Google

Monday, January 14, 2008

Peran Sel Punca (Stem Cell) Dalam Memperbaiki Organ Tubuh



Figure. Rodent Model of Myocardial Infarction.
(© 2001 Terese Winslow, Lydia Kibiuk)

Topic : Academic

By Prof Dr Samsuridjal Djauzi SpPD (K)


Para peneliti bidang kedokteran kini tengah mengembangkan terapi dengan sel induk (sel punca) untuk memperbarui fungsi organ. Di Institut Terapi Sel di Universitas Katolik Korea tengah diteliti penggunaan sel induk (sel punca)dewasa untuk terapi stroke. Uji coba pada 17 penderita stroke juga menunjukkan hasil cukup baik. Perbaikan klinis terjadi pada 70 persen penderita. Demikian juga pada penderita lumpuh sebelah badan, mereka dapat berjalan lagi. Meski uji coba masih terbatas, hasil sementara ini cukup menggembirakan.

Di Amerika Serikat, Hongkong, dan Australia juga telah dimulai terapi sel induk (sel punca) untuk penyakit jantung. Indikasi terapi adalah penderita infark miokard. Terapi infark miokard jantung bertujuan mencegah remodeling dengan harapan terjadinya sel miokard baru. Terapi miokardiopati di Indonesia sulit dilakukan karena perlu cangkok jantung. Dengan terapi sel induk (sel punca) diharapkan penderita yang selama ini tidak mempunyai opsi terapi dapat ditolong dengan biaya tak terlalu mahal dan risiko yang lebih ringan.

RS Cipto Mangunkusumo bekerja sama dengan RS Dharmais sudah mengembangkan terapi sel induk (sel punca). Tahun 2007 dimulai terapi sel induk (sel punca) dewasa untuk terapi infark miokard akut dan tahun 2008 akan dikembangkan untuk terapi kaki diabetes dan penyakit sendi (osteoarthritis).

Penggunaan terapi sel induk (sel punca) secara luas di Indonesia masih perlu waktu dan pengalaman. Yang bisa dilakukan adalah menjaga kesehatan dan memelihara organ tubuh sebagai anugerah Tuhan yang tak ternilai.

Prof Dr Samsuridjal Djauzi SpPD (K) adalah Ahli Penyakit Dalam. Tinggal di Jakarta

Sumber : "Ketika Organ Tubuh Gagal Berfungsi", Harian Kompas, Senin, 14 Januari 2008

Tahukah Anda?


Terjadi Percepatan Mencairnya Lapisan Es


By Brigitta Isworo


Pada tahun 2006 terjadi percepatan terjadinya gletser di wilayah Antartika, mencapai sekitar 192 miliar ton lapisan es.

Pemanasan global mengakibatkan hilangnya lapisan es sebanyak 75 persen dalam 10 tahun terakhir. Demikian hasil dari penelitian yang amat cermat yang dilakukan di wilayah tersebut.

Penelitian tersebut dilakukan para ahli dari lima negara yang dipimpin oleh Eric Rignot dari Jet Propulsion Laboratory Badan Antariksa dan Ruang Angkasa Nasional (NASA) Amerika Serikat. Mereka menggunakan radar interferometri dari empat buah satelit untuk mendapatkan citra dari periferi (perbatasan pinggiran) Antartika.

Sementara itu, di bagian Antartika Barat telah terjadi kehilangan lapisan es sebanyak 132 miliar ton, sementara Semenanjung Antartika yang merupakan ujung daratan ke arah Amerika Selatan telah kehilangan lapisan esnya sebanyak kira-kira 60 ton.

Akan tetapi, sebaliknya terjadi di wilayah Antartika Timur, mencairnya lapisan es "nyaris nol". Di wilayah ini terdapat lapisan es terbesar di dunia.

Penelitian ini bertujuan mencari tingkat kecepatan terjadinya gletser yang menggeser lapisan es ke pantai dari lapisan padat es yang menutupi lapisan dasar daratan (bedrock) Antartika.

Mereka berhasil mendapatkan citra, sekitar 85 persen dari garis pantai Antartika. Sebagian data disuplai oleh satelit bumi pengindraan jauh (ERS) milik Badan Ruang Angkasa Eropa (ESA), Radarsat-1 Kanada, dan satelit milik Jepang, Advanced Land Observing (ALO).

