Sumber :http://www.nature.com/nature/journal/v448/n7151/images/448260a-f1.2.jpg
Saturday, February 9, 2008
Tahukah Anda?
Tempe pun Digemari di Negeri Barat
Tempe adalah produk fermentasi yang amat dikenal oleh masyarakat Indonesia dan mulai digemari pula oleh berbagai kelompok masyarakat Barat. Tempe dapat dibuat dari berbagai bahan. Namun demikian yang biasa dikenal sebagai tempe oleh masyarakat pada umumnya ialah tempe yang dibuat dari kedelai.
Melalui proses fermentasi, kedelai menjadi lebih enak dan meningkat nilai nutrisinya. Rasa dan aroma kedelai memang berubah sama sekali setelah menjadi tempe. Tempe lebih banyak diterima untuk dikonsumsi bukan hanya orang Indonesia tetapi juga bangsa lain termasuk Jepang dan AS. Tempe yang masih baru dapat memiliki rasa dan bau yang spesifik. Bau dan rasa khas tempe ini tidak mudah dideskripsikan tetapi dapat dimengerti dan dihayati bagi masyarakat yang telah lama mengenal tempe.
Tempe yang dibuat dari kedelai melalui tiga tahap yaitu : 1. Hidrasi dan pengasaman biji kedelai dengan direndam beberapa lama (untuk daerah tropis kira-kira semalam), 2. Sterilisasi terhadap sebagian biji kedelai dan 3. Fermentasi oleh jamur tempe yang diinokulasikan segera setelah sterilisasi. Jamur tempe yang banyak digunkan ialah Rhizopus oligosporus.
Fermentasi tempe mampu menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan yang terdapat pada kedelai. Tempe memiliki kandungan vitamin B12 yang sangat tinggi, yaitu 3,9-5,0 gram/100 gram. Selain vitamin B12 tempe yang mengandung vitamin B lainnya yaitu niasin dan riboflavin (Vit B2). Tempe juga mampu memenuhi kebutuhan kalsium sebanyak 20% dan zat besi 56 % dari standar gizi yang dianjurkan. Kandungan protein dalam tempe dapat disejajarkan dengan yang terdapat dalam daging. Dengan demikian tempe dapat menggantikan daging dalam susunan menu yang seimbang.
Suatu kali saya masuk ke website Peter Vachuska di West Bend, Wisconsin, AS via http://www.geocities.com/pvachuska/tempeh/ berjudul “How I Make Tempeh” dan saya dapati ucapan perkenalan sebagai berikut :
Hello. My name is Peter Vachuska and I live in West Bend, Wisconsin. Noticing a shortage of instructional web sites on how to make tempeh, I decided to put up this page showing how I make tempeh.
First of all, you need the raw ingredients. The most difficult to obtain is the tempeh starter (the spore mixture that contains the seeds of the fungal culture, Rhizopus oligosporus). While you might be able to order this locally at your neighborhood natural food store, you can order it directly.
The source I use is The Farm in Summertown, Tennessee. It was easy to order online and the tempeh starter was at my door in less than a week. If anyone knows of other online sources please let me know. Thanks to Gary Knigge, who informed me that "G.E.M. Cultures is another great source for cultures and starters. Another source that I've learned about is www.tempeh.info. They appear to be in Belgium, but will ship starter anywhere in the world. They have a lot of good information on their website. Yet another source is tempehonline.com out of Rockville Maryland. They have a very informational website as well.
The other main ingredient is, of course, soybeans. These are fairly easy to come by. Go to a natural foods store or a mega-grocery store. Other ingredients are a few tablespoons of vinegar and lots of water.
Bagaimana pendapat Anda? 




Posted by
KOMUNITAS ABG
at
12:51 AM
|
Labels: enlightenment
Friday, February 8, 2008
Sekali Lagi Tentang Kisah Sukses Thomson dan Yamanaka
By Dr. dr. Armyn Nurdin, Msc
Asisten Deputi Menko Kesra Bidang Kependudukan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup
James Thomson dari Universitas Wisconsin di Madison dan jurnal Cell yang melaporkan hasil penelitian Shinya Yamanaka dari Universitas Kyoto dalam edisi 20 November 2007. Thomson inilah orang pertama yang berhasil mengisolasi dan mengembangkan stem cell babi pada tahun 1996 dan stem cell manusia in vitro tahun 1998.
Penemuan ini sangat spektakuler dilihat dari pelbagai asperknya, khususnya dari aspek etikanya, karena tidak menimbulkan debat etika dari pelbagai sudut pandang, baik agama maupun humanisme.
Apa persis yang dibuat oleh Thomson dan Yamanaka? Secara singkat mereka bisa membuat sel-sel kulit menjadi stem cell yang mempunyai karakter seperti embryonic stem cell tanpa harus melakukan cloning. Kedua tim itu sama-sama memakai empat jenis gen yang dimasukkan ke dalam sel kulit tetapi jenisnya ada yang berbeda. Yamanaka memakai OCT3/4, SOX2, KLF4 dan c-MYC, sedangkan Thomson memakai OCT4, SOX2, NANOG dan LIN28.
