Disebabkan website Kompas (khususnya Kompas Cetak) sedang diperbarui dengan platform berbentuk blog maka sejak Sabtu, 19 Januari 2008 situsnya susah diakses dan tidak update. Padahal, ada artikel bagus dari F Rahardi, penyair yang juga pakar masalah pertanian yang layak disimak para pembaca. Oleh karena itu, pada kesempatan ini tulisan tersebut dimuat ulang di blog ini.
Dari Kedelai ke Gandum dan Kapas
Opini di Harian Kompas, Sabtu, 19 Januari 2008
Topic : Government
By F Rahardi
Tanaman Rami (Boehmeria nivea)
Kita bukan hanya bangsa tempe, tetapi juga bangsa yang sangat rapuh. Kalau impor kedelai kita hanya sekitar satu juta ton, impor gandum kita kini sudah mencapai lima
juta ton per tahun. Dan baju katun kita, hampir 100 persen bahannya harus diimpor.
Kita pernah bermimpi untuk membangun industri pesawat terbang, tetapi kita lupa membuat peniti, paku payung, dan jarum. Beberapa kali pejabat kita juga mencanangkan program agropolitan, tetapi lupa menanam kedelai hingga ketergantungan perajin tahu dan tempe kita pada kedelai impor amat tinggi.
Belakangan orang Amerika Serikat malas menanam kedelai karena jagung sebagai bahan etanol harganya lebih baik. Maka, harga kedelai pun naik sampai lebih dari 100 persen.
Sebenarnya, kita bisa dengan mudah mencukupi kebutuhan kedelai yang hanya sekitar dua juta ton per tahun. Lahan pantura Jawa saat musim kemarau kering kerontang. Dengan investasi air, baik menyedot air sungai, membuat sumur dalam, maupun menampung air hujan, lahan ini bisa amat produktif menghasilkan kedelai. Tetapi, aparat pemerintah kita memang keenakan, dengan upeti dari para importir kedelai. Hingga luas lahan kedelai terus menciut.
Masih ada pula alternatif lain. Kita punya BUMN dan banyak perusahaan perkebunan swasta besar. Bekas tebangan HTI, sawit, karet, dan lain-lain bisa dimanfaatkan untuk budidaya kedelai. Tentu harus dengan paksaan, sekaligus insentif dari pemerintah.
Sebenarnya kedelai adalah soal kecil bagi pemerintah dari sebuah negara sebesar Indonesia. LSM besar kita juga lebih tertarik ke eforia politik dibanding hal yang remeh-temeh demikian.
Juga bungkil
Melambungnya harga kedelai akibat terseret kenaikan harga BBM akan berimbas amat luas bagi perekonomian rakyat Indonesia sebab kedelai juga merupakan bahan bungkil pakan ternak serta ikan. Dan kembali, kita juga amat bergantung pada bungkil impor.
Kita sebenarnya punya kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), dan koro benguk (Mucuna pruriens) sebagai bahan bungkil alternatif, yang produktivitas serta kandungan proteinnya lebih baik dari kedelai. Tetapi, tidak pernah ada upaya dari perguruan tinggi dan balai penelitian kita untuk mengurus dua komoditas ini.
Kita juga sudah sejak lama bisa membudidayakan gandum dengan benih dari India, Pakistan, dan Meksiko. Tiga negara ini dikenal sebagai perintis gandum tropis di dunia. Selain benih impor, balai penelitian kita, juga Badan Tenaga Atom Nasional, telah berhasil menciptakan varietas unggulan. Tetapi, tidak pernah ada niat mengembangkannya secara besar-besaran. Padahal, kawasan potensial untuk budidaya gandum cukup banyak. Mulai dari Kuningan (Jabar), Kopeng (Jateng), Tengger, Ijen (Jatim), seluruh dataran tinggi di Bali, NTB, NTT, dan Sultra.
Akibatnya, impor gandum kita terus membengkak, terakhir mencapai lima juta ton dengan nilai lebih dari Rp 7 triliun.
Niat untuk mengembangkan gandum tampaknya juga terganjal kepentingan para importir. Uang mereka terlalu kuat masuk ke kantong para pengambil keputusan di negeri ini. Hingga tiap kali orang miskin Indonesia makan mi instan, sebenarnya ia sedang ikut memperkaya petani gandum di negara maju, yang sebenarnya sudah cukup kaya.
Kapas versus rami
Kita pernah bangga sebagai produsen tekstil utama dunia, sebelum dihajar RRC dan India. Tetapi, kita amat rapuh sebab hampir 100 persen kebutuhan kapas untuk industri itu harus diimpor. Mesin-mesin tekstil modern kita sudah didesain untuk memintal dan menenun benang kapas. Bukan serat nabati lain. RRC dan India adalah dua negara yang populasi penduduknya di atas satu miliar jiwa. Mereka tidak kerepotan memberi baju rakyatnya karena tidak hanya mengandalkan kapas.
Tumbuhan yang lebih hebat dari kapas adalah rami (Boehmeria nivea). Pembalut mumi Mesir kuno dan juga kain kafan Yesus berbahan serat rami. Rami bukan kenaf (Hibiscus cannabinus) dan beda dengan yute (Corchorus olitorius dan Corchorus capsularis). India dan RRC amat mengandalkan tumbuhan penghasil serat nonkapas, terutama rami. Hingga serat rami hasil dekortikasi, disebut chinagrass, sebelum di-deguming menjadi serat rami top.
Beberapa tahun lalu, saat heboh kapas transgenik, sebenarnya aktivis LSM kita sedang dibodohi eksportir kapas dari AS. Dengan sibuk meributkan kasus kapas transgenik, LSM kita lupa, yang harus mereka urus bukan kapas, tetapi rami. Hingga kini, para pionir rami di Indonesia harus bekerja diam-diam dan modal sendiri sebab jika diketahui sindikat kapas dunia, program ini akan dimentahkan.
Besar kepala
Kita sering membanggakan diri sebagai bangsa yang besar. Sebab, kenyataannya populasi penduduk kita nomor empat di dunia. Kita juga negara kepulauan terbesar, punya hutan tropis terluas nomor dua, punya pantai terpanjang nomor dua, dan punya gunung api terbanyak. Tetapi, kita terlalu besar kepala hingga selalu menganggap diri hebat. Ini merupakan imbas yang amat kuat dari kultur Jawa, yang selalu ingin dianggap hebat.