"Sepanjang waktu penelitian kami, lapisan es secara keseluruhan telah kehilangan massa. Massa yang hilang meningkat menjadi 75 persen dalam 10 tahun terakhir," demikian tercantum dalam laporan penelitian yang termuat di jurnal ilmiah Nature Geoscience. Cairnya 192 ton lapisan es itu ekuivalen dengan kenaikan muka air laut 0,5 milimeter. (AFP/isw)

Sumber : "Terjadi Percepatan Mencairnya Lapisan Es" , Harian Kompas, Senin, 14 Januari 2008

Friday, January 11, 2008

Menuai Laba dengan Menulis Topik Favorit Sambil Beramal Bersama Squidoo



Topic : Business

By Ari Satriyo Wibowo


Ada satu lagi situs bagi mereka yang kreatif dan suka menulis. Squidoo.com adalah sebuah situs mudah yang disediakan bagi siapa saja secara gratis dalam bentuk satu halaman tunggal tentang topik apa saja yang paling dikuasai seseorang. Hal itu berdasarkan keyakinan pemilik situs tersebut bahwa setiap orang dikarunia bakat unik.

Topik yang dipilih dalam Squidoo disebut sebagai lensa (lenses). Lensa bisa tentang apa saja, baik berupa sudut pandang seseorang, rekomendasi maupun kepakaran yang dimiliki seseorang. Misalnya, ide, orang atau tempat, hobi dan olahraga, hewan peliharaan atau produk, falsafah, dan politik.

Isi halaman ”lensa” tersebut dengan tulisan berdasarkan topik yang paling disukai dan dikuasai sesuai hobi masing-masing. Misalnya, ”Cara Mudah Menghentikan Kebiasaan Merokok”, ” Petunjuk Praktis Mendaki Gunung di Daerah Tropis”, ”Beberapa Teknik Gampang Membatik”, ”Bagaimana Memelihara Belut Raksasa Jinak dari Maluku”, ”Mengenal Adat Suku Laut” atau ”Wisata Kuliner di Berbagai Daerah Indonesia”. Sebaiknya halaman lensa tersebut ditulis dalam bahasa Inggris agar pengunjungnya lebih banyak. Lensa atau topik yang ditulis juga bisa lebih dari satu.

Setiap halaman lensa dapat menampilkan foto-foto dari Flikcr, peta dari Google Maps, video dari YouTube, link dari eBay dan lain sebagainya.

Lalu apa untungnya membuat tulisan dengan topik-topik di atas ? Bagi halaman tulisan yang beruntung memperoleh iklan maka pendapatan iklannya dapat menjadi penghasilan bagi yang mengisi halaman (Lensmaster) itu sekaligus sebagai kegiatan amal. Misalnya, ditetapkan bahwa 50% penghasilan iklan bagi penulis konten, 25 % untuk disalurkan ke badan amal yang dikelola Squidoo dan 25 % lainnya disumbangkan kepada Palang Merah Internasional.

Dengan demikian pemilik konten (Lensmaster) dapat memiliki penghasilan dari kegiatan menulis yang sesuai bakat atau kegemarannya sekaligus beramal.

Situs Sqidoo mulai beroperasi Oktober 2005 dan memiliki markas besar di Irvington, New York, AS. Pemilik situs ini adalah pengarang buku manajemen, pembicara manajemen sekaligus blogger terkenal Seth Godin.

Bagaimana pendapat Anda?

Wednesday, January 9, 2008

Kenangan Emil Salim Atas Kearifan Lokal di Masa Kecilnya

Topic : Academic

By Ari Satriyo Wibowo

Emil Salim adalah salah satu mantan menteri yang kenyang dengan pelbagai jabatan. Dia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap Wakil Kepala Bappenas (1971-1973), Menteri Perhubungan (Kabinet Pembangunan II 1973-1978), Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan III 1978-1983) dan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan IV dan Kabinet Pembangunan V 1983-1993). Kini ia tetap giat sebagai aktivis lingkungan.




Pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, 8 Juni 1930 itu terkadang merindukan masa kecilnya yang indah di Lahat dulu. Berbagai kearifan lokal masa lalu kini sudah banyak yang dilupakan orang. Berbagai pelajaran jungle survival dipelajarinya di masa kecil.

Beberapa teknik bertahan hidup di hutan tropis yang dipelajari Emil Salim sewaktu kecil adalah sebagai berikut : Bila seseorang bermaksud mencari makanan di hutan maka carilah di mana komunitas Beruk (sebangsa monyet atau kera ) berada. Lihatlah sisa-sisa kulit dari buah-buahan yang dimakan si Beruk.Itu menandakan buah tersebut dapat dimakan dan tidak beracun. Segala buah-buahan yang dapat dimakan oleh si Beruk maka dapat pula dimakan oleh manusia. Mengapa? ”Karena perut Beruk pada dasarnya mirip dengan perut yang dimiliki manusia, ” ujar Emil Salim.

Kemudian bila di sana ada gajah maka carilah di mana tempat gajah buang hajat. Dipastikan di dalam onggokan tinja gajah yang menggunung itu di dalamnya ada buah duriannya. Durian itu tetap utuh karena gajah hanya memanfaatkan bagian kulit durian yang kasar untuk membersihkan bagian lambungnya. Jadi ketika keluar buah durian sudah gundul tetapi isinya tetap utuh dan rasa menjadi paling lezat di seluruh dunia karena di dalam perut gajah telah terjadi proses fermentasi. Mirip seperti kopi yang difermentasi di dalam perut binatang Luwak (sejenis musang).