Yamanaka memakai sel kulit dari seorang perempuan berumur 36 tahun sedangkan Thomson memakai sel kulit dari bayi yang baru lahir.
Mereka mengubah sel kulit yang biasa menjadi apa yang mereka sebut sebagai induced pluripotent stem cell (IPS) yang berkarakter seperti embryonic stem cell.
Kesamaan karakter ini meliputi hamper semua bidang, baik dalam penampilan maupun tingkah laku genomiknya. Dalam percobaannya, IPS itu ternyata bisa membuat tiga germ layers, di mana lapisan pertamanya akan menjadi semua jaringan dan organ manusia.
Dari IPS itu juga ternyata bisa dikembangkan menjadi sel-sel saraf, otot, tulang rawan dan bahkan juga otot-otot jantung. Dalam percobaan yang mereka buat,setelah 12 hari pembiakan, ternyata sel-sel itu mulai berdenyut seperti otot jantung.
Riset ini masih merupakan riset awal sehingga Yamanaka sendiri mengatakan bahwa terlalu dini untuk mengatakan IPS ini akan bisa menggantikam embryonic stem cell. Efisiensi teknik ini memang masih sangat rendah karena dari 50.000 sel kulit yang dipakai, mereka hanya mendapatkan 10 IPS. Namun, teknik ini masih bisa dikembangkan lebih lanjut supaya lebih efisien. Yamanaka sangat optimistis dengan penemuannya itu, bahkan dia mengatakan teknik yang sama ini bisa dipakai untuk membuat sel telur dan sperma dari sel kulit.
Kalau ini terjadi maka akan banyak menolong pasangan yang menginginkan anak, tetapi tidak bisa oleh karena pasangan itu tidak mempunyai sperma atau ovum. Secara teknis dan etis, keberhasilan Thomson dan Yamanaka ini merupakan langkah yang sangat spektakuler.
Dari segi teknis, keberhasilan ini mengatasi masalah teknik yang sangat pelik. Para peneliti menyambut dengan sangat antusias breakthrough ini karena teknologi ini akan sangat menghemat biaya, baik bahan bakunya maupun teknologi peralatannya. Thomson sendiri berkomentar, ”Pada prinsipnya, ribuan laboratorium yang tersebar di seluruh AS mulai besok bisa mengerjalannya.”
Para etikawan dan kelompok religius juga menyambutnya dengan gembira karena penemuan ini menjadi akhir dari kontroversi yang menyelimuti riset stem cell. Bahkan mereka mengatakan bahwa inilah salah satu hasil dari para aktivis pro life yang mendesak para ahli untuk menemukan cara memperoleh stem cell yang sangat berguna tanpa harus melanggar harkat dan martabat manusia. Ternyata, para ahli bisa menunjukkan kepiawaiannya untuk mengatasi hal ini dengan menciptakan stem cell yang tanpa harus membuat dan membunuh embrio manusia.
Tahukah Anda?

Microsoft Student, Perangkat Hebat bagi Produktivitas Pelajar dan Mahasiswa
Mau mengerjakan PR termasuk memecahkan soal matematika yang rumit? Atau menerjemahkan naskah dari bahasa Inggris ke bahasa Jerman? Atau mencari topik apa saja yang kamu suk? Sekarang semuanya bukan masalah lagi bagi pelajar dan mahasiswa.
Begitu pula dalam soal membuat laporan riset, proyek ilmiah, presentasi, membuat essay, membuat naskah pidato, membuat cerpen dan sebagainya semuanya terasa menjadi sangat mudah.
Di AS, dua pertiga orangtua murid mengalami frustrasi ketika membantu mengerjakan PR bagi anak-anak mereka. Penyebabnya adalah kesenjangan pengetahuan, sumber informasi dan kemajuna zaman. Untunglah kini semua persoalan itu mampu dipecahkan Microsoft Student with Encarta Premium 2008.
Piranti lunak itu menyediakan menu antara lain math tools, foreign language tools, search tools, papers & reports, presentation, charts and graphics, explore Encarta by subject, college & career, games & fun stuff. Semua menjadi lengkap karena piranti lunak itu telah mengombinasikan dengan piranti lunak canggih lainnya seperti ensiklopedia Encarta Premium 2008 dan Microsoft Math 2.0 serta terintegrasi dengan peranti lunak Microsoft Office seperti Word, Excel,Powepoint. Jadi kalau ingin menjadi pelajar dan mahasiswa yang produktif, terutama dalam membuat tulisan, makalah dan presentasi, dianjurkan memanfaatkan piranti lunak ini. Harga yang ditawarkan di gerai penjualan online Amazon adalah US$ 49.95.
