagai perbandingan PC terbaru saat ini rata-rata memiliki prosesor berkecepatan di atas 3 Ghz.
Prosesornya juga dirancang hemat energi. Berbeda dengan prosesor komputer pada umumnya yang tetap aktif meski tidak ada aktivitas yang tampak di layar, prosesor untuk laptop ini bisa "shut down" sendiri dan baru aktif ketika dibutuhkan saja.
Graphic card dibuat "in-built" (menyatu dengan komponen utama/mother board).
Perangkat wi-fi "adapter"-nya juga tetap bisa berfungsi meski prosesor utamanya sedang tidak aktif. Perangkat wi-fi yang terpasang juga mendukung "wireless protocol" yang digunakan di kantor-kantor dan rumah.
Salah satu bagian laptop itu yang sangat unik adalah komponen untuk suplai energi.
Selain bisa memanfaatkan energi matahari melalui "solar panel" yang terpasang, laptop ini juga bisa disuplai energi melalui alat engkol yang didesain seperti "yo yo", sedangkan ketika berada di ruangan berlistrik, laptop ini hanya membutuhkan 18 watt.
Sosok pioner
Nicholas Negroponte adalah seorang pionir Internet, penulis, dan pria yang memiliki visi-visi besar dan mulia.
Sebagai pendiri dan pimpinan OCPL, sebuah organisasi non-profit, Negroponte telah bekerja keras untuk mengusahakan penggunaan komputer dalam dunia pendidikan di negara-negara miskin di dunia.
Sejak 2005 fokus dari proyek Negroponte adalah membuat sebuah laptop inovatif yang akan didistribusikan bagi anak di negara berkembang dengan biaya hanya 100 dolar.
Guru di bidang komputer asal Amerika ini telah memperoleh dua gelar arsitek profesional bidang teknologi dari the Massachusetts Institute of Technology pada 1960-an dan kemudian mendirikan MIT`s Architecture Machine Group pada 1968.
Pada tahun 1980-an, ia memimpin MIT Media Laboratory, ketika banyak teknologi yang memanfaatkan "revolusi digital" dikembangkan, termasuk komunikasi nirkabel, dan pendekatan progresif mengenai bagaimana anak belajar.
Seorang rekannya di MIT, Profesor Ken Morse, menjulukinya sebagai "seorang pemimpin yang tak pernah kenal lelah".
Kini kerja keras dan keinginan Negroponte terwujud, keinginannya untuk memfasilitasi penggunaan perangkat teknologi tinggi di kalangan anak-anak negara miskin sudah ia buktikan.
Uruguay adalah negara pertama yang menyambut baik program laptop murahnya.
Negara di Amerika Selatan ini membeli 100.000 unit laptop yang digagas Negroponte, untuk dibagikan bagi anak sekolah usia 6 tahun hingga 12 tahun.
Selanjutnya pemerintah negara ini kemungkinan akan membeli hingga 300.000 unit untuk bisa menyediakan satu laptop per anak pada 2009.
Di Nigeria, laptop OCPL juga sudah dinikmati oleh 300 anak sekolah berkat dukungan Ayo Kusamotu, seorang pengacara dan sukarelawan yang mendukung OCPL di negara Afrika itu.
Menyusul Nigeria, sedikitnya 6.500 anak sekolah di daerah Caldas, Kolumbia juga segera mendapatkan laptop itu.
Lalu kapan laptop murah tersebut bisa dinikmati anak-anak negara miskin atau berkembang di belahan dunia lain, termasuk Indonesia? Sinergi pemerintah dan pengusaha agaknya menjadi pihak yang bakal dapat mempercepat perwujudannya.
Sumber : AntaraNews
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
6:49 AM
|
Labels: Business, Government
Tuesday, June 10, 2008
Mengenal Fasilitas Rawat Inap Terpadu Gedung A RSCM
Topic : Government
Dalam rangka peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional RSCM kini memiliki Gedung Pelayanan Rawat Inap terpadu yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 7 Mei 2008 lalu.
Pelayanan rawat inap terpadu merupakan intergrasi 9 Bagian di RSCM, yaitu; Kebidanan & Kandungan, Bedah, Bedah Saraf, THT, Penyakit Dalam, Anestesi, Mata, Kulit dan Kelamin, dan Geriatri. Dengan didukung oleh peralatan dan fasilitas modern, seluruh kebutuhan pasien diupayakan semaksimal mungkin dilayani dalam satu atap.
Gedung rawat inap terpadu A (public wing) memiliki 8 lantai, terdiri dari 169 kamar rawat, dengan total kapasitas 900 tempat tidur, menjadikan Public Wing sebagai unit rawat inap terbesar di Indonesia.
Anggaran pembangunan gedung rawat inap terpadu A berasal dari dana APBN 2006 dan 2007 sebesar Rp109 miliar dan dana Pendapatan Negara Bukan Pajak-Badan Layanan Umum RSCM sebesar Rp14 miliar.
Sebagai bagian dari rumah sakit umum pusat nasional, gedung public wing RSCM memiliki keunggulan dari aspek kualitas sumber daya manusia baik dokter spesialis, perawat, dan tenaga ahli lainnya. Profesi berbagai disiplin ilmu kedokteran siap melayani pasien dengan kemampuan terbaik yang dimilikinya. Selain itu gedung ini memiliki fasilitas pelayanan laboratorium, farmasi, unit pelayanan gizi, radiologi, ruang operasi, rehabilitasi medik, billing center dan rumah singgah.
Pelayanan terpadu ini juga didukung oleh manajemen rumah sakit yang berbasis komputerisasi. Manajemen klinik maupun finansial pelayanan pasien dirangkum dalam satu kesatuan sistem informasi terintegrasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) dalam sambutannya dalam peresmian public wing itu menyatakan, pembangunan gedung ini merupakan satu wujud komitmen peningkatan mutu pelayanan rawat inap dengan pelayanan yang terstandarisasi bertaraf internasional. Hal ini merupakan salah satu langkah untuk merealisasikan arahan Presiden pada Rapat Terbatas Bidang Kesehatan Tahun 2007 yang lalu, yaitu untuk mengembangkan ”World Class Hospital”.
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
11:39 PM
|
Labels: Government
Monday, June 2, 2008
Diperlukan Peta Potensi Energi Alternatif
Topic : Government
Menghadapi krisis energi yang dihadapi bangsa, pemerintah daerah diimbau membuat peta potensi berbagai energi alternatif yang ada di wilayah masing-masing, khususnya potensi energi terbarukan.