Bagaimana jika merasa haus di hutan? Cari saja batang bambu di hutan karena di dalam batangnya pasti menyimpan air.

Bagaimana bila di hutan kehilangan arah? Gunakan hewan Lintah sebagai kompas alamiah. Sebab, hewan lintas kepalanya selalu mengarah menghadap Matahari. Bila arah Timur atau Barat sudah diketahui maka mudahlah mencari arah Utara dan Selatan.

Emil Salim juga amat kagum dengan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Badui, baik Badui Luar maupun Badui Dalam. Dalam tradisi pengobatan mereka semua daun yang ada di hutan bisa menjadi obat bagi segala penyakit yang diderita. Mereka cukup memakan daun tertentu atau menempelkannya pada bagian dahi, penyakit hilang dan penderita pun sembuh.

Bagaimana pendapat Anda?

Tahukah Anda ?


Bagian Pantai Kota San Francisco Akan Tenggelam Ketika Pemukaan Laut Naik


Efek Pemanasan Global Terhadap Permukaan Laut

Ketika atmosfer menghangat lapisan permukaan lautan juga akan menghangat sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tingkat permukaan laut. Peningkatan tinggi muka air laut 30% berasal dari pencairan es dan sisanya berasal dari pemuaian air akibat peningkatan temperatur.

Pemanasan global juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland sehingga memperbanyak volume air laut. Tinggi muka laut diselurug dunia telah meningkat 10-25 cm selama abad 20. Apabila separuh es di Greenland dan Antartika meleleh maka terjadi kenaikan permukaan air laut di dunia rata-rata setinggi 6-7 meter. Tinggi kenaikan rata-rata permukaan laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

Perubahan tinggi permukaan laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Hal ini dapat dilihat dari contoh sebagai berikut :

1. Apabila kenaikan permukaan laut 100 cm maka akan menenggelamkan 6 % daerah di Belanda, 17,5 % daerah di Bangladesh dan banyak pulau-pulau hilang. Demikian juga akan terjadinya erosi dari tebing dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat.
2. Apabila kenaikan air laut mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang pun akan meningkat di daratan.
3. Apabila kenaikan air laut sedikit saja, pengaruhnya akan cepat terlihat pada ekosistem pantai. Rawa-rawa pantai yang telah ada akan tenggelam dan akan terbentuk rawa-rawa baru.

Dengan kejadian di atas maka negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya. Namun, tidak demikian dengan negara-negara miskin yang tidak mempunyai cadangan dana. Negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai ke tempat yang lebih tinggi. Lalu. Siapa yang yang menangung beban ini ? Tentu masyarakat itu sendiri karena pemerintah tentu tidak mungkin punya dana untuk memindahkan kota Jakarta, misalnya.

Sumber : Gatut Suisanto dan Hari Sutjahjo, “Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global”, PenebarPlus, Jakarta, 2007

Tuesday, January 8, 2008

Asosiasi Sel Punca Indonesia (Indonesian Stem Cell Association) Segera Terbentuk

Topik : Academic, Business, Government

By Ari Satriyo Wibowo

Sel punca (sebuah istilah baru untuk stem cell) dengan kemampuan yang fenomenal, yaitu dapat meregenerasi diri, berproliferasi dan sekaligus berdiferensiasi, menarik perhatian berbagai kalangan baik dari medis maupun nonmedis. Selain perkembangan dalam hal ilmiah, sudah diketahui pula banyak sekali manfaat sel punca yang dapat digunakan sebagai terapi dan berbagai model untuk tes toksisitas obat. Seperti diketahui, topic pemenang hadiah Nobel di bidang fisiologi atau kedokteran tahun 2007 adalah memodifikasi gen pada mencit menggunakan sel puncak embryonic. Mencit dengan modifikasii gen ini, nantinya dapat digunakan sebagai model yang penting dalam kaitannya dengan suatu penyakit.

Di Indonesia, penelitian sel punca juga telah menarik perhatian besar dari berbagai institusi baik dari akademi, industri maupun pemerintah. Penelitian dan aplikasi mengenai sel punca menjadi topic pembicaraan yang hangat. Melihat kondisi itu dirasakan sudah saatnya untuk dibentuk suatu asosiasi agar para peneliti dan komunitas yang tertarik dengan sel punca dapat tersalurkan rasa ingin tahunya secara mendalam. Melalui asosiasi ini pula dapat diupayakan kerjasama antar institusi baik secara nasional maupun internasional agar perkembangan pengetahuan dan aplikasi sel puncak juga dapat dicapai secara optimal di Indonesia.