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
7:37 AM
|
Labels: enlightenment
Thursday, February 7, 2008
Perkembangan Klinis Mutakhir Teknologi Sel Punca (Stem Cell)

Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Sampai saat ini, Indonesia belum memiliki Pusat Penelitian Sel Punca (Stem Cell Research Centre) sementara di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand pusat penelitian serupa sudah lama beroperasi. “Diharapkan pada 2009, Indonesia sudah memilikinya,” ujar dr. Boenjamin Setiawan, PhD ketika menyampaikan presentasi berjudul “Recent Advance in The Clinical Application of Stem Cell” pada Seminar Stem Cell The New Era of Biotechnology di Gedung Widya Graha LIPI, Sabtu lalu.
Negara Asia yang giat melakukan riset sel punca (stem cell) adalah Korsel, Jepang, RRC, dan India. Pada tahun 2005 saja yang melakukan riset sel punca di RRC terdapat 16 institusi sedangkan di India 5 institusi. Perkembangan pesat juga terjadi di Australia.
Ada dua negara yang cukup banyak memiliki pusat penelitian sel punca yakni Inggris dan AS. Di AS pusat-pusat penelitian tersebut tersebar, baik di Pantai Timur maupun Pantai Barat. Di Kalifornia, misalnya, pusat riset sel punca menjamur karena Gubernur Kalifornia Arnold Schwarzneger turut mendukungnya. Apalagi ketika dilakukan jajak pendapat di negara bagian itu ternyata mayoritas masyarakat dengan riset sel punca sehingga kini telah terkumpul dana sebesar USD 3 miliar untuk riset selama 10 tahun.
Satu individu anusia sebenarnya terdiri dari 12 sistem organ seperti susunan syaraf dan pencernaan, 220 jenis jaringan, 50-100 triliun sel, 100 miliar neuron serta terdiri dari 46 kromosom yang masing-masing memiliki 23 pasang kromosom x dan y. Selain itu terdapat 30.000 gen dan 3,2 miliar base pairs Guanine, Cytosine, Tymine dan Adenine pada bagian DNA-nya.
Stem Cell / Progenitor cell adalah sel yang memiliki kemampuan berkembang biak secara terus menerus seolah-olah tanpa penuaan (immortal). Kenyataannya stem cell pada suatu waktu akan mengalami regerasi. Stem Cell itu mirip sel kanker yang terus menerus berkembang biak.
Stem Cell berkembang biak dari satu sel menjadi dua dan seterusnya untuk sewaktu-waktu mengalami diferensiasi untuk membentuk 220 jenis jaringan yang tersebut di atas. Inner Cell Mass (ICM) itulah yang membentuk 220 jenis jaringan di tubuh manusia dan setiap jaringan terdiri dari 50-100 triliun sel.
Paling tidak dikenal 5 teknik untuk membuat Embryonic Stem Cell sampai saat ini yakni :
1. Membuat Turunan dari Embryonic Stem Cell Standar
2. ES Cell Line dari Blastomer Tunggal
3. Somatic Cell Nuclear Transfer
4. Altered Nuclear Transfer
5. Fusi Sel
ES Cell Line bila diambil satu sel karena bersifat pluripotent dapat menjadi satu individu manusia lengkap. Pada tahap blastosis ketika sel berbiak menjadi 8 sel maka tiap sel itu berpotensi berkembang satu individu manusia. Saat ini teknik tersebut dikembangkan pada binatang.
Pada Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT) , nucleus disedot kemudian dimasukkan pada nucleus dari sel lain. Ini yang dikembangkan di Kalifornia, AS yang berhasil melakukan Somatic Cell Nuclear Transfer pada manusia sekitar bulan Januari 2008.
Tim peneliti di Kalifornia itu berhasil karena sel telur yang diambil masih berumur sekitar 2 jam. Mereka menggunakan 50 sel telur dan kemudian didalamnya dimasukkan nucleus dari fibroblast dari dr. Woods peneliti di laboratorium itu. Dari 50 sel telur yang berhasil 10 sel telur dan 5 di antaranya bisa berkembang biak. Dari situlah dr. Woods dapat memperoleh ES Cell Line dan apabila suatu saat dr. Woods membutuhkan bisa dimasukkan ke tubuhnya dan tidak menimbulkan masalah penolakan dari fungsi kekebalan tubuh.
Yang mencatat sukses adalah dr. Yamanaka dari Jepang pada 2007. Dia berhasil membuat pluripotent cell yang disebut sebagai induced pluripotent stem cell (IPS). Caranya dengan memasukkan 4 gen ke dalam retrovirus ke dalam sel fibroblast. Sel fibroblast berubah menjadi sel pluripotent.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
5:01 AM
|
Labels: academic, Business, Government
WWF Selenggarakan Lomba Blog dengan Tema Pemanasan Global
WWF dan Digital Studio dan didukung Coca-Cola Foundation Indonesia menyelenggarakan lomba pembuatan blog dengan tema PEMANASAN GLOBAL. Peserta diminta untuk menuangkan ide dalam bentik tulisan, foto, film pendek atau desain pribadi masing-masing dalam blog tersebut agar semua orang mengerti bagaimana mengurangi dampak pemanasan global yang sedang mengancam bumi kita ini.