"Pemerintah daerah perlu memetakan energi terbarukan sehingga pengembangan energi alternatif bisa segera dilakukan sesuai dengan potensi setiap wilayah," kata anggota staf pengembangan program Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Rita Kristiyani, kepada wartawan, Jumat (30/5) di Gedung Rektorat UGM, Yogyakarta.
Rita mencontohkan, potensi air untuk dikembangkan menjadi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) masih sangat besar di berbagai wilayah di Indonesia. Potensi air cukup mudah ditemukan di daerah yang topografinya berbukit-bukit. Selain untuk listrik, pengembangan PLTM juga bermanfaat dalam menjaga kelestarian lingkungan, yaitu hutan, tanah, dan air. Karena itu, pemerintah daerah perlu lebih serius mengembangkan potensi tenaga mikrohidro ini.
Berdasarkan data sekunder dan analisis hidrologi yang tepat, pembuatan PLTM bisa dirancang dengan baik. Dengan bantuan pemetaan potensi energi alternatif, perancangan PLTM maupun sumber-sumber energi alternatif lain bisa segera ditindaklanjuti.
Untuk menghemat energi, Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Tumiran juga mengusulkan agar masyarakat ekonomi mampu memasang sel surya atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala rumah tangga di rumah masing-masing. Dengan menggunakan PLTS, keluarga mampu diharapkan tidak lagi menggunakan listrik dari PLN.
"Penghematan bisa mencapai Rp 10 triliun per tahun. Industri baterai berkembang, lapangan kerja akan terbuka," kata Tumiran.
Sumber : Kompas, 31 Mei 2008
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
8:39 AM
|
Labels: Government
Wednesday, May 28, 2008
Dari Lokakarya Menuju Lanjut Usia Sehat
Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Lokakarya dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2008 bertemakan “Menuju Lanjut Usia Sehat” diselenggarakan di Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial RI, Rabu, 28 Mei 2008. Acara tersebut merupakan kerjasama Komnas Lansia, Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI), Perhimpunan Gerontontologi Indonesia (Pergeri) dan Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi).
Lokakarya diresmikan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah selaku Ketua I Komnas Lansia disaksikam Ibu Inten Suweno, selaku Ketua II Komnas Lansia. Dalam sambutannya Menteri Sosial menyoroti pertumbuhan penduduk kelompok usia 60 tahun ke atas dibandingkan kelompok usia lainnya. Antara tahun 1970 dan 2025 pertumbuhan lanjut usia diperkirakan sekitar 694 juta atau 223 persen. Tahun 2025 terdapat sekitar 1,2 milyar penduduk usia 60 tahun ke atas. Pada tahun 2050 jumlahnya meningkat menjadi 2 milyar dengan 80 persen hidup di negara berkembang.
Di Indonesia pada tahun 2008 jumlah penduduk lanjut usia berjumlah 14,4 juta orang dan diperkirakan pada tahun 2020 jumlahnya berlipat dua menjadi 28,8 juta.
“Selama ini timbul stigma di masyarakat bahwa orang lanjut usia itu uzur, sakit-sakitan dan bergantung pada orang lain.” ujar Bachtiar Chamsyah.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian karena banyak pula kaum lansia yang aktif beraktivitas dan tetap sehat. Hidup sehat kemudian menjadi dambaan setiap orang.
Mensos kemudian mengutip beberapa karya pegiat di kalangan lanjut usia seperti buku karangan dr. Handrawan Nadesul “ Jurus Sehat Tanpa Ongkos”, atau buku drs. Titus K. Kurniadi “ Kalau Bisa Sehat, Mengapa Harus Sakit?” atau slogan almarhum dr. Susilo Wibowo “Sehat OK, Sakit Noway.”
Selama tahun 2008 ini, Depsos berencana membantu sekitar 5000 orang lanjut usia terlantar dengan bantuan sebesar Rp 300.000 per bulan per orang. “Jumlahnya akan ditingkatkan lagi tahun depam menjadi 10.000 orang,” Bachtiar menambahkan.
Dalam lokakarya tersebut tampil beberapa pembicara antara lain Prof. Tribudi W. Rahardjo, Dr. C. Heriawan Soejono. Drs. Titus Kurniadi, dr. Handrawan Nadesul, Prof. Dr. Iwan Dharmansyah. Dr. Tony Setiabudi, Dr. Siti Setiati, dr. Samino, Dr. Lindawati Kusdhany, Dr. Sulastri dan Dra. Eva AJ. Sabdono, MBA
Dalam presentasinya Prof Tribudi W. Rahardjo dari Komnas Lansia mengemukakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan peringkat keempat terpadat di dunia dan kesepuluh terpadat untuk populasiu lanjut usia.
Pada tahun 2020 jumlah lanjut usia akan meningkat menjadi 28,8 juta atau 11 % dari total populasi penduduk Indonesia. Kurang lebih sekitar 70 % kaum lanjut usia menderita penyakit kronis. Penyakit-penyakit tersebut sesungguhnya dapat dihindari akan tetapi buku panduan mengenai Lanjut Usia Sehat masih sangat terbatas.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
4:56 PM
|
Labels: academic, Business, Government
Monday, May 26, 2008
Jumlah Penduduk Lansia Jepang Meningkat Pesat

Topic : Government
By Ari Satriyo Wibowo
Tidak lama setelah Perang Dunia II usai proporsi penduduk Jepang usia 65 tahun ke atas adalah sebesar 5 persen dari keseluruhan populasi, jumlah itu lebih rendah dibandingkan Inggris, Perancis dan AS. Sekarang jumlah lansia Jepang merupakan seperlima dari populasi dan rata-rata umur harapan hidup orang Jepang meningkat pula. Rata-rata umur harapan hidup kini menjadi 82 tahun, meningkat dibandingkan hanya 50 tahun pada tahun 1947.
Hingga tahun 2015 diperkirakan proporsi penduduk lansia akan menjadi satu berbanding empat dibandingkan jumlah populasi penduduk atau lebih dari 30 juta orang. Hal itu disebabkan anjloknya angka kelahiran bayi dari 2,1 persen pada 1970-an menjadi hanya 1, 26 persen pada tahun 2005. National Institute and Social Security Research memperkirakan pada tahun 2050 jumlah penduduk Jepang sekitar 95 juta dengan 40 persen penduduknya terdiri dari kaum lansia.