Oleh karena itu, dr. Boenjamin Setiawan, PhD selaku Chairmain dari Stem Cell and Cancer Indonesia (SCI) dengan dukungan Menristek Dr. Ir. Kusmayanto Kadiman bermaksud membentuk suatu asosiasi dengan nama “Asosiasi Sel Punca Indonesia” (Indonesian Stem Cell Association). Rencana semula namanya adalah “Assosiasi Peneliti Sel Punca Indonesia” tetapi karena nama tersebut terlalu eksklusif dan kurang dapat mengakomodasi para peminat sel puncak maka kata “Peneliti” akhirnya dihilangkan. Sebelumnya ada pula yang mengusulkan nama “Masyarakat Sel Punca Indonesia” dan “ Konsorsium Sel Punca Indonesia” namun kemudian semua sepakat dengan nama “Asosiasi Sel Punca Indonesia”.

Bila tidak ada aral melintang pembentukan asosiasi tersebut akan dideklarasikan pada tanggal 2 Februari 2008 di Gedung LIPI Jl. Gatot Subroto bersamaan dengan penyelenggaraan Seminar Stem Cell dengan beberapa pembicara dari luar negeri.

Adapun susunan sementara Advisory Board dari Asosiasi Sel Punca Indonesia adalah sebagai berikut :

Ketua : Dr. Ir. Kusmayanto Kadiman
Wakil Ketua : Prof. Dr. dr. Arry Haryanto Reksodiputro, SpPD, KHOM
Anggota :
1. Prof. Dr. Akmal Taher, Sp U
2. Prof. Dr. Ir. Bambang Hidayat
3. dr. Boenjamin Setiawan, PhD
4. Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti
5. Prof. Dr. Emil Salim
6. Prof. Dr. dr. Farid Anfasa Moeloek, Sp OG
7. Prof. Henk Timmerman
8. Dr.Ir. Mahdi Kartasasmita, APU
9. Dr. Menaldi Rasmin, SpP(K),FCCP
10. Prof. Umar Anggara Jenie,PhD

Bagaimana pendapat Anda?

Ketika Menristek Mengunjungi Pabrik Kalbe di Cikarang

Topic : Business, Government

By Ari Satriyo Wibowo


Menristek Dr. Ir. Kusmayanto Kadiman, Selasa siang, 8 Januari 2008 berkenan mengunjungi pabrik Kalbe Farma di Kawasan Industri Delta Silikon, Cikarang. Meski sempat tersesat sesaat tetapi akhirnya rombongan menteri sampai juga ke lokasi.Ikut hadir dalam acara tersebut Ketua LIPI Umar Anggara Djenie, mantan menteri KLH Prof. Dr. Emil Salim, Asisten Menristek Dr. Amien Subandrio dan Dr. Sjamsuhidajat dan beberapa tokoh lainnya.

Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa cikal bakal pabrik besar ini dulu berdiri 10 September 1966 di sebuah garasi rumah di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pada tahun 1985, Kalbe membangun pabrik di kawasan Pulomas yang kini menjadi lokasi pabrik PT Bintang Toedjoe. Pada 1997 lokasi pabrik Kalbe pindah ke Cikarang dan menempati area seluas 10 hektar.

Di pabrik itu Kalbe memproduksi obat bebas (over the counter/OTC), obat ethical dan obat berlisensi dari luar negeri. Seperti diketahui obat bebas yang dikenal masyarakat produksi Kalbe antara lain Promag, Enterostop, Fatigon, Cerebrovit. Johannes Setijono, Presiden Direktur PT Kalbe Farma, Tbk. mengungkapkan rahasia sukses produk OTC Kalbe,” Kami sukses bukan karena produk kami memiliki formula yang hebat tetapi lebih karena menjadi produsen pertama yang memproduksi obat itu di Indonesia.”

Ada berbagai macam bentuk obat yang diproduksi pabrik yang telah mengantongi sertifikat ISO 9001 (proses produksi) , ISO 14001 (lingkungan) dan ISO 18001 (keselamatan dan kesehatan kerja) itu. Di antaranya berupa plain tablet (tablet inti), film coated tablet, sugar coated tablet, hard capsule, soft capsule, sediaan kering, krim dan sirup.

Fasilitas produksi di pabrik itu dibagi menjadi 9 line. Di sini Menristek mengunjungi line 1 yang memproduksi obat bebas OTC Promag dengan kapasitas produksi 110 juta tablet per tahun dan line 6 yang memproduksi ampul injeksi. Fasilitas lain yang ditinjau Menristek antara lain laboratorium R&D dan fasilitas penyimpanan sample produksi dari tiap batch.

Produk Kalbe selain dipasarkan memenuhi kebutuhan domestik juga diekspor ke negara-negara di Asia Tenggara, Hongkong, Mongolia, Srilangka dan Nigeria.