Lomba ini terbuka bagi pelajar SD, SMP, SMU dan masyarakat umum. Dan bagi yang belum bisa nge-blog, disediakan tutorial online.
"Hot Blog for Cool Earth" adalah kompetisi blog yang bertema Pemanasan Global. Kompetisi ini digagas oleh WWF dan Digital Studio.
Tujuan "Hot Blog for Cool Earth" selain untuk memasyarakatkan isu pemanasan global, juga sebagai "CALL TO ACTION" bagi semua orang untuk mengurangi dampak pemanasan global.
Blog peserta kompetisi memuat catatan harian tentang kegiatan sehari-hari yang sudah dilakukan blogger untuk mengurangi dampak pemanasan global.
Pendaftaran kompetisi dibuka tanggal 1 Desember 2007 dan ditutup tanggal 29 Februari 2008. Pengumuman pemenang akan dilakukan bertepatan dengan Hari Bumi tanggal 22 April 2008. Pemenang kompetisi "Hot Blog for Cool Earth" ditentukan berdasarkan kreatifitas blogger : isi (content), keaktifan dan "action" yang dilakukan.
Penjelasan selengkapnya silakan kunjungi http://blog.supporterwwf.org atau hubungi Awi/ Sharon di 021-5761070 ext 103
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
4:54 AM
|
Labels: enlightenment
Tuesday, February 5, 2008
BCRO Bangun Industri Stem Cell di Pahang, Malaysia
Topic: Business
Kawasan industri East Coast Economic Region (ECER) di Pahang, Malaysia akan menjadi tuan rumah bagi fasilitas stem cell raksasa dari AS yakni Bio-Cellular Research Organization (BCRO).
Pahang Technology Resources Sdn Bhd telah menandatangani memorandum of understanding (MOU) dengan BCRO Stem Cell Xenotransplantation pada 28 Januari 2008 lalu yang disaksikan langsung PM Malaysia Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi.
Para periset transplantasi stem cell akan segera dipindahkan ke Pahang dari basis mereka sebelumnya di Slovakia.
BCRO akan menanamkan investasi sebesar RM 280 juta selama tiga tahun untuk mentransfer pengetahuan ke Malaysia dari para ilmuwan mereka yang berasal dari AS dan Uni Eropa.
Saat ini BCRO memasok stem cell transplant kepada para dokter dan rumah sakit yang ada di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Afrika, Asia dan Australia.
Perusahaan itu memperluas layanan kepada 200 pasien di Asia Tenggara, Hong Kong dan Australia, termasuk 100 kasus dari Malaysia dalam dua setengah tahun terakhir.
Para ilmuwan medis mengantisipasi peran stem cell dalam mengobati penyakit kanker, diabetes type-1, spinal cord ijuries dan kerusakab syaraf diantara penyakit-penyakit lainnya.
Dengan keberadaan pabrik BCRO di Malaysia maka diharapkan biaya pengobatan dengan memanfaatkan stem cell akan makin terjangkau bagi rakyat Malaysia.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sumber :Laporan Jeeva Arulampalam untuk East Coast Ecomic Region, Malaysia.
Monday, February 4, 2008
Neural Stem Cell Sebagai Terapi Bagi Penyakit Kerusakan Otak

Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Dapatkah kita memanfaatkan Neural Stem Cell (NSC) untuk memperbaiki penyakit kerusakan otak (CNS/Central Nervous System) ? Jawabannya adalah bisa.
Penyakit kerusakan otak meliputi antara lain Parkinson, Alzheimer, Hutington, Amytropic Lateral Scheloris (ALS), Stroke, Schizophrenia, Spinal Cord Injury dan kehilangan pendengaran.
Menurut Dr. Sohail Ahmad,PhD dari Institute of Medical Biology, Singapura dalam seminar "Stem Cell : The New Era of Biotechnology" Sabtu lalu, sampai sekarang terdapat tiga pemanfaatan utama NSC yakni sebagai pengobatan regeneratif (regenerative medicine), penyeleksi obat (drug screening) dan pembangun otak (brain development).
Definisi sederhana NSC adalah sel yang diturunkan dari otak, baik berupa embryonic stem cell maupun adult stem cell yang dapat melakukan pembaruan terhadap dirinya sendiri serta melakukan diferensiasi menjadi tiga jenis sel CNS.