Bila antara 1947 dan 1949, terjadi boom kelahiran bayi sejumlah 2,7 juta setahun sebagai akibat kembalinya tentara Jepang yang selamat dari medan tempur yang lalu menikah dan hidup mapan. Kini generasi baby boomers itu telah memasuki masa pensiun dengan usia rata-rata 60 tahun. Mereka dalam kondisi sejahtera karena perusahaan dan pemerintah memberikan skema dana pensiun yang bagus.
Mengapa jumlah lansia meningkat sedangkan jumlah orang muda menurun ? Salah satu penyumbang terbesar terhadap fenomena itu adalah sistem kerja yang disebut Kaisha di perusahaan Jepang yang lebih menghargai senioritas serta jam kerja yang panjang. Di Jepang seorang yang pulang larut malam lebih dihargai dibandingkan yang pulang awal dari kerja. Akibatnya interaksi hubungan suami istri turun secara drastis yang mengakibatkan turunnya angka kelahiran secara signifikan pula.
Akibatnya diagram penduduk Jepang telah berubah dari bentuk pohon menjadi layang-layang dengan proporsi penduduk lansia yang makin meningkat. Bagaimana pendapat Anda?
Sumber : The Economist
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
4:11 AM
|
Labels: Government
Saturday, May 24, 2008
Menristek Kunjungi Teluk Buyat yang Diduga Tercemar
Topic : Government
Sumber:http://graphics8.nytimes.com/images/2005/03/27/international/27indo.xlarge1.jpg
Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman mengunjungi Teluk Buyat di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, sekaligus mengambil sampel untuk meneliti kandungan bahan beracun berbahaya (B3) yang diduga mencemari teluk itu.
Menristek bersama sejumlah peneliti dari berbagai perguruan tinggi, dengan menggunakan kapal cepat (speed boat) mengambil sampel air di dasar laut untuk selanjutnya diperiksa di laboratorium independen.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menugaskan Kementrian Ristek untuk melibatkan tim independen, meneliti perairan Teluk Buyat yang diduga tercemar arsenik dan merkuri akibat pertambangan rakyat dan aktivitas PT Newmont Minahasa Raya.
Di Jakarta telah menjadi perdebatan sengit antara Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lingkungan Hidup, hingga LSM tentang keberadaan perairan Buyat.
Hasil dari penelitian itu akan disampaikan juga kepada publik, jika nantinya perairan tersebut tidak terbukti ada limbah B3, harus direhalibilitasi opini yang selama ini berkembang pada masyarakat.
Pemerintah juga mendukung itikad baik (goodwill agreement) dilakukan PT Newmont Minahasa Raya, terkait dana comunity development sekitar Rp300 miliar untuk jangka waktu sampai 2010, di wilayah areal tambang Ratatotok-Buyat, Kabupaten Mitra.
Penyaluran bantuan dari PT Nemont Minahasa Raya kepada pemerintah melalui Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kesra) pada Agustus 2006 lalu, lebih diarahkan pada program perluasan baru pengembangan masyarakat.
Kemudian ada pemantauan (panel) ilmiah selama sepuluh tahun, jaminan jangka panjang terhadap lingkungan sehat dan aman.
Dana tersebut akan dikelola sebuah yayasan melibatkan stakholders seperti perwakilan masyarakat, kalangan independen serta mewakili perusahaan pertambangan PT NMR.
Program penting dan utama dari bantuan dana PT NMR adalah peningkatan kesehatan, pendidikan serta infrastruktur melalui yayasan berbadan hukum itu.
Sumber : AntaraNews
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
10:30 AM
|
Labels: Government
Friday, May 23, 2008
Sekali Lagi Tentang Kehebatan Dubai
Tulisan tentang Dubai di berbagai milis ataupun yang telah dimuat di blog ini Kamis (15/05) minggu lalu dengan judul “Keajaiban Pembangunan di Dubai” selalu mengundang komentar. Ibu Dr. Evi Arifin dari ISEAS Singapura telah menuliskan komentarnya tentang Dubai via email sebagai berikut :



Topic : Government
By Evi Arifin
Koran The Straits Times memberitakan sebanyak dua halaman
penuh tentang dua tempat yang aduhai di Dubai: The Palm Jumeriah dan
The World. Prof. Dr. Syamsuhidayat melalui milis menyebut semuanya
buatan manusia visioner dan penuh pemikiran canggih dengan seluruh
kemampuan berbagai teknologi turut dicurahkan dalam pembangunan itu.
Siapakah pemiliknya? Menurut berita koran tersebut, Sheikh Mohammed
Rashid Al Maktoum, the vice president and Prime Minister of the UAE
and ruler of Dubai.
Diberitakan bahwa kedua tempat itu direklamasi selama 5 tahun dengan
menghabiskan jutaan kubik pasir dan batu. Namun tak dijelaskan, dari
manakah asal batu dan pasir itu? Adakah pulau-pulau kita yang ribuan
itu "bermigrasi" ke Dubai?
The World seluas 931ha terbagi menjadi 300 pulau-pulau buatan yang
diberi nama antara lain "Australia, New Zealand, Antartica".
Siapa pembeli pulau-pulau kecil itu, antara lain. David Beckham, Brad Pitt,
Angelina Jolie, dan Rod Stewart. The World menghabiskan 320 juta
kubik pasir dan 34 milyar kg batu.
The Palm yang seluas kira-kira 600 kali lapangan bola menghabiskan 94
juta kubik pasir dan 7 milyar kilo batu-batuan. Dua buah F-100 Super
Sabre fighter jet ditenggelamkan untuk menciptakan kehidupan laut
buatan.
Berapakah harga Vila di sana? Untuk vila dengan 5 kamar seharga 14
milyar rupiah, demikian ujar seorang mantan pebisnis asal Inggris
yang membeli vila sebagai tempat tinggal saat berlibur. Dalam setahun
dia dan keluarga hanya menggunakannya selama 5 minggu. Lalu
selebihnya bagaimana? Dia sewakan kepada para "Holiday makers". Tak
tanggung-tanggung, dia membeli lagi sebuah villa yang lebih besar.
Sudah kaya tambah kaya. Makanya dia pensiun muda. Usianya baru 44
tahun. Sungguh menarik bagaimana dia membiayai "masa tua" nya. Saya
kini bertanya pada diri saya "Bisakah saya membiayai hari tua nanti?"