Pada saat sesi tanya jawab kepada dr. Boen sang menteri bertanya produk obat apa saja yang merupakan ciptaan orisinil Kalbe Farma. Menurut dr. Boen sejak berdiri sudah ada dua produk asli Kalbe yakni Bioplacenton dan Kalpanax. Bioplacenton dulu diolah dari palsenta manusia tetapi karena alasan etis kemudian digunakan plasenta dari sapi. Salah satu manfaat Bioplacenton adalah untuk meredakan sakit sariawan. Sedangkan, Kalpanax merupakan obat panu yang dulu banyak diderita masyarakat Indonesia. Secara tradisional masyarakat dulu menggunakan umbi Laos untuk membasmi Panu. Di saat itulah Kalbe memproduksi Kalpanax yang formulanya terdiri dari asam salisilat dan surfaktan.

Bagaimana pendapat Anda?






Monday, January 7, 2008

Warisan Seorang Pemimpin

Topic : Academic, Business

By Ari Satriyo Wibowo

Kouzes dan Posner , dua pakar kepemimpinan kaliber dunia beruntung dapat bekerjasama dengan beberapa professional berpengalaman dalam kepemimpinan dan sumber daya manusia. Salah satu di antara mereka adalah Fred Margolis. Fred mengajari keduanya sebuah pelajaran yang banyak membentuk apa yang mereka lakukan sebagai pendidik.

Di tengah acara makan malam Fred bertanya,” Apa cara terbaik untuk belajar?”. Kedua pakar kepemimpinan itu serta merta menjawab,” Cara terbaik belajar adalah dengan mengalaminya sendiri.”

“Bukan,” balas Fred segera, seolah ia sudah menduga akan memperoleh jawaban seperti itu.”Cara terbaik belajar,” katanya ” adalah mengajarkannya pada orang lain.”

Dalam buku proaktif “A Leader’s Legacy” maka kisah-kisah bijak dan kepemimpinan dapat dijumpai di setiap bagian buku. Melalui 22 bab berisi pertanyaan –pertanyaan kritis yang harus diajukan oleh semua pemimpin pada diri mereka sendiri, Kouzes dan Posner membahas apa –apa yang harus dimiliki dan dilakukan agar seorang pemimpin dapat mewariskan “pengaruh yang abadi”.

Dalam esai-esai di buku ini, penulis membahas berbagai persoalan pelik dan ambigu yang harus ditangani oleh para pemimpin dewasa ini --- misalnya bagaimana pemimpin melayani dan berkorban, mengapa pemimpin harus cepat menghargai kritik, mengapa pemimpin harus ingin disukai, bagaimana pemimpin tidak boleh percaya begitu saja, mengapa visi tidak boleh hanya nerupakan visi dari sang pemimpin saja, mengapa kegagalan harus selalu dijadikan pilihan., mengapa diperlukan keberanian untuk menciptakan kehidupan dan bagaimana warisan yang ditinggalkan bisa menjadi pemim[in kehidupan bagai setiap orang setiap hari.

Sebuah buku bagus untuk menjadi bahan renungan semua pemimpin dewasa ini. Bagaimana pendapat Anda?

Tahukah Anda?


Efek Rumah Kaca


Efek rumah kaca pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824, merupakan sebuah proses dimana atmosfer memanaskan sebuah planet seperti Mars, Venus, Saturnus, Titan dan Bumi.

Efek rumah kaca dapat dibedakan menjadi dua hal, yaitu :

-Efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi
-Efek rumah kaca yang meningkat akibat aktivitas manusia

Apakah rumah kaca selalu merugikan? Efek rumah kaca tidak merugikan apabila tidak berlebihan. Secara alami efej rumah kaca sangat penting karena bumi menjadi cukup hangat sehingga dapat mendukung kehidupan manusia. Tanpa efek rumah kaca kehidypan manusia di bumi akan terganggu karena suhu rata-rata bumi akan berkisar - 20 derajat Celcius.

Menurut Petrucci dan Harwood (1997 :260) efek rumah kaca penting untuk menetapkan suhu yang layak bagi kehidupan di bumi. Tanpa efek rumah kaca, bumi secara permanen akan tertutup es dan perbedaan suhu antara siang dan malam hari di bumi tidak terlalu jauh berbeda.

Sumber : Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo, “ Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global”, PenebarPlus, Jakarta, 2007

Friday, January 4, 2008

Menuju Active Aging

Topic : Academic

“Dalam jangka panjang kita semua akan mati,” kata John Maynard Keynes. Benar. Tetapi bisakah dalam jangka pendek ditemukan cara untuk memanjangkan waktu dalam jangka panjang itu? Bila ya, bagaimana dan berapa biayanya?