Dalam kultur Jawa, gundukan tanah tidak disebut bukit, tetapi gunung. Ada Gunung Tidar, Gunung Kemukus, Gunung Srandil, yang semuanya hanya bukit kecil. Majikan, raja, dan Allah juga dipanggil dengan sebutan sama, Gusti. Gusti bendoro, gusti prabu, dan Gusti Allah. Ini merupakan sikap simbolis etnis yang tinggal di pulau kecil, tetapi ingin dianggap sama hebat dengan bangsa yang tinggal di benua, yakni India dan China. Sikap demikian tentu beda dengan agresivitas Inggris dan Jepang, yang juga tinggal di negara pulau.
Selain kedelai, gandum, dan kapas, kita juga sudah amat bergantung pada bawang putih impor, juga buah-buahan. Mulai dari apel, anggur, kurma, durian, lengkeng, dan leci. Padahal, semua buah itu bisa dibudidayakan dengan hasil cukup baik di negeri ini. Bahkan, durian monthong, yang dikembangkan Thailand, nenek moyangnya berasal dari Kalbar. Tetapi, inilah nasib bangsa besar, yang sekaligus juga besar kepala, yang menyebut gundukan tanah kecil sebagai gunung.
F Rahardi Penyair, Wartawan
Wednesday, January 23, 2008
Artikel Bagus Minggu Lalu Yang Tak Boleh Terlewatkan
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
7:08 PM
|
Labels: Government
Tuesday, January 22, 2008
Dibalik Kerjasama IBM dan Kalbe di Bidang "Green Data Center"
Topic : Business
By Ari Satriyo Wibowo
IBM akan membantu Kalbe mengkonsolidasikan lima data center Kalbe dari sejumlah 13 data center yang dimiliki Kalbe sebagai tahap awal yang akan membantu Kalbe menghemat biaya dan ruang untuk sistem TI-nya. Hal itu disampaikan pada acara penandatanganan Building Ecofriendly Data Center Fasility Kalbe/IBM di Hotel Shangri-La Jakarta hari ini. Dari pihak IBM diwakili Presiden Direktur PT IBM Indonesia Suryo Suwignjo dan dari Kalbe Farma diwakili Vidjongtius, Director Kalbe.
Selain pembangunan data center, IBM juga akan menyediakan strategi data center, desain data center, pengintegrasian server dan penyimpanan, perencanaan relokasi, pengelolaan proyek, alihdaya peralatan infrastruktur, layanan dan pengelolaan instalasi, pengujian data center serta pengelolaan awal, yang akan dibangun pada lahan seluas 470.00 m2 . 
"Solusi IBM akan membantu Kalbe di tiga bidang sekaligus yakni Financial, Operational dan Environmental ," ujar Country Manager IBM Global Technology Services, Hengki Kastono.
Menurut Hengki, kerja sama ini untuk memenuhi kebutuhan teknologi Kalbe Farma sejalan dengan rencana ekspansi bisnisnya dan secara bersamaan menjadi lebih peduli lingkungan dengan menghemat energi atau efisiensi dalam pengimplementasiannya.
"Green Data Center" yang ditawarkan IBM merupakan salah satu upaya perusahaan itu untuk mengurangi dampak pemanasan global. Perlu diketahui di AS saja konsumsi listrik untuk keperluan data centre pada 2005 telah mencapai 45 miliar Kwh. Sementara itu, kebutuhan ruang telah meningkat menjadi 10 -100 kali lipat gedung biasa. Dalam lima tahun mendatang jumlahnya akan berlipat dua. Jika hal itu dibiarkan tanpa melakukan upaya efiensi yang tepat maka data center di dunia ini akan mampu menjadi salah satu penyumbang bagi pemanasan global yang signifikan.
Ada lima hal pokok yang dilakukan IBM di Data Center Kalbe yaitu :
1. Data Center Consolidation and Relocation
2. Scability Design
3. Efective Air Flow Cooling
4. Environmental Friendly
5. Data Centre Operation through Command Centre
Solusi IBM Data Center mengintegrasikan daya, pendinginan rak, pengelolaan, layanan dan keamanan, sehingga memungkinkan berbagai komponen terstandar untuk menciptakan sebuah solusi melalui konfigurasi modular. Dengan menggunakan komponen-komponen terstandar, arsitektur dapat secara mudah diskalakan sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang berubah-ubah.
Dalam hal teknologi, IBM menggunakan teknologi sistem pendingin dari Emerson sementara dalam hal sistem jaringan digunakan teknologi dari Cisco.
IBM memiliki pengalaman yang luas dalam mengimplementasikan seluruh solusi dalam waktu yang sangat singkat yaitu 8 hingga 24 minggu jika dibandingkan dengan waktu normalnya di industri yaitu 40 minggu.
“Diharapkan pada Juni 2008 seluruh implementasi di Data Centre Kalbe sudah dapat tuntas,” ujar Vidjongtius, Director, Kalbe.
Bagaimana pendapat Anda?
Tahukah Anda ?
Rahasia tentang pikiran dalam buku "The Secret"
Video dan buku The Secret cukup menggemparkan dan langsung menjadi barang laris, sehingga layak ditonton dan dibaca bagi mereka yang ingin sukses. The Secret berisi pengungkapan rahasia sukses yang konon sudah berabad-abad terpendam dan hanya segelintir orang saja yang tahu dan bisa menggunakan rahasia tadi.
Bila diperhatikan isi dan pesan yang disampaikan melalui video dan buku The Secret, sebenarnya bukanlah suatu rahasia yang baru terungkap. Isi dan pesan dibalik The Secret sebenarnya sudah lama dipublikasikan dan terbuka luas. Hanya memang cara penyajian The Secret memiliki ciri khas yang berbeda dengan cara melibatkan secara langsung toko-tokoh sukses dan dikemas dalam bentuk multimedia.
Berikut sedikit rahasia tentang pikiran dari buku tersebut :
- Rahasia besar kehidupan adalah hukum tarik menarik
- Hukum tarik menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Jadi ketika Anda memikirkan suatu pikiran, Anda juga menarik pikiran-pikiran serupa ke diri Anda
- Pikiran bersifat magnetis, dan pikiran memiliki frekuensi. Ketika Anda memikirkan pikiran-pikiran, pikiran-pikiran itu dikirim ke Alam Semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang dikirim ke luar akan kembali ke sumbernya --- Anda.