Ada beberapa cara untuk mengidentifikasi NSC yakni melalui :
1. Analisis Klon
Tidak ada marker yang memungkinkan untuk mengidentifikasi NSC. Oleh karena itu analisis klon kemudian digunakan untuk keperluan tersebut. Clonal neurosphere dapat dibedakan menjadi tiga jenis CNS yang berbeda yang menunjukkan bahwa NSC ada di dalam neurosphere.
2. Single cell PCR and RT-PCR
Neurosphere dapat menjadi sel tunggal melalui penggunaan enzim, kimia ataupun cara mekanis. Analisa dari mRNA yang membuat sel individu dapat dikelompokkan menjadi kategori yang berbeda : NSC vs Progenitor.
Analisa Single Cell PCR memungkinkan dilakukan profil ekspresi mRNA yang mendefinisikan sebuah NSC.
3. Marker menggunakan protein
Tidak ada marker sel permukaan bagi NSC. Kombinasi dari analisis klon dan ekspresi protein untuk melihat profilnya mampu mendefinisikan sel permukaan dari marker protein pembentuk NSC. Apakah CD133? ABCgamma2? Ukurannya? Atau berdasarkan ekspresi gen : Nestin? Sox2? Hes1/Hes5?
Neurogenesis saat ini diketahui timbul pada wilayah tertentu dari otak manusia lanjut usia yang terbagi menjadi dua zona yakni SVZ (Subventricular zone) dan SGZ (Subgranular zone). Pemahaman dan eksploitasi terhadap sel endogenous ini adalah salah satu rute untuk menyembuhkan penyakit kerusakan otak (CNS).
Ada tiga cara pokok saat stem cell dapat membantu untuk menyembuhkan penyakit kerusakan otak (CNS) :
1. Penggantian sel melalui cara transplantasi.
2. Perlindungan sel syaraf melalui penyampaian faktor neurotropik untuk mengatasi luka.
3. Menstimulasi endogenous stem cell untuk perbaikan jaringan di otak.
Bagaimana pendapat Anda ?
Saturday, February 2, 2008
Menristek Kusmayanto Kadiman : Jadikan Iptek Seksi Bagi Politisi

Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Penelitian di Indonesia kembali mendapat ruhnya dengan hadirnya provokator yang hebat seperti dr. Boenjamin Setiawan, PhD selaku Chairman Stem Cell and Cancer Institute (SCI) yang menjadi pemrakasa berdirinya Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI). “Bagaimana melalui pemikiran yang sangat provokatif kita diajak untuk melihat mulai dari ABG yang sangat umum sampai yang detail seperti mengenai stem cell,” ujar Menristek Kusmayanto Kadiman dalam pidato peresmian berdirinya ASPI di Jakarta, Sabtu, 2 Februari 2008.
Kusmayanto memuji dr. Boen bukan sekadar mengeluhkan mengenai perkembangan penelitian tetapi juga bagaimana agar penelitian itu bisa hidup, berkembang dan kemudian memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
Selama ini, bangsa Indonesia dikenal miskin dalam penelitian. Sudah begitu, miskin pula dalam penulisan. Tidak mengherankan bila pujangga Taufik Ismail menyebut bangsa Indonesia sedang menderita penyakit Rabun Membaca, Lumpuh Menulis. “Saya (terpaksa) menerima kalimat itu dengan pahit, “ papar Kusmayanto.
Secara berkelakar Kusmayanto mengaku bersedia menjadi Ketua Dewan Pembina ASPI karena dua faktor yang sama dominannya. Pertama, karena tidak ada yang bersedia menjadi ketua. Kedua, ia memberanikan diri menjadi ketua karena tidak tahu banyak mengenai stem cell. “Kalau sudah tahu barangkali lain cerita,” ujarnya.
Mengenai pemilihan istilah “Punca” Kusmayanto menegaskan bahwa kata tersebut bukan kata baru yang diciptakan ASPI. Pada tahun 1950-an , misalnya, sudah beredar Kamus Punca Bahasa Indonesia, Kamus Punca Bahasa Jepang, Kamus Punca Bahasa Inggris dan Kamus Punca Bahasa Cina. Makna “punca” memiliki padanan dengan kata-kata “fundamental, basis, dasar, asal, muara, induk dan original (asli)” yang diharapkan mampu menggantikan makna “stem” dari istilah Stem Cell.
Menurut Kusmayanto terdapat tiga misi yang akan diemban ASPI yakni dalam hal etika, hukum dan sosial. ASPI juga akan menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin bertanya mengenai sel punca. Melakukan pembelajaran publik baik itu dalam menciptakan daya tarik (creating awareness) sampai menengok hal-hal yang sulit, misalnya, soal pendirian bank stem cell di Indonesia.
Bila terdapat isu mengenai etika maka ASPI tidak segan-segan untuk berafiliasi dengan bagian lain, misalnya, dengan Komite Bioetika Nasional. Sebab bila masalah ilmiah banyak ahlinya tetapi yang paling susah diukur adalah masalah etika karena menyangkut norma, adat-istiadat, agama dan sebagainya.