Orang memang memimpikan untuk bisa hidup hingga 1000 tahun sejak dulu. Berbagai upaya dilakukan untuk itu dan tidak sedikit yang mengalami kegagalan. Namun, perkembangan bioteknologi yang pesat beberapa dekade terakhir memungkinkan hal itu terwujud.

Salah satu yang melakukan riset untuk mencegah penuaan adalah Dr. Aubrey de Grey, periset independen di Cambridge, Inggris. Ia menggunakan pendekatan yang disebutnya Strategies for Engineered Negligible Senescence (SENS).

Menurut Dr. de Gray ada tujuh hal penyebab kematian yakni kehilangan sel, apoptosis-resistance (kecenderungan sek untuk menolak kematian ketika saatnya tiba), mutasi gen pada inti sel, mitochondria (pusat sumber tenaga sel), akumulasi sampah pada sel serta akumulasi bahan kimia yang tak perlu dalam sel.

Mitochondria adalah tempat gula diubah menjadi energi dengan memanfaatkan oksigen untuk pembakaran. Energi yang dihasilkan kemudian disalurkan kepada sel-sel yang membutuhkan. Mahluk berdarah panas seperti manusia membutuhkan oksigen dalam jumlah banyak untuk proses oksidasi tersebut dan sebagian akhirnya menjadi radikal bebas. Radikal bebas inilah merusak molekul dalam tubuh seperti DNA dan protein. Oleh karena itu, membersihkan radikal bebas dari tubuh dapat memperlambat proses penuaan. Dan senyawa kimia yang dapat menghilangkan radikal bebas lazim disebut antioksidan.


Pakar Gerontologi Dr. Bruce Ames dari Universitas Kalifornia di Berkeley, AS yang selama ini menekuni tentang penyakit kanker. Ia menemukan bahwa kerusakan dari beberapa gen disebabkan oleh kanker. Gen itu seolah deprogram untuk membantu eksistensi tumor dengan cara menghentikan proses pembelahan sel. Kerusakan bisa pula diakibatkan proses oksidasi.

Beberapa tahun lalu Dr. Ames melakukan percobaan pada tikus dengan memberinya asupan berupa acetyl carnitine dan lipoic acid yang mampu meningkatkan daya ingat tikus-tikus itu. Hal itu karena fungsi enzim Carnitine Acetyltransferase yang terdapat di dalam Mitochondria terbantu melalui asupan tersebut.

Mengapa upaya memperpanjang usia sekaligus mempertahankan kesehatan dibutuhkan? Hal itu agar meski lanjut usia orang tetap bisa produktif atau biasa disebut dengan istilah Active Aging.

Dalam rangka memahami lebih dalam topik tersebut maka pada tanggal 26 Januari 2008 mendatang akan diselenggarakan seminar terbatas “ Active Aging to Slowdown the Aging Process” yang diselenggarakan Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Gumilar R. Somantri bertempat di Gedung Rektorat Ui Jl. Salemba No. 4, Jakarta.

Selaku Ketua Panitia Seminar adalah Prof. Dr. Tri Budi W. Rahardjo (61) dari Pusat Penelitian Kesehatan UI. Ada empat pembicara yang menurut rencana tampil dalam acara tersebut yakni dr. Boenjamin Setiawan, PhD (“Stem Cell to Slowdown TheAging Process”), Dr. Heriawan (“Successful Aging”), Dr. Marta Tilaar (“Indegenous Plants and Anti Aging”) dan Aris Ananta ("Health and Wellbeing").

Bagaimana pendapat Anda?

Sumber : "Abolishing Ageing : How To Live Forever?" The Economist, 3 Januari 2008

Tahukah Anda?




Mesenchymal Stem Cell (MSC)

Mesenchymal Stem Cells atau MSC adalah multipotent stem cells yang dapat diferensiasi ke pelbagai jenis sel lainnya. Jenis sel MSC bisa didiferensiasi melalui cara in vitro maupun in vivo antara lain osteoblast, chondrocytes, myocytes, adipocytes dan beta pancreatic islets cells. Sel-sel itu juga bisa dideferensiasi menjadi neuronal cells.

Oleh karena istilah Mesenchymal Stem Cell dan Marrow Stromal Cell sering saling dipertukarkan, maka perlu dijelaskan beberapa perbedaan sebagai berikut :
Mesenchyme adalah embryonic connective tissue yang diturunkan dari mesoderm dan didiferensiasi menjadi hematopoietic dan connective tissue, sementara MSCs tidak didiferensiasi menjadi hematopoietic cells.

Stromal cells adalah connective tissue cells yang membentuk struktur pendukung di mana sel fungsional dari jaringan bertempat tinggal. Meski istilah ini cukup akurat untuk mendefinisikan salah satu fungsi MSC tetapi istilah ini gagal menyatakan peran terbaru MSC dalam memperbaiki jaringan.