- Anda seperti sebuah menara penyiaran, yang memancarkan frekuensi dengan pikiran-pikiran Anda. Jika Anda ingin mengubah sesuatu di dalam hidup Anda, ubahlah frekuensi dengan mengubah pikiran-pikiran Anda.
- Pikiran yang sedang Anda pikirkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda. Apa yang paling Anda pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai hidup Anda.
- Pikiran Anda menjadi sesuatu.
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
4:42 AM
|
Labels: enlightenment
Monday, January 21, 2008
Perkembangan Bioteknologi Mutakhir di RRC
Topic : Government
By Ari Satriyo Wibowo
Didukung pemerintah dengan tujuan untuk mempromosikan penemuan dan mengisi otak dari ilmuwan berbakat dan pengusaha yang kembali dari luar negeri, industri bioteknologi kesehatan RRC hanya memerlukan iklim investasi yang lebih baik untuk tumbuh sebagai kekuatan global dalam meproduksi obat-obatan --- termasuk obat generik --- demikian para ahli mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah studi terbaru.
Lama dianggap sebagai peniru produk, RRC kini dengan berani menempatkan dirinya sebagai innovator di bidang obat-obatan dan melakukan terobosan mempesona sebagai produsen pertama obat terapi gen di dunia dan produsen vaksin kolera.Akan tetapi perusahaan RRC akan menghadapi pertempuran seru dalam memperebutkan perhatian para pemodal ventura agar tetap inovatif dan mampu mengerjakan proyek-proyek yang bersifat research driven, demikian sebuah studi yang dipublikasikan Nature Biotechnology.
Melalui wawancara dengan manajemen dari 22 perusahaan di RRC maka kerja dari perusahaan bioteknologi paling inovatif akan segera muncul.
”Industri bioteknologi kesehatan RRC bagaikan naga kecil yang akan tumbuh cepat dan nanti susah untuk diabaikan. Tak lama lagi RRC memegang hegemobi dalam inovasi bioteknologi,” ujar Peter A. Singer dari McLaughlin-Rotman Centre for Global Health di Universitas Toronto Kanada.
Sarah Frew, periset lainnya dari McLaughlin-Rotman Centre for Global Health berkata meningkatnya peran industri RRCdan India membuat implikasi utama bagi industri global dalam bidang kesehatan dan kemakmuran negara berkembang.
Revolusi bioteknologi dari dua negara tersebut berbeda secara signifikan. Perusahaan India lebih memfokuskan pada proses inovasi untuk memperbaiki kemampuan dan aksesibiltas di antara penduduk lokal dan global sementara perusahaan di RRC lebih menekankan pada produk-produk obat untuk terapi den dan regeneratif.
“Memenuhi kebutuhan kesehatan 1,3 miliar orang di RRC adalah sama dengan mememuhi kebutuhan kesehatan global,” ujar Dr. Frew.”Tantangan yang dihadapi dunia swasta, institusi riset dan universitas serta penyedia layanan kesehatan akan sangat sulit dipenuhi sampai pimpinan pemerintah mempersiapkan pendekatan baru.”
Kemajuan RRC itu disebabkan oleh kembalinya para ilmuwan dan wirausahawan yang dulu meninggalkan RRC untuk belajar atau berlatih di luar negeri dengan membawa kemampuan ilmiah serta kredibilitas internasional.
Mereka itu lazim disebut “kura-kura laut” akan lebih maju lagi jika warga Cina di Barat membentuk perusahaan transnasional dengan membuat jejak kai baik di RRC maupun di negara Barat.
Penduduk Besar Sebagai Faktor Pendorong
Jumlah penduduk RRC yang mencapai 1, 3 miliar atau 20 persen dari populasi penduduk dunia menciptakan permintaan yang signifikan terhadap obat generik yang ditaksir mencapai 90 % dari total nilai pasar biofarmasi sebesar US$ 3 miliar tahun lalu.
Perusahaan RRC seperti Beijing Wantai Biological Pharmacy Enterprise and Shanghai Huaguan Biochip Co., Ltd. memainkan peranan penting dalam menjaga harga local tetap rendah. Wantai mengembangkan dan memproduksi berbagai jenis produk tes darah untuk penderita HIV, hepatitis B dan C, penyakit kelamin menular (STD) dan rotavirus. Sementara, Huaguan meraup rezeki dari produk tes kesuburan, formulasi HIV, TBC, Hepatitis C dan STD ke negara Asia, Afrika dan Amerika Selatan.
Selain itu, pemerintah RRC juga tetap secara intensif mendorong riset terapan untuk mengajak perusahaan-perusahan untuk mengembangkan terapi untuk menjadi pelopor dalam beberapa bidang seperti terapi gen dan sel punca (stemcell).
Produk terapi gen pertama yang dikomersialisasikan adalah Gendicine, sediaan injeksi untuk mengatasi kanker kepala dan leher yang dikembangkan oleh Shenzhen SiBiono GeneTech Co., Ltd. Lebih dari 5000 pasien telah berhasil diselamatkan Gendicine, 400 di antaranya berasal dari luar RRC. Obat tersebut kini sedang dalam uji klinis untuk mengatasi kanker hati, kanker perut dan kanker pankreas.
Beberapa perusahaan RRC juga bergerak di bidang sel punca manusia dan binatang. Salah satunya Beike Biotechnologies telah membangun jaringan satelit dengan rumah sakit, ahli klinis dan laboratorium riset untuk mengormersialisasikan terapi sel punca, yang meliputi pemanenan sel punca dari darah tali pusar atau membran amniotik, ekspansi in vitro kepada pasien baik secara intravena maupun diinjeksi langsung melalui spinal cord.
Beike telah menangani lebih dari 1000 pasien, termasuk 60 pasien dari luar negeri dengan berbagai kondisi penyakit mulai dari Alzheimer, Autism, trauma otak,cerebral palsy, kaki diabetes dan spinal cord injury.
Lung fibrosis, yang disebabkan oleh terapi radiasi, adalah penyebab utama kematian lebih dari 275.000 orang RRC yang menderita kanker paru-paru setiap tahun.Inflamasi dan fibrosis merupakan efek samping dari infeksi virus Hepatitis B yang mengenai lebih dari 100 juta orang RRC.
Shanghai Genomic Inc. lebih memfokuskan pada pengembangan novel non-steroid anti-inflammatory therapeutics untuk mengganti cara pengobatan lama yang memiliki banyak efek samping. Produk pertama yang dipasarkan bernama GuBang, untuk membantu pertumbuhan tulang pada kalangan lanjut usia di Asia.