Demikian pula kemajuan iptek dan hukum adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Kemajuan iptek sangat pesat sekali sementara hukum amat lambat.
Kusmayanto mengibaratkan hukum menggunakan ilmu ular sementara iptek mempraktikan ilmu ayam. Ayam itu setiap hari mematukkan paruhnya ke tanah untuk mencari makan sebab bila tidak begitu ayam akan kelaparan dan mati. Sementara, ular cukup makan besar sekali kemudian melakukan tidur panjang. Aspek hukum untuk berubah memiliki periode yang panjang. Sementara, kemajuan iptek memiliki periode jauh lebih pendek. Hal itu secara alamiah terjadi tidak hanya di dunia kesehatan tetapi juga di bidang teknologi informasi. Ketika komputer pribadi ditemukan pada tahun 1970-an maka lama sekali baru muncul istilah computer crime. “Sampai ada kisah lucu ketika polisi menganggap terjadi computer crime kalau ada orang yang mencuri komputer,” ujar Kusmayanto.
Bagaimana agar riset dan penelitian bisa berkembang dengan baik? Hal itu bisa terjadi apa bila pemerintah dan swasta bisa bekerjasama dengan baik. Kemudian Kusmayanto menemukan model yang ia namakan “model ABG triple helix yang serasi bukan berbenturan satu sama lainnya” . Tetapi agar terjadi kerjasama ABG harus terdapat “external forces” yang menyenangkan ketiga komponen itu yang kemudian mengikat satu pita dengan pita yang lain.
Misalnya, harus ada upaya agar pihak swasta tertarik untuk melakukan penelitian. Salah satu komponen yang memperbesar keuntungan bagi pihak swasta adalah kalau mereka bisa membayar pajak lebih sedikit sehingga otomatis keuntungannya akan lebih besar.
Oleh karena itu, bagi swasta yang membelanjakan sebagian uangnya untuk penelitian itu boleh diperhitungkan sebagai kewajibannya. Di Malaysia, misalnya, Menristeknya dengan bangga mengatakan ,” Every single Ringgit that is spend for research I double your tax incentive.” Jadi kalau dia sebuah perusahaan di Malaysia membelanjakan satu Ringgit untuk penelitian maka pajaknya akan dibebebaskan dua Ringgit. Indonesia masih belum berani menempuh seperti Malaysia dan memberikan insentif "one to one" kepada swasta melalui PP No. 35/2007.
Yang menjadi tantangan adalah mampukah Iptek, Riset dan Penelitian menjadi pembicaraan penting bagi khalayak ramai dan para politikus yang naik panggung dalam rangka pemilihan presiden maupun pilkada.
Dalam catatan berbagai media massa selama masa kampanye 2003/2004 lalu dalam janji kampanye tidak ada satu politikus pun yang menyebut kata Iptek, Riset atau Penelitian dalam kampenye mereka. “Layakkah kita salahkan mereka? Tidak kita yang salah,” tutur Kusmayanto.
Ia mengeritik para peneliti yang katanya berjuang keras kenyataannya malahan tiarap di pentas politik. “Kalau peneliti tidak bisa ikut manggung atau tidak mau manggung paling tidak memikirkan agar isu mengenai Iptek, Riset dan Penelitian dapat dipanggungkan.Dalam bahasa sederhana jadikan Iptek seksi bagi para politisi,” pungkasnya.
Bagaimana pendapat Anda?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
9:27 PM
|
Labels: academic, Business, Government
Asosiasi Sel Punca Indonesia Resmi Berdiri

Topic : Academic, Business, Government
By Ari Satriyo Wibowo
Bertempat di Gedung Widya Graha LIPI, Sabtu, 2 Februari 2008, bersamaan dengan pelaksanaan seminar “Stem Cell : The New Era of Biotechnology” Asosiasi Sel Punca Indonesia resmi dideklarasikan. Bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina adalah Dr.Ir. Kusmayanto Kadiman, yang sehari-hari menjabat sebagai Menristek RI.
“Bila sebelumnya ASPI merupakan embrio yang belum lahir. Hari ini umurnya baru sehari. Moga-moga bayi ini bisa terus berkembang,” demikian harapan dr. Boenjamin Setiawan, PhD, Chairman Stem Cell and Cancer Institute (SCI) selaku pemrakarsa pembentukan asosiasi tersebut.
Masih menurut dr. Boen, stem cell di seluruh dunia berkembang sangat cepat.Diharapkan dengan berdirinya ASPI, organisasi tersebut ini dapat berperan sebagai koordinator untuk memajukan pengembangan teknologi sel punca (stem cell) di Indonesia.