Bagi mereka "The Universe" adalah impian berikutnya yang akan
dibangun. Pulau-pulau baru akan dibentuk bagaikan "Tata
Surya". Adakah Indonesia menyumbang pasir dan batu?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
10:44 AM
|
Labels: Government
Thursday, May 22, 2008
STOVIA Sebagai Cikal Bakal Pergerakan Kebangkitan Nasional
Topic : Academic, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Ikatan Alumni Universitas Indonesia – Fakultas Kedokteran (ILUNI- FK) di bawah pimpinan dr. Doddy P. Partomihardjo, Sp.M bekerjasama dengan Perhimpunan Sejarah Kedokteran Indonesia (PERSEKI) dalam rangka memperingati Seabad Kebangkitan Nasional 20 Mei 2008 menyelenggarakan Pameran Foto dan Pemutaran Film Dokumenter dengan tema “Stovia – Kemunculan Pergerakan Kebangkitan Nasional “ bertempat di aula FKUI yang dibuka Wakil Ketua MPR RI Bapak A.M. Fatwa pada Rabu, 21 Mei 2008.
Sementara, seminar internasional bertemakan “Stovia sebagai Pemunculan Golongan Elit Intelektual yang Membangkitkan Semangat Kebangsaan” diselenggarakan di Gedung Stovia – Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdurahman Saleh, Kwini, Jakarta Pusat pada Kamis, 22 Mei 2008. Tampil sebagai pembicara antara lain Prof. Dr. Lerissa (UI), Dr. Daniel Dhakidae, Goenawan Mohamad dan pembicara asing seperti Max Lane (Belanda), Herman Keppy (Belanda), Dr.Hans Pols (Australia)dan Andrian Pieter.
Apa yang dimaksud dengan Kebangkitan Nasional itu? Hal itu terkait dengan munculnya kesepakatan di antara sejumlah mahasiswa kedokteran Bumi Putera pada lembaga pendidikan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah untuk pendidikan Dokter Bumi Putera) pada tanggal 20 Mei 1908 di Weltevreden Batavia (sekarang Jakarta Pusat). Mereka telah mendirikan suatu perhimpunan atau organisasi orang-orang Jawa bernama “ Boedi Oetomo” yang akan menjadi inti persatuan umum di masa yang akan datang.
Para mahasiswa pelopor yang berjumlah tujuh orang itu terdiri dari Soetomo, Soeradji, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, Goembreg, Mohammad Saleh dan Soelaeman dengan penganjur utama Dr. Wahidin Soedirohoesodo. Dr. Wahidin memerlukan hadir sehubungan upayanya untuk mewujudkan sebuah lembaga beasiswa bagi para pemuda Bumi Putera agar bisa melanjutkan studi dengan baik. Dalam diskusi dibicarakan mengenai hal-hal umum tentang masa depan kebangsaan dan perlunya agen perubahan untuk memelopori pembangunan kebangsaan.
Gagasan para pendiri dengan cepat memperoleh dukungan berbagai badan pendidikan Bumi Putera seperti sekolah pertanian (Landouw School) di Buitenzorg ( sekarang Bogor), Sekolah Dokter Hewan (Veeartsnij School) di tempat yang sama, Sekolah Kepala Negeri (Hoofdenschool) di Magelang dan Probolinggo, Sekolah malam untuk penduduk (Burger avond Schoool) di Surabaya, Sekolah Pendidikan Guru Bumi Putera di Bandung, Yogyakarta dan Probolinggo.
Makna perjuangan kebangsaan makin menggelora di dalam diri tokoh-tokoh pemuda seperti Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. Sitanala, Dr. Laoh, Dr.Latumenten, Dr, Abdul Rivai, Dr. Tehupeiory kakak beradik. Termasuk di dalamnya terdapat mahasiswa yang tidak sempat menuntaskan studi seperti Suwardi Suryaningrat, Tirto Adhisurjo dan Abdul Muis. Sejumlah mahasiswa lainnya Seperti Mohammad Roem, Assaat dan Sudiman Kartohadikusumo bahkan melanjutkan ke bidang studi lain dan menjadi ahli hukum. Roem dikemudian hari dikenal sebagai perunding RI yang andal dengan pihak Belanda.
Selain AK Ganie dan Leimena yang sudah disebut di atas terdapat sejumalh mahasiswa STOVIA lainnya seperti Abu Hanifah, Sukiman, Sarwano dan lain-lain.
Satiman Wirjosandjojo kakak Sukiman pada tahun 1915 mendirikan Tri Koro Darmo (Tiga Tujuan Mulia) yang kemudian menjadi Jong Java. Pada saat pendiriannya 50 mahasiswa STOVIA langsung menjadi anggota.Jong Java merupakan kekuatan politik pemuda yang nyata dan amat berpengaruh pada kongres pemuda ke-2 tanggal 28 Oktober 1928. Jong Java bersama organisasi lainnya berfusi menjadi Indonesia Muda pada tahun 1930.
Goenawan Mohamad penyair sekaligus redaktur senior Majalah Tempo dalam makalahnya berjudul “Melintasi Taksonomi” menyebut pemerintah Hindia Belanda menyiapkan STOVIA pada tahun 1851 terutama untuk melayani kepentingan pemilik perkebunan di Sumatera Timur. Tujuannya tak lain agar para buruh yang didatangkan dari Jawa perlu dijaga kesehatannya agar bisa tetap produktif. Sejak awal abad ke-20, STOVIA diperbaiki agar jadi tempat untuk para pemuda --- terutama mereka yang datang dari kalangan yang disebut “bumiputera” --- dilatih jadi tenaga kesehatan. Sejak 1904, diploma STOVIA dapat mengantar seseorang lulusan ke sebuah sekolah kedokteran di Belanda di tingkat lanjut. Di tahun 1913, masa kuliah diperpanjang hingga tujuh tahun, untuk mempersamakan STOVIA dengan NIAS (Sekolah Dokter Hindia Belanda) yang didirikan Belanda di Surabaya pada tahun itu. Para lulusan kedua lembaga itu bergelar dokter Hindia atau Dokter Djawa. Tidak mudah untuk meraih gelar tersebut. Selama 14 tahun pertama abad ke-20, hanya ada 135 orang yang selesai sampai lulus.