Perusahaan RRC juga mengembangkan vaksin untuk kebutuhan lokal dan global. Di antaranya adalah Shanghai United Cell Biotech, yang memproduski dan memasarkan satu-satunya vaksin kolera yang dikonsumsi secara oral dalam bentuk tablet. Perusahaan lainnya memproduksi obat oral HIV, Encephalitis, SARS dan Flu Burung.
Kendala yang dihadapi RRC sama dengan yang dihadapi Indonesia, yakni banyak produsen yang lebih tertarik berjualan obat (khususnya obat generik di RRC) ketimbang melakukan investasi melalui R&D.
Hambatan lainnya berupa kurangnya kepercayaan dari partner internasional dalam masalah hak cipta, masalah bahasa, biaya perjalanan, budaya dan gaya gaya manajemen.
Sumber : Medical News Today, 8 Januari 2008
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
3:30 PM
|
Labels: Government
Tahukah Anda?
Rahasia Tarif Murah Banget AirAsia
Tidak semua tempat duduk di setiap pesawat yang tinggal lamdas akan terisi, tetapi AirAsia tahu berdasarkan pengalaman rute-rute mana yang paling sibuk.
Ketimbang membiarkan tempat duduk itu kosong tak berpenghuni. AirAsia menawarkan kepada mereka dengan harga yang sedemikian rendah hingga nyaris mustahil. Misalnya, sebagai berikut :
1. Kuala Lumpur (KL) ke Jakarta (sekali jalan) Rp 4.975
2. Kuala Lumpur (KL) ke Macau (sekali jalan) Rp 2.475
3. Kuala Lumpur (KL) ke Bangkok (sekali jalan) Rp 7.475
Lagi pula, apa salahnya menjual tempat duduk sekali jalan dari KL ke Jakarta dengan harga Rp 2.475 dan tidak memperoleh uang sama sekali darinya jika kursi itu tidak akan diduduki juga? Tentu jumlah tempat duduk yang ditawarkan amat terbatas karena itu berlaku aturan : siapa cepat, dia yang dapat.
Sebuah upaya pemasaran yang cerdik, bukan? Menjual tempat duduk yang jika tidak ditawarkan pun akan kosong.
Sumber : Sen Ze & Jayne Ng, "The Air Asia Story : Kisah Maskapai Tersukses Asia" (Terjemahan), Ufuk Publishing House, Jakarta, 2007
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
3:28 PM
|
Labels: enlightenment
Saturday, January 19, 2008
Tantangan "Big Green Challenge" dari Nesta Berhadiah 20.000 Poundsterling
Topic : Government
National Endowment for Science, Technology and Arts (Nesta) di Inggris menggelar sayembara senilai 1 juta Poundsterling (lebih dari Rp 18,5 miliar) untuk kelompok-kelompok masyarakat ataupun yayasan yang mampu menyodorkan ide tercemerlang dalam memerangi dampak perubahan iklim. Sayembara mensyaratkan ide harus imajinatif namun spontan, melibatkan seluruh anggota komunitas, dan bisa diperluas.
Nesta nantinya akan menyaring 10 finalis yang masing-masing akan diberikan uang tunai 20 ribu Poundsterling, dukungan, dan pendampingan untuk mewujudkan idenya menjadi nyata. Dalam realisasinya, setiap ide diharapkan mampu mengurangi emisi karbon minimal 60 persen.
Sayembara dilatarbelakangi oleh hasil survei sebelumnya bahwa empat dari lima orang percaya kalau anggota masyarakat biasa mampu membuat perubahan besar untuk kelestarian lingkungan. Mereka percaya banyak ide berserakan di tengah masyarakat yang bisa menyelamatkan Bumi dari perubahan iklim.
Bagi yang berminat silakan untuk mengunjungi www.thebiggreenchallenge.org.uk Aplikasi harus dikirim paling lambat 29 Februari 2008.
Sumber : Tempointeraktif, BBC dan Website Nesta
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
11:47 PM
|
Labels: Government
Friday, January 18, 2008
Ibukota RI Perlu Pindah ke Pedalaman : Kota-kota Indonesia yang Terancam Tenggelam
Bila Benua Australia Saja Bisa Tenggelam Seperti Ini, Bagaimana dengan Indonesia ?
Topic : Government
By Ari Satriyo Wibowo
Saya selalu ditertawakan teman-teman ketika pada 1995 saya sudah membeli rumah untuk persiapan hari tua di Ungaran, sebuah kota kecil yang terletak di daerah pegunungan di Jawa Tengah.
Namun, dengan perkembangan pemanasan global yang makin meningkatkan permukaan laut pandangan mereka pasti akan berubah. Bahkan, kelak orang-orang akan berbondong-bondong membeli rumah di pegunungan.
Mengapa? Apabila air laut naik secara perlahan ke darat setinggi 1 meter saja maka kota-kota yang terletak di pesisir pantai akan tenggelam. Banyak kota-kota tersebut yang merupakan kota besar dan merupakan “urat nadi perekonomian” Indonesia. Misalnya, Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Makassar dan Manado.
Gangguan atau terputusnya urat nadi tersebut akan mengganggu kondisi ekonomi, social, hankam, pemerintahan dan lain-lain.
Bagi Indonesia, kenaikan permukaan air laut berpotensi menenggelamkan 50 meter daratan dari garis pantai Kepulauan Indonesia. Bila panjang garis pantai Indonesia sekitar 81.000 kilometer maka sekitar 405.000 hektar daratan Indonesia kan tenggelam. Ribuan pulau kecil pun akan lenyap dari peta Indonesia ditelan air laut. Selain itu, juga ratusan ribu hektar tambak dan sawah di daerah pasang surut akan hilang. Abrasi pantai dan intrus air laut pun mengganggu penduduk yang sebagin besar hidup di kawasan dataran rendah.
Bagaimana dengan RRC ?
Kota-kota besar China yang terletak di pinggir pantai juga terancam segera tenggelam akibat perubahan iklim yang mendorong naiknya permukaan laut.
Li Haiqing, juru bicara Badan Kelautan Negara (SOA), mengutip laporan tahun 2007 lembaga tersebut, mengatakan Shanghai dan Tianjin merupakan dua kota penting yang paling terancam. Menurutnya dalam 30 tahun terakhir Shanghai menghadapi kenaikan permukaan air setinggi 115 milimeter, atau separuh panjang sumpit.