Di negara-negara tetangga Indonesia, masih menurut dr. Boen, perkembangan riset sel punca maju amat pesat. Ia mencontohkan Prof. Lim Bing, MD, PhD dan Dr. Sohail Ahmad , PhD yang hadir pada seminar tersebut adalah beberapa dari peneliti-peneliti sel punca yang andal dari Singapura. Negara singa itu mengeluarkan dana yang cukup besar untuk penelitian sel punca (stem cell). Riset sel punca di RRC, India, Jepang. Korea Selatan tak kalah majunya. Bahkan, di Malaysia ada sekelompok investor yang akan menanamkan investasi besar-besaran. “Kita di Indonesia masih harus merayap untuk mengembangkan ilmunya supaya bisa mengejar. “ ujar dr. Boen. Di RSCM misalnya sudah berdiri 5 unit yang aplikasinya untuk diabetes, kardiovaskuler, osteoarthritis, luka bakar dan neurology.
Disinilah dr. Boen melihat pentingnya kerjasama ABG (Academic, Business & Government) . Diharapkan dengan adanya ASPI ini kerjasama bisnis dan pemerintah bisa lebih baik. Penting sekali bagi ketiga komponen itu untuk bekerjasama dan menghilangkan rasa saling curiga. “ Saya bayangkan bekerjasama secara seamless atau tanpa ada batas-batasnya lagi. Kalau hal itu terjadi maka Indonesia akan dapat memelopori kemajuan dari riset stem cell tersebut ,” dr. Boen menambahkan.
Dr. Boen terkesan pada tiga kemajuan riset sel punca yang terjadi di luar negeri. Pertama, adalah kemampuan membuat pluripotent cell dari somatic cell yang diberikan empat gen. Prof. Lim Bing dari Singapura sudah melakukan percobaan-percobaan mengenai hal tersebut. “Itu merupakan loncatan yang sangat jauh sekali,” paparnya.
Kedua, yang bakal bermanfaat untuk kemudian hari adalah penemuan dari hasil kerjasama Geerong Technology dan Washington University of Seattle. Mereka menciptakan dua cocktail. Yang pertama dari human embryonic stem cell diubah menjadi cardiomyocytes. Kemudian cocktail kedua supaya cardiomyocytes dapat bertahan hidup lebih lama. Dengan memanfaatkan kedua cocktail itu maka manfaatnya akan besar sekali. Saat ini percobaan baru berhasil pada tikus. Tetapi hal itu mudah sekali dilanjutkan pada manusia. “Kalau kita menderita infark jantung maka daerah infark itu vaskulerisasinya jelek sekali,” katanya.
Ketiga, riset terbaru dengan mengambil jantung tikus kemudian diberi berbagai deterjen supaya sel-sel melarut dan hilang. Hasilnya berupa cetakan tiga dimensi yang kemudian dimasukkan ke dalam larutan yang penuh dengan sel punca (stem cell). Apa yang terjadi? Dalam tiga hingga empat hari sel punca akan melekat pada cetakan itu dan mulai berdenyut. “Itu merupakan kemajuan yang luar biasa besar,” ujarnya.
Penelitian tersebut akan dilanjutkan pada babi dan setelah itu manusia. Percobaan itu menunjukkan bahwa dunia akan mengalami kemajuan pesat di bidang kedokteran regeneratif.
Dengan adanya kerjasama ABG diharapkan melalui ASPI maka Indonesia akan maju lebih cepat. Demikina pula dengan tampilnya Menristek sebagai Ketua Dewan Penasihat maka dana penelitian yang diajukan makin lama makin besar.
Pada tahun 2006 dana penelitian dunia besarnya mencapai USD 1 triliun. Sedangkan , GDP dunia USD 40 triliun. Sehingga dana penelitian dunia porsinya mencapai 2,5 persen. Mengapa demikian besar ? “Karena seluruh dunia tahu bahwa penelitian itu penting sekali. Tanpa penelitian tidak akan ada kemajuan,” kata dr. Boen.
AS tentu saja masih merupakan negara yang mengeluarkan dana penelitian paling besar. Mereka mengeluarkan US$ 250 miliar untuk penelitian. Di urutan kedua adalah RRC dengan pengluaran US$ 160 miliar meskipun pendapatan per kapitanya masih rendah sekitar US$ 2.000. Tetapi purchasing power parity RRC mencapai US$ 5.000. Ketiga, Jepang yang dulu selalu berada di urutan kedua. Keempat, Jerman. Kelima, Perancis. Keenam, India dengan pengeluaran US$ 40 miliar. Inggris berada di urutan ketujuh.
Bagaimana Indonesia ? Sayang Indonesia masih kecil sekali pengeluaran dana risetnya. Dari APBN tahun 2006 sebesar Rp 700 triliun yang dikeluarkan untuk penelitian kira-kira Rp 1,5 triliun (atau US$ 150 juta ). Suatu jumlah yang amat kecil sekali karena kira-kira hanya 0, 04 persen dari APBN. Diharapkan pada 2010 porsinya dapat meningkat menjadi 0,5 persen, kemudian pada 2015 menjadi 1 persen dan 2020 menjadi 2,5 persen. Mudah-mudahan cita-cita itu dapat terwujud.