Sebagai “dokter Hindia” atau “dokter Djawa” gaji mereka di dinas pemerintahan dan perkebunan jauh lebih rendah dibandingkan dokter Belanda. Dorongan untuk mendapatkan tenaga medis berkualitas tetapi murah itulah yang mendasari lahirnya STOVIA. Di tahun 1904, imbalan “dokter Djawa” dinaikkan menjadi 150 gulden per bulan tetapi jumlah ini masih kecil dibandingkan pendidikan mereka yang berat dan panjang.
Bagaimana pun STOVIA sungguh merupakan “kawah candradimuka” yang memunculkan intelektual elit Indonesia guna mempersiapkan diri menjadi negara dan bangsa yang merdeka.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
1:55 PM
|
Labels: academic, Government
Thursday, May 15, 2008
Keajaiban Pembangunan di Dubai







Topic : Government
By Ari Satriyo Wibowo
Dubai merupakan kota pelabuhan di bagian Timur Laut Uni Emirat Arab (UAE). Ketika ditemukan di akhir abad ke-18 Dubai merupakan sebuah desa pemancingan kecil. Tahun 1833 keluarga Al-Maktum pindah dari Abu Dhabi ke Dubai dan sejak itu menjadi pusat pemerintah keluarga Al Maktum.
Pada tahun 1990 kota Dubai masih merupakan padang pasir yang gersang. Tak banyak wisatawan yang tertarik berkunjung ke sana. Namun, perubahan luar biasa dalam waktu satu dekade kemudian. Berkat rezeki minyak bumi yang dikelola dengan baik Dubai --- yang pada tahun 2002 memiliki penduduk 1.o83.000 orang itu --- berubah dari negeri miskin menjadi surga dunia.
Boom pembangunan gedung bertingkat di Dubai merupakan 25 % dari seluruh pembangunan pencakar langit di dunia.
Dubai Waterfront merupakan kawasan pulau buatan terbesar di dunia yang dibentuk mirip pohon palem. Demikian luasnya sehingga kawasan itu tampak jelas dari luar angkasa. Di lokasi tersebut ada 2000 villa, 40 hotel mewah, pusat perbelanjaan dan berbagai fasilitas lainnya.
Selain Dubai Waterfont masih ada World Islands yang terdiri dari 300 pulau buatan yang dibuat mirip bentuk benua di bumi. Setiap pulau dibangun dengan dana US$ 25-30 juta.
Dubai juga memiliki The Burj Al Arab yang merupakan hotel bintang 7 pertama di dunia sekaligus hotel tertinggi di dunia yakni 800 meter. Belum puas dengan hotel yang menjulang ke atas, dibantu para arsitek dari Jerman, juga membangun Hydropolis, hotel bawah air pertama di dunia.
Dalam hal ketinggian masih ada menara Al Burj yang direncanakan memiliki ketinggian 1200 meter atau tiga kali tinggi Empire States Building di New York.
Pusat rekreasi terbesar di dunia bernama Dubailand dibangun di atas tanah seluas tiga miliar kaki persegi atau 107 mil persegi dengan biaya pembangunan mencapai US$ 20 miliar. Artinya, Dubailand dua kali lebih besar dibandingkan ukuran Disneyland di Orlando, Florida, AS. Diperkirakan begitu Dubailand selesai dibangun maka puast hiburan itu akan mampu menyedot 200.000 pengunjung setiap hari.
Fasilitas olahraga terbesar dan berkelas dunia juga dibangun di Dubailand dengan nama Dubai Sports City.
Masih ada lagi kompleks Dubai Marina yang memiliki 200 gedung bertingkat. Sementara Dubai Mall dengan luas 9 juta kaki persegi akan ditempati lebih dari 1000 toko.
Namun, patut diingat bahwa minyak bumi merupakan sumber energi yang tak terbarukan (non renewable resources). Artinya, suatu ketika pasti akan habis dan Dubai tidak memiliki sumber daya lainnya selain minyak. Hal itu berbeda dengan Indonesia.
Bagaimana pendapat Anda ?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
5:08 AM
|
Labels: Government
Wednesday, May 14, 2008
Dr. Leroy Hood : Dari Reactive Medicine Menuju ke P4 Medicine



Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Selama ini Reactive Medicine yaitu menunggu sampai seseorang menderita sakit terlebih dahulu baru diobati masih mendominasi praktik kesehatan di dunia. Namun dengan adanya Proyek Human Genome hal itu telah mendorong terjadinya perubahan mendasar dalam bidang biologi dan kesehatan. Hal itu dikemukakan Dr. Leroy Hood, Presiden Instute for System Biology dari Seattle, AS dalam Keynote Speaker peresmian MRIN berjudul “From Reactive Medicine To An Emerging Medicine That Is Predictive, Personalized, Preventive and Participatory”, Senin lalu.
Perkembangan teknologi pengukuran misalnya blood protein biomarker, nanoteknologi dan mikrofluida berupa pengukuran protein darah dan analisis sel tunggal. Berkembangnya alogaritma matematika telah menjadikan teknologi informasi kesehatan makin maju. Hal itu telah menjadikan biologi menjadi ilmu pengetahuan informasi. Semua itu menjadikan kesehatan dalam 5 -20 tahun mendatang makin mudah diperkirakan (predictive), dicegah (preventive), diterapkan secara pribadi (personalized) maupun dengan cara partisipasi (participatory) atau dikenal sebagai P4 Medicine. Alhasil, semua itu membuat fokus kesehatan nantinya lebih kepada menjaga kebugaran tubuh dibandingkan memberantas penyakit.
“Didukung dengan teknologi pengukuran dengan memanfaatkan nanoteknologi dan teknologi visualisasi serta perhitungan matematis maka P4 Medicine akan berkembang pesat dalam 10-20 tahun mendatang, “ ujar Dr. Leroy Hood.
Prediktif diperoleh melalui probabilitas sejarah kesehatan dengan menggunakan DNA sequence, penerapaan biannual multi parameter pada pengukuran protein darah serta teknologi pencitraan molekul sel tunggal.
Personal diperoleh sebagai akibat adanya keunikan variasi genetik yang menyebabkan setiap orang harus mendapat perlakukan khusus. Pasien berhak memperoleh segala informasi medis dan mengendalikan sesuai kehendak hatinya.
Preventif diperoleh melalui strategi-strategi baru untuk merekayasa perilaku penyakit .