Sedangkan Tianjin, pelabuhan utama sekitar dua jam perjalanan dari Beijing, telah menghadapi kenaikan permukaan air laut sebanyak 196 milimeter, kurang lebih sepanjang pensil.
Dalam 30 tahun terakhir, secara keseluruhan permukaan air laut di negeri tersebut telah naik 90 milimeter dengan rata-rata temperatur permukaan di lepas pantai naik 0,9 derajat Celsius. "Sebagai perbandingan, ketika permukaan air laut global naik 1,7 milimeter setiap tahun antara 1975 dan 2007, permukaan air laut di China naik 2,5 milimeter setiap tahun," kata Li, Selasa (15/1).
Dalam dasawarsa mendatang, SOA meramalkan permukaan air laut di pantai China tampaknya akan naik sebanyak 32 milimeter, atau 3,2 milimeter setiap tahun. Itu adalah kali pertama SOA melaporkan kenaikan permukaan air laut dalam 30 tahun terakhir. Laporan tersebut sekarang direncanakan dikeluarkan setiap tahun, dan bukan setiap tiga tahun.
Sistem peringkat resiko tiga-tingkat akan dipasang oleh SOA untuk memberitahu kota besar pantai mengenai potensi ancaman yang mereka hadapi, kata Chen Manchun, seorang peneliti di SOA, kepada China Daily. Kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia tak dapat diubah, sehingga para perencana dan pejabat kota besar melakukan berbagai tindakan guna menyesuaikan perubahan tersebut, katanya.
Pemanasan global adalah penyebab utama kenaikan permukaan air laut, kata para pejabat SOA. Tapi turunnya permukaan tanah juga memunculkan ancaman banjir di Shanghai dan Tianjin. "Ini akibat eksploitasi sumber daya air tanahnya secara serampangan," kata Chen.
Melihat fenomena seperti di atas maka sejak sekarang perlu dipikirkan untuk :
1. Mencari alternatif lokasi ibukota RI di kota pedalaman Jawa atau Pulau lainnya
2. Merelokasi industri-industri ke lokasi yang lebih tinggi atau membangun kawasan industri terapung.
3. Mengarahkan pembangunan perumahan rakyat di dataran tinggi
Bagaimana pendapat Anda?
Sumber : 1. Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo "Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global?", PenebarPlus, Jakarta, 2007 2. Kantor Berita Antara, Rabu, 16 Januari 2008
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
11:17 PM
|
Labels: Government
Thursday, January 17, 2008
Perlu Dirancang Pola Kerjasama ABG untuk Menangani Masalah Rawan Pangan di Indonesia
Topic : Government
Cukup banyak berita yang menakutkan dalam beberapa minggu terakhir ini menyangkut Ketahanan Pangan Bangsa Indonesia. Pengalaman manis sebagai negara swasembada beras pada 1984 dan swasembada kedelai tahun 1992 kini tinggal kenangan. Gara-gara kelengahan kita semua maka kita lupa untuk mempertahankan ketahanan pangan itu. Kini tampaknya sudah terlambat karena harga kedelai dunia sudah meroket, begitu pula harga terigu. Akibatnya penjual roti, mi, tahu dan tempe kelimpungan. Belum lagi stok beras yang terancam akibat banjir dan bencana alam lainnya.
Apa yang kiranya bisa kita lakukan melalui kerjasama ABG (Academic, Business, Government) untuk mengatasi masalah ketahanan pangan/rawan pangan bangsa ini ?
Silakan berikan komentar Anda melalui blog ini.
Berikut beberapa berita terkait :
"RI Makin Tergantung Impor Kedelai"By Lahyanto Nadie
Bisnis Indonesia, Selasa , 15 Januari 2008
Penurunan bea masuk impor kedelai hingga 0% pun tidak akan secara signifikan menurunkan harga kedelai di pasar dalam negeri, bahkan Indonesia akan makin bergantung pada impor.
"Dalam jangka pendek kebijakan ini akan sedikit menurunkan harga kedelai karena bea masuk selama ini hanya 10%. Namun yang harus diwaspadai adalah makin bergantungnya kita pada impor," kata Ketua Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ilmu Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) Rina Oktaviani di Bogor hari ini.
Dia mengemukakan ketergantungan terhadap impor ini sangat berbahaya karena kedelai merupakan bahan pangan penting bagi bangsa Indonesia dan dikonsumsi dalam berbagai bentuk seperti tempe, tahu, kecap.
Sekarang ini saja, lanjut dia, sekitar 70% kedelai diimpor dan 60% di antaranya berasal dari Amerika Serikat (AS).
Pasok kedelai dari AS dikabarkan menurun karena konversi lahan kedelai menjadi jagung untuk produk biofuel. Harga kedelai di pasar internasional ini cenderung terus meningkat karena pasok yang makin terbatas.
Menurut dia, yang perlu segera dirumuskan oleh pemerintah adalah pemberian insentif untuk petani baik berupa kemudahan memperoleh sarana produksi seperti pupuk dan benih berkualitas, pemberian kredit permodalan, bantuan pengolahan dan teknologi, untuk merangsang peningkatan produksi dalam negeri.
"Di negara manapun, sektor pertanian itu selalu didukung [pemerintah], karena tingginya faktor risiko, `grace period` lama, dan mempengaruhi hajat hidup orang banyak," katanya.
Dia mengakui kedelai lokal tidak menguntungkan bagi pengusaha karena harganya lebih tinggi dibanding kedelai impor. "Pada 2000 saja selisih harga antara kedelai lokal dan impor mencapai Rp1.016 per kg."
Rina Oktaviani juga menyinggung hambatan bagi pengusaha untuk memperoleh kedelai lokal di antaranya biaya transportasi yang mahal dan tingginya pungutan dari daerah produsen, baik yang resmi maupun pungutan liar.
"Pengusaha lebih mudah membeli kedelai dari AS daripada mendatangkan dari daerah," katanya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah memutuskan untuk menurunkan bea masuk impor kedelai hingga 0% untuk mengatasi lonjakan harga yang dipicu oleh naiknya harga kedelai impor hingga 100%.
Sejak 1998, impor kedelai Indonesia terus meningkat seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk membuka kran impor, sementara luas areal penanaman makin merosot.