Bagaimana pendapat Anda ?
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
9:23 PM
|
Labels: academic, Business, Government
Friday, February 1, 2008
Tahukah Anda?
Dampak Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Bagi Ketahanan Pangan Indonesia
Pergeseran musim akibat perubahan iklim dan cuaca yang berubah-ubah telah mengakibatkan kekeringan di beberapa daerah di Indonesia sehingga menambah rumit masalah swadaya pangan terutama beras. Dampak yang lebih besar yaitu meningkatnya keluarga miskin.
Dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan antara lain :
1. Menurunkan produktifitas, khususnya di wilayah pantai akibat naiknya suhu global.
2. Meningkatnya frekuensi kejadian iklim ekstrim sehingga kehilangan produksi akibat bencana kering dan banjir meningkat.
3. Kerawanan pangan meningkat di wilayah rawan bencana kering dan banjir.
4. Masalah penyakit tanaman berpotensi untuk berkembang.
Sumber : Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo, “ Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global?”, PenebarPlus, Jakarta. 2007
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
11:41 PM
|
Labels: enlightenment
Thursday, January 31, 2008
Setiap Bangsa Memerlukan Powerhouse
Topic : Government - Business
Tidak ada salahnya bagi setiap bangsa memiliki perusahaan superbesar yang kita sebut sebagai sebuah powerhouse. Kita memang memerlukan banyak UKM (Usaha Kecil Menengah) untuk menyediakan banyak lapangan pekerjaan (massive employment). Tetapi kita juga butuh sejumlah powerhouse untuk mengembangkan teknologi dan menggarap kekayaan bumi Indonesia.
Tanpa powerhouse tak akan ada pesawat terbang, kereta api, mobil, sepeda motor, perjalan wisata ke manca negara, produk-produk kimia, alat-alat kesehatan dan obat-obatan, makanan dalam kemasan, computer dan peranti lunaknya, besi baja, tembaga bahkan migas. Kita memerlukan powerhouse untuk mengembangkan teknologi, memelopori produk baru yang terus dibutuhkan dan mengolah kekayaan alam dari perut bumi. Powerhouse memiliki skala usaha yang besar karena kita memerlukan efisiensi. Setiap negara yang maju pasti didukung oleh sejumlah powerhouse. Dan semakin suatu negara, makin banyak dan makin beragam pula jenis powerhouse-nya.
Amerika Serikat, misalnya, didukung oleh Exxon, Coca Cola, IBM, General Motors, Ford, Boeing, Westinghouse, Du Pont, Xerox, Caterpillar, Microsoft, Motorola, Freeport, Wallmart, P&G dan lain sebagainya.
Jerman memiliki Mercedez, BMW, Audi, Siemens dan seterusnya. Inggris memiliki Lever Brothers (Unilever) dan Mark&Spencer. Finlandia memiliki Nokia. Jepang didukung oleh Sumitomo, Sony, Panasonic, Honda, Toyota dan Yamaha.
Korea Selatan membangun ekonominya lewat Samsung, Daewoo, LG, Hyundai dan Posco.Sementara India maju berkat Bajaj, Infosyss, TCS, Mithal Steel dan Tata Group.Sementara Arab Saudi hanya mengandalkan satu powerhouse saja yakni Saudi Aramco.
Keberadaan perusahaan-perusahaan besar itu menjadi sangat penting karena sejumlah hal. Pertama. ia menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah yang sangat besar. Kedua, powerhouse adalah penyumbang GDP dan penerimaan negara (melalui pajak dan pembangunan infrastruktur) yang sangat penting. Ketiga, mengembangkan teknologi. Selain besar dalam segala hal, powerhouse mengembangkan teknologi baru. Keempat, bagi negara-negara berkembang powerhouse adalah simbol kemajuan bagi bangsanya. Mari kita lihat apa yang terjadi di RRC. Pada tahun 1995, tak lama setelah RRC membuka diri dan membiarkan modal asing masuk ke negeri yang dulu dikenal sebagai “tirai bambu”. Majalah Fortune hanya mencatat tiga nama powerhouse saja. Sejalan dengan bangkitnya RRC pada tahun 2002 jumlah telah bertambah menjadi 10 buah dengan bidang usaha yang beragam dari telekomunikasi hingga perbankan.
Bayangkan hidup tanpa powerhouse. Kita tidak mungkin mendulang emas, membuat pesawat, mengolah bahan-bahan kimia, menggali minyak dan mengolah gas dengan perusahaan-perusahaan kecil.
Bagaimana dengan Indonesia? Mampukah perusahaan seperti Pertamina dapat kembali menjadi powerhouse bagi Indonesia?
Sumber : Rhenald Kasali, “ Mutasi DNA Powerhouse : Pertamina on the Move”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
11:03 PM
|
Labels: Business, Government