Karena sel-sel yang disebut MSC oleh banyak laboratorium dapat bermakna multipotent cell yang diturunkan dari jaringan lain yang termasuk yang berasal dari non marrow seperti adult muscle side population cells atau Wharton’s jelly yang terdapat dalam umbilical cord yang tidak mewakili keseluruhan organ tubuh maka istilah Multipotent Stromal Cell diusulkan untuk menggantikan istilah Mesenchymal Stem Cells.

Sumber : Wikipedia

Thursday, January 3, 2008

Bertemu Teman Lama Ravenska Radjawane Wagey, PhD Setelah 25 Tahun Tak Bersua

Topic : Academic - Business

By Ari Satriyo Wibowo

Saya sungguh tidak menduga bahwa setelah 25 tahun tak bersua akan bertemu dengan teman lama. Dialah Ravenska Radjawane Wagey, PhD yang kini bekerja di StemCell Technologies Inc. , Kanada. Ia sengaja mampir ke Jakarta setelah menghabiskan liburan Natal dan Tahun Baru di Maluku untuk memberikan presentasi di SCI (Stem Cell and Cancer Institute) yang terletak di Kompleks Pabrik Bintang Toedjoe, Pulomas dengan topik berjudul “Culture, Identification and Enrichment of Mesenchymal Cells

Ingatan saya seolah dibawa mesin waktu kembali ke periode 6 – 20 Agustus 1982. Ketika itu saya bersama 20 teman-teman dari seluruh Indonesia diundang sebagai finalis Lomba Karya Penelitian Ilmiah Remaja (LKPIR) P&K 1982.

Kami semua diundang untuk mempertahankan penelitian kami untuk diuji sekitar 12 pakar dari berbagai disiplin ilmu yang mayoritas bergelar doktor (selain tentu saja rekreasi ke TMII, Ancol, Monas, Istiqlal, Museum Nasional, Museum Satria Mandala, Museum Batavia di Kota, PDIN LIPI, Planetarium, Herbarium & Zoology Bogor, Puncak, Penerbit Time Life dan lain-lain serta ikut betemu Ibu-ibu Ria Pembangunan, Pidato Kenegaraan Presiden 16 Agustus di Gedung MPR/DPR RI dan upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekan RI di Istana Merdeka tanggal 17 Agustus). Mereka antara lain : Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution (ketua), Dr. A Mien Rivai (LIPI), Dr. Barmawi (Fisika ITB), Dr. Susanto Iman Rahayu (Kimia ITB), Prof. J. Bar, dr. Kartono Mohammad, Dr. Barli Halim dan masih banyak lagi lainnya. Karena sidang dilakukan di ruang rapat Menteri P&K maka Dr. Daoed Jusuf, menteri P&K yang menjabat saat itu pun ikut menyaksikan.

Beragam penelitian diusung teman-teman. Ada Ariel dari SMA Negeri 2 Surabaya yang membuat karya elektronika (ia sempat mengikuti program Beasiswa Habibie di Belanda tetapi sayang kurang berhasil) , ada teman dari Pontianak mengajukan karya penelitian tentang tanaman Tengkawang, ada teman yang masih duduk di SMP Negeri Sleman mengajukan karya “Mengapa Undur-Undur Berjalan Mundur?” , ada rekan Michael Satya Wirawan yang merupakan anak sulung Prof. Dr. FG Winarno yang waktu itu masih duduk di SMA Regina Pacis, Bogor dan mengajukan topik tentang kesehatan (setelah mengikuti program beasiswa Habibie akhirnya dia meraih gelar PhD di bidang Aeronautika di Perancis).Masih ada rekan dari SMA 3 Bandung membawakan topik kesehatan tentang hewan Kepinding (Jw. Tinggi atau Bangsat. Dan rekan dari Mataram,Lombok, NTB tentang adat kawin lari Merarik di sana.

Demikian pula rekan Effiyanti dari Aceh yang meneliti tentang tanaman obat setempat untuk mengatasi penyakit asam urat (syukurlah cita-citanya menjadi ahli farmasi akhirnya terkabul setelah berhasil lulus dari Farmasi UGM). Ada teman wanita dari Jogya yang mengajukan penelitian tentang tempe dari Koro dan satu teman perempuan dari SMA Regina Pacis yang mengajukan penelitian tentang membuat selai dari kulit durian. Sedangkan, rekan dari Irian Jaya mengajukan makalah berjudul “Ilpas Dos Papuas” (Tanah Orang Berambut Keriting).