Impor kedelai yang hanya tercatat 394.000 ton pada 1998 melonjak menjadi 1,3 juta ton pada 1999 dan pada 2005 hingga 2006 impor rata-rata mencapai 1,2 juta ton.
Produktivitas kedelai lokal juga masih rendah rata-rata 1,3 ton per hektar, sementara rata-rata produktivitas dunia lebih dari 2 ton per hektar.
Indonesia pernah mengalami swasembada kedelai pada 1992 dengan produksi sekitar 1,8 juta ton.(ln)
"Kondisi Pertanian Kacau-balau"
Krisis Kedelai Bisa Memunculkan Ketidakpercayaan Rakyat kepada Pemerintah
Kompas, Kamis, 17 Januari 2008
Apa yang ditakuti bangsa ini benar-benar terjadi. Harga dan pemenuhan kebutuhan pokok warga yang berbasis pertanian sudah didikte bangsa lain. Ketika harga kedelai di pasar dunia naik, misalnya, Pemerintah Indonesia tak kuasa menahan laju kenaikan harga kedelai di dalam negeri.
Guru besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin saat dihubungi di Australia, Rabu (16/1), mengungkapkan, ketergantungan pangan bangsa ini sesungguhnya tengah berlangsung.
"Dulu pemerintah masih bisa membantah tidak ada ketergantungan pangan, tetapi kini terbuka satu per satu ketika harga kedelai di pasar dunia liar," katanya.
Gejolak harga yang terjadi pada kedelai di pasar dunia baru permulaan saja karena sesungguhnya persoalan yang sama akan menimpa komoditas lain. Setelah harga kedelai melonjak, disusul tepung terigu. Selanjutnya kenaikan harga bungkil kedelai sebagai bahan baku pakan ternak. Padahal, industri pakan ternak memproyeksikan kebutuhan bungkil kedelai 2008 sebanyak 1,6 juta ton.
Harga bungkil kedelai per Oktober 2007 naik 50,6 persen atau Rp 4.293/kg dari harga November 2006 sebesar Rp 2.850/kg.
Naiknya harga bungkil kedelai akan mendorong kenaikan harga pakan ternak, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga daging ayam dan telur. Menyusul komoditas jagung yang juga bakal terus naik. Naiknya harga jagung memperparah industri peternakan. Peternakan rakyat di sektor empat dan lima menghadapi tantangan berat.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, yang juga Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, menyatakan persoalan kelangkaan kedelai terjadi karena dua faktor.
Pertama, kondisi pertanian di Indonesia memang kacau-balau karena pemerintah tidak memiliki kebijakan memadai. Kedua, ketergantungan pada impor tidak dipersiapkan dengan baik dan disesuaikan siklus kebutuhan.
"Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan terbukti tidak ada koordinasi baik di dalam kabinet," katanya.
Penasihat Senior Pertanian dan Studi Kebijakan (CAPS) HS Dillon mengatakan, kemelut kedelai dan bahan pangan lainnya menunjukkan pemerintah tidak memiliki wawasan jangka panjang dalam kebijakan pertanian. "Pemerintah harus mengubah paradigma pertanian, ciptakan kedaulatan pangan. Jangan seolah-olah memahami masalah, tetapi masalah pertanian bertambah buruk," kata Dillon.
Mantan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan Rizal Ramli menyatakan, kemelut perekonomian saat ini seolah mengulang krisis ekonomi pada tahun 1997 hingga 1998. Ketika itu harga beras melonjak 100 persen.
Gejolak perekonomian tahun 1998 itu berdampak hilangnya kepercayaan rakyat pada pemerintah yang ditandai kejatuhan Presiden Soeharto tahun 1998.
Produksi terus merosot
Kegagalan pembangunan pertanian mulai tampak dari produksi kedelai yang terus merosot. Tahun 1992 produksi kedelai masih tinggi, 1,8 juta ton. Tahun 1999 merosot menjadi 608.263 ton.
Contoh lain dari rentannya ketahanan pangan bangsa Indonesia tampak pula pada tepung terigu, sayur-mayur, gula pasir, telur, daging ayam, daging sapi, susu.
Sebagai contoh, tahun 2006 harga jagung dalam negeri Rp 950 per kg di tingkat petani. Tak lama berselang harga jagung dunia naik dari 135 dollar AS per ton menjadi 270 dollar AS per ton pada posisi Oktober 2007. Akibatnya, harga jagung lokal terdongkrak menjadi Rp 2.450 per kg.
Kenaikan harga jagung mendorong kenaikan harga telur, ayam pedaging, daging sapi, dan susu. Sebab, jagung merupakan komponen utama (51,4 persen) pakan unggas dan merupakan makanan berprotein sapi perah.
Nasib minyak goreng berbeda. Meski produksi minyak sawit mentah (CPO) melimpah, pemerintah tak mampu meredam kenaikan harga minyak goreng dalam negeri yang terseret tingginya harga CPO dunia.
Gula pasir dalam negeri juga rentan. Ketika harga gula melonjak, pemerintah buru-buru mengimpor gula kasar dan rafinasi, tanpa ada kemauan keras mencukupi kebutuhan gula sendiri. Kalau soal tepung terigu tidak perlu bicara. Khusus produk makanan berbasis terigu, perut bangsa ini sudah tergadaikan.
Kalaupun dikatakan masih tersisa komoditas pertanian yang relatif stabil, barangkali hanya beras. Namun jangan salah, apabila harga minyak mentah dunia dan semua kebutuhan pokok naik, harga beras tak dapat dikendalikan. Biaya produksi akan naik.
Kondisi ketahanan pangan makin gawat ketika alih fungsi lahan pertanian tak bisa dikendalikan. Tahun 2003 sampai 2004 saja luas lahan pertanian menyusut 703.869 hektar dari 8.400.030 hektar menjadi 7.696.161 hektar. Penyusutan terjadi di lahan beririgasi teknis, setengah teknis, irigasi sederhana, tadah hujan, dan pasang surut.
Pandangan lain disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Ardiansyah Parman. Mengutip proyeksi Development Prospect Group Bank Dunia, Ardiansyah mengatakan, kenaikan harga komoditas pangan, termasuk kedelai, akan berlanjut, tetapi dengan tingkat kenaikan lebih moderat pada tahun 2008.
Menanggapi penilaian atas kegagalan pembangunan pertanian, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, pemerintah menyadari ketergantungan pangan yang begitu dominan tidak baik bagi ketahanan pangan.