Partisipasif diperoleh melalui pemahaman dan partisipasi pasien terhadap pilihan kesehatan.
Pada akhirnya, P4 Medicine akan mampu mengurangi biaya kesehatan. Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
4:21 PM
|
Labels: academic, Business, Government
Jangan Biarkan Indonesia Jadi Negara Gagal
Hari ini terdapat artikel bagus karangan Prof. MT Zen dari ITB di Harian Kompas. Karena bermanfaat bagi kita semua maka artikel tersebut kami salin di bawah ini. Semoga bermanfaat.- Blogger ABGNET
Topic : Government
By MT Zen
Majalah The Economist terbitan London edisi 6 Mei 2008 menerbitkan makalah khusus sepanjang 14 halaman mengenai kebangkitan Vietnam sebagai negara di Asia Tenggara yang menakjubkan. Negara yang satu ini sudah hancur luluh oleh peperangan. Yang dilawan bukan tentara KNIL, melainkan negara adidaya Amerika Serikat.
Negara itu dihujani dengan bom biasa dan bom napalm dari pesawat B-52 dalam puluhan serangan mendadak dalam satu minggu, sedangkan mereka sendiri memanggul meriam yang sudah dilepas menjadi bagian-bagian lebih kecil lewat bukan jalan setapak, melainkan jalan binatang yang disebut Ho Chi Minh Trail. Kini mereka sudah bangkit secara spektakuler, memang belum setaraf dengan Malaysia atau Thailand.
Apa saja yang digariskan oleh Bank Dunia dan badan internasional mereka ikuti sebanyak dan sebaik mungkin. Rumah-rumah tinggal yang mendapatkan aliran listrik sudah berlipat dua sejak awal 1990 menjadi 94 persen. Menurut ”The World in 2008” terbitan The Economist juga, GDP per kepala masih 953 dollar AS (PPP: 3.990 dollar AS) pada Januari 2008. Yang menakjubkan adalah kesungguhan mereka membangun kembali negaranya. Dalam hal ini Indonesia perlu belajar dari Vietnam.
Negara gagal
Apa yang disebut dengan negara gagal? Definisi dapat bermacam-macam dan orang dapat berdebat mengenai hal itu tanpa henti. Jadi, lebih baik disebutkan beberapa kriteria atau ciri khas yang banyak disepakati di dunia ini mengenai apa yang disebut sebagai negara gagal. Yang terpenting adalah hal-hal berikut ini.
Terasa tidak ada lagi jaminan keamanan: orang merasa tidak aman dan tidak nyaman dan ingin mengungsi ke negeri orang. Kasus perusakan tempat-tempat ibadah merupakan salah satu hal yang khas bagi negara gagal.
Pemerintah seakan-akan tidak lagi dapat menyediakan kebutuhan pokok, seperti pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, penyediaan bahan kebutuhan pokok (Indonesia: gas dan minyak tanah seperti yang terjadi belakangan ini). Infrastruktur menjadi semakin tak keruan dan tidak efektif lagi.
Korupsi merajalela dan justru dilakukan oleh lembaga yang sebenarnya mempunyai tugas pokok melindungi rakyat, masyarakat, dan negara terhadap gangguan korupsi itu, seperti DPR, DPRD, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, kepolisian, dan anggota kabinet. Di negara-negara gagal sebenarnya justru negara itu bersekongkol dengan para preman, mafia, dan teroris.
Bentrokan-bentrokan horizontal di antara kelompok etnisitas yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hal itu menunjukkan ketidakberdayaan aparat negara.
Kehilangan kepercayaan masyarakat yang merata dan menyeluruh.
Apakah Indonesia sudah menjadi negara gagal? Tidak! Atau be- lum setidak-tidaknya, tetapi Indonesia menuju dengan cepat ke arah itu.
Di dunia ini sudah didaftar beberapa negara gagal. Indonesia belum termasuk. Namun, jika dibiarkan terus tanpa ada tindakan drastis untuk mencegahnya, hal itu akan menjadi kenyataan. Beberapa orang ahli atau beberapa lembaga internasional sudah mulai menyebut-nyebut bahwa Indonesia sudah harus sangat waspada dan berhati-hati. Berusahalah sekuat tenaga agar Indonesia tak jatuh menjadi negara gagal.
Resep untuk Indonesia
Pertama, Indonesia sudah harus mempunyai pemimpin baru: seorang pemimpin yang tegas, jelas, dan keras, di mana perlu kejam, tetapi adil. Sosok pemimpin seperti ini berani bertindak dan berani mempertanggungjawabkan tindakannya tanpa banyak cingcong.
Kedua, melihat keadaan yang semrawut dan kaotis di sekeliling kita, sebenarnya pada saat ini sudah harus ada sense of emergency and sense of urgency. Bahkan, negara Indonesia ini sudah harus berada dalam keadaan darurat. Jadi, pemerintah yang mencoba menegakkan benang yang sudah basah ini sudah harus memerintah dengan dekret.
Ketiga, mulai membenahi perekonomian nasional. Ini berarti, langkah perekonomian nasional yang tidak dihalangi oleh kesenjangan aturan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Masalah otonomi Indonesia kini merupakan struktur federal yang sangat kacau, suatu bom waktu yang ditinggalkan Orde Baru.
Keempat, hentikan korupsi besar-besaran dari pusat hingga daerah, dari yang tertinggi hingga ke yang terendah. Bila perlu, terapkan hukuman mati. Di Indonesia, orang berkorupsi karena yakin bahwa dia akan lolos asal saja cukup duit untuk menyogok para hakim dan lain-lain. Jadi, persyaratannya korupsi itu harus besar.
Kelima, hentikan pertikaian horizontal antarkelompok, antarkampung; pertikaian sewaktu menonton pertandingan sepak bola: antarpenonton, antara penonton dan pemain, mengejar dan memukuli wasit, melempar batu; pertikaian antarsuku, antarmahasiswa yang saling lempar batu; melempar batu ke gedung- gedung yang dibangun dengan uang rakyat; dan hentikan main hakim sendiri.
Kita ini manusia biasa. Hidup rakyat sudah sedemikian berat dan keadaan Indonesia ini sudah sedemikian terpuruk, janganlah kita perburuk keadaan dengan tindakan-tindakan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tugas para pejabat Indonesia sudah sedemikian berat dan sukar. Jangan ditambah lagi dengan tindakan yang tidak perlu. Bangsa dan negara sudah demikian miskin, janganlah merusak kantor, pagar-pagar kantor atau sekolah, gedung sekolah atau gedung yang dibangun dengan darah rakyat.