Saya sendiri dari SMA Negeri 1 Semarang mengajukan makalah penelitian Kimia berjudul “Prospek Budidaya Berbagai Gulma Air Tawar pada Industri Kecil Methanol di Pedesaan”. Pada intinya di masa krisis energi pada waktu itu saya menawarkan solusi berupa pembuatan bahan bakar alternatif dengan mengolah biogas yang dihasilkan gulma air tawar seperti Enceng Gondok (Eichornia crassipess sp) dan Ganggang air (Hidrilla sp) menjadi methanol. Seperti nasib-nasib teman-teman lain saya pun dicecar berbagai pertanyaan oleh para juri seperti Dr. A. Mien Rivai, Dr. Barmawi dan Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Tetapi yang paling tajam dan “membantai” adalah pertanyaan-pertanyaan dari Dr. Susanto Imam Rahayu dari Kimia ITB.

Akhirnya, penelitian paling mengesankan waktu itu memang ada pada Ravenska Radjawane Mengapa? Selain mengusung penelitian yang orisinal tentang Cacing Laor di Ambon, Maluku, Ravenska yang waktu itu bersekolah di SMA Negeri 1 Ambon juga memiliki segudang prestasi antara lain sebagai tokoh remaja berbakat, pelajar teladan (1982), dan Puteri Remaja Indonesia versi majalah Gadis (1981).

Berawal dari rasa ingin tahu tentang keunikan Laor yang kemunculannya hanya terjadi setahun sekali, di lokasi tertentu, wanita berdarah Ambon, putri pertama pasangan Pendeta Dr. Arnold Nicolaas Radjawane dan Since Radjawane ini kemudian melakukan penelitian ilmiah, dengan fasilitas yang sangat terbatas kala itu.

Laor adalah sejenis cacing laut yang muncul hanya pada bulan Maret atau April. Di Pulau Ambon, Laor muncul di Pantai Namalatu Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe Ambon. Pantai Namalatu ini berhadapan langsung dengan Laut Banda. Tepatnya 15 kilometer dari pusat kota Ambon.

Faktor yang mendukung kemunculan Laor, menurut Venska, didorong oleh pasang surut air laut dan kadar garam. Selain itu ada mitos-mitos tertentu yang menjadi tanda bagi masyarakat setempat, terhadap kemunculan Laor. Diantaranya tanaman-tanaman tertentu akan membusuk. Ada juga yang menyebut, waktu munculnya Laor, menjelang perayaan perjamuan kudus bagi umat Kristen yang mayoritas mendiami kawasan tersebut.

Waktu panen Laor dilakukan pada malam hari, dengan menggunakan nyiru (wadah dari anyaman bambu) untuk menimba dan diterangi obor. Penerangan obor sepanjang pesisir pantai, menjadi pemandangan malam yang sangat indah.

Rasa keingintahuannya tentang misteri Laor, membuat wanita yang dibesarkan di lingkungan pantai ini, asyik mengamati kehidupan cacing Laor yang bisa dimakan itu. Dia lantas membuat sebuah karya tulis, dari hasil pengamatannya selama beberapa bulan. Dewan juri lantas menyatakan penelitian Venska tentang kehidupan si Laor itu bermanfaat, sehingga dia berhak menyandang gelar Juara Pertama.

Ketika menyabet juara pertama LKPIR P&K itu, berbagai beasiswa bertubi-tubi ditawarkan kepadanya. Bak mendapatkan durian runtuh. Dia lantas memilih beasiswa kuliah strata satu di Institut Pertanian Bogor (IPB). Usai meraih gelar sarjana Perikanan IPB tahun 1988 perempuan berpostur mungil dan berperangai lembut ini, kemudian mendapatkan beasiswa untuk meraih gelar Master of Science dari Department of Biology Universitas Ryukyu, Okinawa, Jepang (1991). Gelar PhD , kemudian diraihnya pada tahun 2000 setelah menempuh pendidikan di Department of Medicine University of British Columbia, Kanada dengan topik penelitian tentang ALS (amyotrophic lateral sclerosis).

Kini, istri dari Tonny Wagey, pria asal Sulawesi Utara itu, bermukim di Kanada dan bekerja sebagai salah satu peneliti senior di Stemcell Technologies Inc, Kanada. Perusahaan tempatnya bekerja ini, memproduksi alat-alat riset untuk melakukan penelitian di bidang sel induk.

Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir Ravenska terpaksa berpisah dengan suaminya yang harus menunaikan tugas di salah satu kantor Departemen Kelautan di Tanjung Priok, Jakarta. Beruntung suaminya mendapatkan posisi hubungan internasional sehingga sering melakukan kunjungan ke luar negeri terutama AS. Kesempatan itu tentu saja tak disia-siakan kedua insan itu untuk saling melepas rindu.

Venska berjanji akan menceritakan pengalaman-pengalaman risetnya di blog ABGNET ini dalam kesempatan mendatang. Harap menunggu dengan sabar ya.

Bagaimana pendapat Anda?

Sumber data tambahan : Profil Ravenska di Harian Kompas dan catatan radio Baku Bae di Internet.