Ditanya tentang tidak ada kemampuan meredam harga pangan dalam negeri akibat terseret harga pangan di pasar dunia, Anton justru mempertanyakan negara mana yang kuat menghadapi gejolak kenaikan harga dunia.
"Dilema yang dihadapi pertanian, keinginan untuk memberikan insentif kepada petani yang selalu dihadapkan pada rendahnya daya beli masyarakat," katanya. (MAS/SUT/DAY/LKT)
"Penemuan : Kedelai Hitam Lebih Unggul"
Harian Kompas, Kamis, 17 Januari 2008
Malang, Kompas - Sejumlah peneliti dari Badan Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang, Jawa Timur, menemukan tiga varietas unggul kedelai hitam. Tiga varietas kedelai hitam itu memiliki kelebihan dibandingkan dengan kedelai impor atau kedelai lokal yang selama ini ditanam masyarakat.
Tiga varietas unggul kedelai hitam itu adalah 9837/K-D-8-175 (rencananya diberi nama Khibar atau kedelai hitam berukuran biji besar), 9837/W-D-5-211 (rencananya diberi nama Khipro atau kedelai hitam berprotein tinggi), dan W/9837-D-6-220 (rencananya diberi nama Khilau atau kedelai hitam berkotiledon hijau). Ketiganya diteliti sejak 1998.
Keunggulan ketiganya adalah bisa menghasilkan produksi kedelai lebih banyak sekitar 18 persen dibandingkan dengan kedelai lain seperti Cikuray, Burangrang, dan Wilis.
"Bahkan, kedelai hitam ini juga lebih unggul dibandingkan dengan kedelai Mallika yang dilepas Februari 2007. Sebab, kedelai Mallika memiliki daya hasil sebanyak 2,34 ton per hektar, sedangkan kedelai hitam memiliki daya hasil 2,51 ton per hektar," tutur seorang pemulia tanaman Balitkabi yang menemukan tiga varietas baru kedelai hitam tersebut, Ir Moch Muchlish Adie MS, Rabu (16/1) di Malang. Pemulia tanaman lainnya yang turut melahirkan tiga varietas kedelai hitam tersebut adalah Gatot Wahyu AS, Suyamto, dan Arifin.
Menurut Muchlish, keunggulan tiga kedelai itu adalah ketiganya merupakan jenis kedelai besar (14 gram/100 biji kedelai) seperti yang dipakai dalam industri tahu dan tempe sekarang ini di Indonesia. Selama ini yang banyak ditanam petani di Indonesia adalah jenis kedelai sedang (10 gram/100 biji kedelai). "Kedelai ini sangat cocok dengan kebutuhan industri, baik tahu-tempe atau kecap," ungkap Muchlish.
Keunggulan lainnya, ketiganya memiliki protein tinggi, yaitu mencapai 45,58 persen. Sementara kedelai impor dan kedelai yang banyak dibudidayakan di Indonesia saat ini memiliki kadar protein 6-37 persen. "Semoga kedelai ini bisa dilepas tahun ini dan segera bisa disosialisasikan serta dikembangkan. Harapannya, bisa sedikit mengikis ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor," ujar Muchlish. (DIA)
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
11:01 AM
|
Labels: Government
Wednesday, January 16, 2008
Prof. Dr. R. Sjamsuhidajat, Perintis Bedah Digestive di Indonesia
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Tak banyak yang tahu bahwa Prof. Dr. R Sjamsuhidajat merupakan perintis bagian bedah digestive di Indonesia. Pria kelahiran Payung Pinang, Bintan, Kepulauan Riau, 7 November 1931 itu mulai menempuh pendidikan di FKUI pada tahun 1951 dan lulus tahun 1959.
Sejarah bagian bedah di FKUI dimulai pada 1958 dengan guru besar bernama Prof. Sukaryo. Saat itu hanya dikenal bedah umum yang terdiri dari Bedah Urologi (saluran kencing) dengan guru besar Prof. Utama, Bedah Orthopedi (tulang) dengan guru besar Prof. Subyakto Wiryokusumo dan Bedah Plastik dengan gurubesar Prof. Munajat Wiraatmaja. Belakangan muncul spesialisasi baru yakni Bedah Anak yang dirintis Dr. Adang Zaenal. Keempat spesialisasi bedah tersebut lazim disebut sebagai spesialis bedah umum (spesialis 1).
Dulu pendidikan bagian bedah dilakukan di rumah sakit bukan di fakultas. Kondisi itu berubah tahun 1978 ketika bagian bedah menjadi tanggung jawab penuh fakultas kedokteran dan bukan rumah sakit lagi.
Dalam perkembangan ilmu kedokteran selanjutnya dikenal spesialisasi yang lebih kompleks yakni meliputi Head & Neck (kepala dan leher), Torack (rongga dada dan paru-paru) serta Jantung. Ketiga spesialisasi tersebut lazim disebut spesialis 2 karena mensyaratkan peserta untuk menempuh spesialis bedah umum (spesialis 1 ) terlebih dahulu.
Spesialisasi Bedah Digestive baru terbentuk pada tahun 1979. Pada waktu itu dr. R. Sjamsuhidajat mengikuti sebuah kongres bedah internasional yang diselenggarakan di Bali. Pada waktu itu banyak pembicara yang membahas masalah perut, usus besar dan saluran pencernaan lainnya. Dengan jeli dr. Sjamsuhidajat melihat peluang baru di dunia bedah. Maka dikumpulkannya para sejawat pada tahun itu juga. Mereka kemudian mendeklarasikan wadah baru berupa spesialis bedah digestive dengan nama Ikatan Ahli Bedah Digestive (Ikabdi). Spesialis Bedah Digestive selanjutnya digolongkan sebagai bagian dari Spesialis 2 yang mensyaratkan peserta harus menguasai bedah umum terlebih dahulu.
Prof. Samsjuhidajat diangkat menjadi Guru Besar Emiritus FKUI pada 2001. Kemudian pada tahun 1996 ia ditunjuk Dekan FKUI untuk menjadi Ketua Departemen Pendidikan Kedokteran FKUI pada tahun 2006.Di usianya yang sudah mencapai 76 tahun dr. Sjamsuhidajat masih tetap produktif dan melek Internet. Bahkan, pria yang dikaruniai dua anak itu masih membuka praktik di Klinik Spesialis Lantai 2 RS Sumber Waras, Grogol, Jakarta Barat meski pasiennya tidak sebanyak dulu lagi.