Keenam, embuskan kembali semangat juang yang pernah kita miliki dan bangkitkan kembali patriotisme dengan definisi dan nilai-nilai baru sesuai dengan panggilan zaman atau Zeitgeist. Inilah saat bagi kita semua di ma- na-mana untuk memetakan 100 tahun berikutnya bagi Kebangkitan Nasional yang kedua.
Kita butuh apa yang disebut Umwertung aller Werten (perombakan semua tata nilai) dan suatu Umwertung von Grund aus (perombakan menyeluruh dari akar- akarnya). Mari kita bangun masyarakat berbasiskan pengetahuan karena abad ke-21 ini sarat dengan pengetahuan dan teknologi. Kita harus berubah secara menyeluruh: sikap hidup, cara hidup, gaya hidup, pola pikir, dan mindset kita.
Secara keseluruhan bangsa Indonesia sangat membutuhkan suatu perubahan budaya ke budaya teknologi dengan masyarakat berbasiskan pengetahuan. Cara lain tidak ada!
MT ZEN Pensiunan Guru Besar ITB
Sumber : Opini Harian Kompas, Rabu, 14 Mei 2008, halaman 6
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
9:47 AM
|
Labels: Government
Tuesday, May 13, 2008
Menristek Dr. Kusmayanto Kadiman : Antitesa Mochtar Riady Bagi Dunia Swasta yang Kurang Peduli Riset
Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Di tengah kebesarannya Pak Mochtar Riady selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan di mana Menristek beruntung hadir. Kehadiran Pak Mochtar itu tidak lain untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Pada saat beliau berbicara mengenai niatnya membangun research centre bagi Menristek hal itu bagaikan melihat komet yang bercahaya terang benderang.
Mengapa? Karena riset di Indonesia bukan bagian yang dipandang penting dan bermanfaat apalagi berkontribusi terhadap EBITDA (Earning Before Income Tax).
Di Indonesia, dunia riset terkenal dengan istilah pelesetan litbang yang berarti “sulit berkembang” bukannya “penelitian dan pengembangan.” Hal itu terjadi selama puluhan tahun setelah Indonesia merdeka. Mengapa demikian? Hal itu karena dunia riset dan dunia swasta nyaris seperti dua dunia yang tak pernah bersentuhan.
Kalangan swasta berkata mengapa harus melakukan riset? Itu biaya yang tak perlu dikeluarkan alias unnecessary cost sebab tidak berkontribusi terhadap keuntungan.
Sementara dunia riset --- entah itu perguruan tinggi atau lembaga riset --- berkata bagaimana kami bisa berkontribusi terhadap besarnya nilai keuntungan perusahaan pihak swasta jika kalangan swasta tidak pernah menunjukkan kepada dunia perguruan tinggi dan lembaga riset, apa yang menjadi tantangan riset.
Alhasil dua dunia tersebut --- swasta dan riset --- berjalan seperti rel kereta api yang berjalan ke satu arah secara parallel tetapi tidak pernah bertemu.
”Ini menjadi tantangan besar,” tandas Kusmayanto Kadiman.
Oleh karena itu, Menristek menyambut baik ketika Mochtar Riady bermaksud membangun sebuah research center serta penghargaan tentunya kepada Pak Habibie yang tidak pernah berhenti mendorong pihak swasta untuk berkontribusi.
Kalau melihat anggaran riset total Indonesia dibandingkan GNP ternyata masih kecil sekali ( catatan : sekitar 0,014 %). Sementara anjuran dari lembaga PBB seperti UNESCO setiap Negara setidaknya menganggarkan sekitar 2 % dari total GNP untuk keperluan riset.
Dalam hal ini, pihak swasta juga tidak dapat disalahkan karena riset memang belum berkontribusi terhadap laba perusahaan. Sepertinya apa yang dilakukan Pak Mochtar Riady dengan MRIN (Mochtar Riady Institute for Nanotechnology) merupakan antitesa. Beliau sudah menunjukkan bukti keberhasilannya dalam membangun BCA, Lippo dan Universitas Pelita Harapan (UPH) .
Dan dengan mendirikan MRIN beliau ingin membuktikan bahwa membangun research centre akan membawa manfaat. "Walaupun dengan rendah hati beliau selalu mengatakan hal ini merupakan tanggung jawab sosial saya," ujar Menristek.
Dengan adanya mesin penghasil Sumber Daya Manusia (SDM) yakni UPH, kemudian dengan adanya Rumah Sakit Siloam Hospitals maka keberadaan Reserch Centre ini (MRIN) akan merupakan segitiga yang terkait satu sama lain dalam sebuah spiral yang makin lama makin membesar. “Begitu saya menerjemahkan visi Pak Mochtar Riady bila tidak keliru,” tutur mantan Rektor ITB itu.
Oleh karena itu Menristek, pertama-tama ingin mengajak para koleganya di pemerintahan dan para anggota DPR di legislatif untuk meniru keberhasilan di MRIN. “Kedua, kita mesti belajar kepiawaian Pak Mochtar Riady memilih bidang. Istilahnya spesialis umum. Beliau memilih dengan spesifik sekali. Bukan saja kanker yang sudah spesifik tetapi beliau melihat lagi lebih dalam yakni kanker hati,” papar Kusmayanto.
“Saya bertanya sakit hati mana yang akan disembuhkan sakit hati fisik atau non fisik karena dua-duanya pasiennya sama banyaknya. Beliau mengatakan yang fisik yang ditangani karena itu lebih mudah,” ia menambahkan.
Pelajaran dari Prof. Dr. Susan Tai, selaku Presiden MRIN yang dipelajari Kusmayanto dari pidatonya pagi itu adalah “ Sekali Anda berhasil mendeteksi adanya penyakit kanker pada seseorang maka hal itu mungkin sudah terlambat. Oleh karena itu, menyediakan informasi tentang kanker kepada publik menjadi lebih penting sehingga masyarakat mampu melakukan deteksi dini penyakit kanker yang akan mencegah lebih banyak kematian pada manusia.”
Semoga antitesa yang dibangun Pak Moctar Riady menjadi kenyataan. “ Delapan puluh tahun lagi kita akan menyaksikan MRIN menjadi lebih hebat lagi,” ujar Kusmayanto mengakhiri pidato sambutannya pada peresmian MRIN , Senin, 12 Mei 2008 di Lippo Karawaci, Tangerang, Banten.
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
6:43 AM
|
Labels: academic, Business, Government
Monday, May 12, 2008
MRIN Diresmikan, Ilmuwan Indonesia Berpeluang Meraih Nobel di Masa Depan
Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) yaitu lembaga riset kanker swasta yang pertama di Indonesia, diresmikan di Lippo Karawaci, Tangerang, Banten, Senin, 12 Mei 2008.
Sebagai tahap awal MRIN yang merupakan lembaga riset kanker swasta pertama dan terlengkap di Indonesia itu akan memfokuskan penelitian pada bidang kanker hati "Kami memilih spesialisasi penelitian pada kanker hati karena penyakit ini merupakan salah satu dari jenis penyakit kanker yang paling sering ditemui di dunia dan diperkirakan menyebabkan kematian lebih dari 600 ribu orang setiap tahun," ujar Mochtar Riady, yang merupakan pendiri kelompok usaha Lippo.
Peresmian MRIN bertepatan pula dengan perayaan ulang tahun Mochtar Riady ke 79 sehingga pembukaan MRIN itu pun ditandai dengan pelepasan 1929 balon yang melambangkan tahun kelahiran Mohtar Riady yang kemudian diikat menjadi 79 kumpulan balon ke angkasa.
Pada kesempatan itu , hadir beberapa tamu kehormatan, antara lain, Menristek Dr.Kusmayanto Kadiman, Ketua Kehormatan Dewan Penasehat Keilmuan MRIN Prof.Dr.BJ.Habibie, Mensos Bachtiar Chamsyah, pendiri Yayasan Pelita Harapan James T.Riady, Presiden MRIN Prof.Susan Tai dan Gubernur DKI Jaya Fauzi Bowo. Selain itu, tampil sebagai Keynote speaker Prof. Dr. Leroy Hood dari Institute for System Biology dari Seattle, AS dengan presentasi berjudul " From Reactive Medicine To An Emerging Medicine That Is Predictive, Personalized, Preventive and Participatory (P4)"
Menurut Mochtar Riady, tujuan pendirian MRIN adalah untuk melaksanakan penelitian inovatif dalam hal pengendalian dan juga memberikan pemahaman baru terhadap penyebab kanker, diagnosa dini, pengendalian dan pengobatan kanker untuk kemajuan penelitian medis dan ilmiah di masa depan.
Selain itu, keberadaan MRIN diharapkan dapat menghasilkan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi pasien kanker di Indonesia. MRIN saat ini sedang mematenkan dua temuannya di Hongkong dan Australia.
"Tidak tertutup kemungkinan pada masa depan ilwuwan MRIN dapat menghasilkan temuan berbobot dan memenangkan hadiah Nobel. Itu untuk bangsa Indonesia, bukan cuma untuk MRIN," katanya.
MRIN didirikan dengan investasi senilai US$ 30 juta sementara biaya operasional per tahun diperkirakan sekitar US$ 3 juta.
MRIN terdiri atas lima divisi inti yakni Divisi Molecular Epidemiology, Divisi Proteomic, Divisi Single Nucleotide Polymorphisms (SNP), Divisi Immunology, dan Divisi Genomic.
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
4:48 PM
|
Labels: academic, Business, Government
Friday, May 9, 2008
Peneliti Kanker Top Dunia Berbagi Pengalaman di MRIN
Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Sebanyak 21 peneliti kanker top dunia akan berbagi pengalaman di Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) dalam Simposium Internasional “Frontier of Cancer Research” pada Sabtu dan Minggu ( 10 dan 11 Mei 2008). Acara yang diselenggarakan bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) dan Siloam Hospitals itu dimaksudkan sebagai even pembuka dari Grand Opening MRIN pada Senin, 12 Mei 2008.
Para peneliti itu antara lain James Heath ,PhD dari California Institute Technology, AS (Systems-Biology Driven In Vitro Diagnostic Technology for Cancer), Gregory Lanza,MD,PhD dari School of Medicine, Washington University, AS (Potential Molecular Imaging and Targeting Therapeutic Applications with PFC Nanoparticles), Raymond Liang, MD, PhD dari University of Hongkong ( Targeted theraphy for Lymphoma), Michael Milward,MD,PhD dari Cancer Clinical Trials University of Western Australia (Targeted therapy for lung cancer), John Wong, MD,PhD, dari National University of Singapore (Targeted therapy for breast cancer) dan masih banyak peneliti lainnya.
Dr. Mochtar Riady, Chairman Lippo Group, mengharapkan agar simposium tersebut dapat memicu perhatian para profesional medis, peneliti, ilmuwan dan mahasiswa kedokteran terhadap masalah kesehatan khususnya penyakit kanker. “Indonesia dengan sekitar 240 juta penduduk selama ini hanya dilayani 1 rumah sakit kanker yakni RS Dharmais dengan 120 oncologist sementara Singapura dengan 4 juta penduduk memiliki 3 rumah sakit kanker. Bahkan, di RRC setiap provinsi memiliki 2-3 rumah sakit kanker. Indonesia perlu lebih banyak lagi rumah sakit kanker dan banyak dokter yang menangani penyakit kanker,” ujarnya.
Kanker merupakan penyebab kematian utama di dunia meski sudah ada teknologi diagnostic imaging, pembedahan modern dan terapi kanker. Kanker diperkirakan menjadi penyebab kematian lebih dari 6 juta orang di dunia per tahun, dengan lebih dari 10 juta kasus baru terdiagnosa setiap tahunnya. Diagnosa dini dan pengobatan yang efektif merupakan kunci dalam pengendalian dan penanganan penyakit sistemik yang kompleks ini, dimana pada kenyataannya penelitian kanker di Indonesia saat ini masih dalam tahap awal.
Simposium dua hari tersebut akan dibuka Dr. Douglas Lowy,MD,PhD, Deputy Director of Center for Cancer Research, National Cancer Institute, National Institutes of Health, USA sebagai keynote speaker. Dr. Lowy akan membawakan topik “The Prevention of Cervical Cancer by Human Papillomavirus Vaccination and Other Aproaches” pada Sabtu 10 Mei 2008.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
6:46 AM
|
Labels: academic, Business, Government