Bagaimana pendapat Anda?
Tahukah Anda?
Penyebab Hydrocephalus
Apa yang menyebabkan bayi terkena Hydrocephalus? Agar lebih mudah memahaminya terlebih dahulu kita harus mengenal otak dan sistem saraf manusia terlebih dulu.
Sistem saraf manusia terbagi atas system saraf tepi dan system saraf pusat. Yang dimaksud dengan sistem saraf tepi (peripheral nervous system) adalah semua serabut saraf yang berada di luar otak atau sumsum tulang belakang. Yang dimaksud sistem saraf pusat (central nervous system) adalah bagian yang mengatur kerja saraf tepi yang terdapat di otak (brain), batang otak (brain stem) dan sumsum belakang (spinal cord). Otak itu sendiri terdiri dari 2 bagian besar, yaitu otak besar (cerebrum) dan otak kecil (cerebellum).
Di dalam kepala otak dibungkus oleh 3 selaput otak (menigen). Yang paling luar adalah selaput otak keras atau dura mater (the dura) yang mempunyai perlekatan erat dengan tulang tengkorak. Di lapisan bawahnya terdapat selaput otak lunak, yang terdiri dari lapisan arachnoid (arachnoid mater, the arachnoid) dan lapisan pia mater. Lapisan pia mater melekat sangat erat dan mengikuti lekukan permukaan otak seperti stocking. Antara kedua lapisan terakhir ini terdapat lapisan subarachnoid (subarachnoid space) yang mengandung cairan otak (cerebrospinal fluid, LCS).
LCS dihasilkan melalui proses di 4 rongga yang terdapat di dalam otak (brain ventricle). Dua yang pertama terdapat di otak besar kiri kanan (lateral ventricle), dari sana LCS dialirkan ke rongga tengah (third ventricle), lalu setelah ditambah LCS produk rongga itu dialirkan lagi melalui saluran di batang otak (sylvianduct) menunu rongga lain di batang otak (fourth ventricle). Rongga terakhir ini juga menghasilkan LCS yang selanjutnya dialirkan melalui 2 pasang lubang keluar, dari rongga ini menuju lapisan subarachnoid. Gangguan aliran LCS pada salah satu bagian tersebut pada bayi baru lahir menyebabkan terjadinya hydrocephalus dengan kepala yang makin membesar. Kelainan ini hanya dapat diatasi melalui operasi untuk menyediakan saluran keluar cairan LCS yang tersumbat. Kepala pada bayi ini dapat membesar karena ubun-ubunnya belum menutup.
Sumber : Daniel S. Wibowo, ” Anatomi Tubuh Manusia”, Penerbit Grasindo, Jakarta, 2006
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
7:20 AM
|
Labels: enlightenment
Tuesday, January 15, 2008
Regeneratif Sebagai Pilar Kelima Kedokteran Akan Diseminarkan
Topic : Academic
By Ari Satriyo Wibowo
Dr. Doddy P. Partomihardjo, Ketua Iluni FKUI Periode 2005-2010, berencana menyelenggarakan Seminar Imu Kedokteran Regeneratif pada bulan Agustus mendatang. Menurut Doddy Regeneratif merupakan pilar kelima dalam ilmu kedokteran setelah kuratif, preventif, promotif dan rehabilitatif.
Seminar tersebut akan dibuat dalam skala besar dengan menampilkan pakar-pakar dari dalam dan luar negeri. Mengingat pentingnya Ilmu Kedokteran Regeneratif yang di dalamnya menyangkut riset tentang sel punca (stem cell) dan untuk menunjukkan dukungan penuh pemerintah,” Bila perlu seminar tersebut nantinya dibuka oleh Presiden atau Wakil Presiden RI, “ ujarnya.
Doddy menempuh pendidikan di FKUI tahun 1961 dan lulus tahun 1968. Selanjutnya ia sempat mengambil spesialis mata yang sayangnya tak pernah dipraktikkannya karena kesibukannya sebagai eksekutif di PT Unilever Indonesia.
Kini setelah pensiun dan dalam posisinya sebagai Ketua Iluni FKUI ia aktif membimbing adik-adiknya para mahasiswa FKUI melobi dunia usaha untuk menjalin kerjasama dalam kerangka ABG (Academic, Business, Government) dengan berbagai proposal.
Bulan September 2008 nanti mahasiswa FKUI angkatan 2002 yang akan lulus ada 176 orang. “Dari lulusan sejumlah itu terdapat 60 mahasiswa yang meraih predikat cum laude,” paparnya dengan bangga.
Bagaimana pendapat Anda ?
Tahukah Anda?
Senyawa Gas Penyebab Efek Rumah Kaca
Efek Rumah Kaca disebabkan naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Ada enam senyawa gas rumah kaca yang disepakati dalam Protokol Kyoto, yaitu :
- Karbon dioksida (CO2)
- Metana (CH4)
- Nitrooksida (N2O)
- Cloro-Fluoro-Carbon (CFCs)
- Hidro-Fluoro-Carbon (HFCs)
- Sulfur Heksafluorida (SF6)
Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan baker minyak 9BBM), batu bara dan bahan baker organic lainnya untuk menunjang aktivitas manusia. Di sisi lain, jumlah tumbuh-tumbuhan yang menggunakan CO2 hanya sedikit. Dengan demikian gas CO2 semakin meningkat.
Sinar matahari ke bumi yang datang berupa energi akan mengalami hal sebagai berikut :
-25 % sinar matahari dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
-25% sinar matahari diserap awan
-45% sinar matahari diserap permukaan bumi
-5% sinar matahari dipantulkan kembali oleh permukaaan
Energi yang diserap bumi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun, sebagian besar infra merah yang dipancarkan oleh bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gasa lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi.
Iklim global semakin menghangat, temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya.
Pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang jelas dan akurat diperlukan waktu bertahun-tahun. Dan data pada akhir abad ke-20 tercatat bahwa :
-Sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi setelah
tahun 1980.
- Tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990.
- Waktu paling panas terjadi pada tahun 1998
Meski konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2000, iklim terus menghangat akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Lamanya karbon dioksida berada di atmosfer diperkirakan selama 100 tahun atau lebih sebeleum alam mampu menyerapnya kembali.
Sumber : Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo ” Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global”, PenerbarPlus, Jakarta, 2007
Posted by
KOMUNITAS ABG
at
5:12 PM
|
Labels: enlightenment