Google

Monday, October 8, 2007

Tahukah Anda?

Topologi Jaringan Internet

Sumber : Microsoft Encarta Encyclopedia 2006

Saturday, October 6, 2007

Debbie dan Penelitian Enzim untuk Industri

Topic : Academic- Business

Debbie Soefie Retnoningrum, PhD belajar S3 di AS di bidang mikrobiologi mulai Februari 1988 hingga 1993. Di University of Minnessota, AS ia diterima di Fakultas Kedokteran untuk belajar tentang bakteri. Dulu Debbie tidak tahu bagaimana suatu penyakit bisa timbul. Ternyata, bakteri itu dapat berinteraksi dengan tubuh manusia. Di dalam interaksi tersebut, yang mengherankannya, untuk timbulnya penyakit ternyata tubuh manusia tersebut ikut membantu walaupun sebenarnya manusia juga memiliki sistem pertahanan tubuh.

Wanita yang meraih gelar S1 di Fakultas Farmasi ITB tahun 1983 itu pernah menjabat sebagai Ketua KPP Bioteknologi ITB selama periode 2003-2005. Sebelumnya lembaganya itu bernama PAU Bioteknologi ITB yang pernah dipimpin Prof. Oei Ban Liang,PhD antara 1985 dan 1997.

Waktu menjadi Ketua KPP Bioteknologi ada perubahan yang dilakukan Debbie. Pada zaman Prof. Oei Ban Liang penelitian dirancang untuk menemukan obat seperti Penicilin. Tetapi tampaknya penelitian itu kalah unggul dengan penelitian yang dilakukan RRC. Sehingga ketika menjabat sebagai Ketua KPP Biotek Debbie mengumpulkan kolega-kolega di bioteknologi sehingga akhirnya disepakati untuk melakukan penelitian di bidang teknologi enzim untuk industri. Sehingga kemudian banyak penelitian yang diarahkan ke sana. Pemanfaatan teknologi enzim itu, misalnya, untuk tekstil, produksi gula (glukosa) dan bioetanol.

Debbie tetap melanjutkan program-program yang dilakukan PAU Bioteknologi ITB sebelumnya tetapi ada satu yang baru dirintisnya yakni berusaha menggaet pihak industri. Untuk itu, ia melakukan roadshow ke berbagai industri seperti industri obat, vaksin dan minyak. ”Rupanya industri-industri di Indonesia masih tidak bersedia bila penelitiannya tidak bisa diaplikasikan langsung,” ungkap wanita kelahiran Bandung, 15 November 1956 itu.

Meski begitu, KPP Bioteknologi ITB pada akhirnya memperoleh proyek penelitian dari beberapa industri. Misalnya, dari Biofarma dan Kalbe Farma dalam bentuk ”small project”.

Dalam hal penelitian di dalam negeri lembaga yang dipimpinnya banyak menerima dana penelitian yang berasal dari dana dari DIKTI, RISTEK dan Toray.

Debbie juga berupaya bekerjasama dengan universitas-universitas yang levelnya masih di bawah ITB seperti Universitas Hassanudin di Makassar dan Universitas Udayana di Denpasar, Bali. Mengapa begitu? Waktu itu ada sebuah skema di Indonesia yang penelitiannya berkaitan sehingga ada universitas yang mesti harus dibantu atau dibina oleh mereka yang berkaitan disiplin ilmunya. Apabila partner kerjasama melakukan penelitian dengan Debbie maka dilakukan penelitian mengenai penyakit sesuai dengan bidang yang dikuasainya yakni mikrobiologi sedangkan bila dengan temannya di ITB yang menguasai bioteknologi lingkungan maka penelitiannya tentang bioteknologi lingkungan.

Tak cuma di dalam negeri, Debbie juga merintis international collaboration dalam bidang penelitian. Salah satu yang berhasil adalah kerjasama penelitian dengan Universitas Groningen, Belanda.

Kini ia kembali mengajar di Fakultas Farmasi ITB yang lebih terkenal sebagai ”School of Pharmacy ITB”. Di ruangnyayang terletak di lantai 4 ia kini merasa betah karena di sana dilengkapi pula dengan laboratorium mikrobiologi yang lengkap. Debbie memang benar-benar seorang peneliti sejati.

Bagaimana pendapat Anda?(ASW)

Tahukah Anda?

Peranan "Restriction Enzym" dalam Rekayasa Genetika



Sumber : Microsoft Encarta Encyclopedia 2006

Friday, October 5, 2007

Tahukah Anda?


Enzim Lipase

Enzim ini merupakan katalis reaksi pemecahan molekul lipid dengan cara hidrolisis. Enzim lipase bekerja secara optimal pada pH antara 5,5 sampai 7,5 dan dengan demikian dalam lambung tidak bekerja secara efektif dan optimal. Namun, lipase tahan terhadap lingkungan yang bersifat sangat asam dan juga melangsungkan reaksi hidrolisis terhadap molekul triasil gliserol atau trigliserida yang mengandung asam lemak pendek atau sedang.

Thursday, October 4, 2007

Megawati Santoso, PhD : Kesalahan Penerapan Sistem pada Tridharma Perguruan Tinggi Membuat Peneliti di Indonesia Tidak Bisa Fokus

Topic : Academic


Megawati Santoso, PhD adalah dosen Kimia ITB dan Staf Ahli Rektor ITB. Wanita lulusan cum laude dari S1 ITB (1981-1985) dan PhD dari University of Iowa, AS pada 1994 itu dikenal kritis.

Dalam kerangka kerjasama ABG, Megawati melihat bahwa kemajuan pesat yang dialami RRC saat ini adalah karena pemerintah RRC mewajibkan semua investor asing yang menanamkan investasinya disana untuk membangun pabrik sekaligus fasiltas R&D. Akibatnya para mahasiswa RRC ikut terpacu dan menjadi pintar-pintar.

Sementara di Indonesia umumnya industri bergerak di bidang markloon, packaging serta memproduksi barang dari hasil paten yang kadaluwarsa. Industri di Indonesia tidak melakukan R&D karena mahal, masa inkubasinya lama serta sebelumnya tidak didukung kemudahan-kemudahan (sebelum ada PP No.35/2007 yang dikeluarkan Menristek).Selain itu, industri atau investor asing sebenarnya bersedia melakukan R&D asalkan ada jaminan keamanan. Saat ini jaminan keamanan seperti itu belum dirasakan para investor asing.

Dalam hal penelitian Indonesia terkesan setengah-setengah karena terbentur sistem. Menurut Megawati adanya Tridharma Perguruan Tinggi yang mewajibkan para dosen masuk ke pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat sekaligus telah menyebabkan para peneliti tidak bisa melalukan fokus 100 persen di bidangnya.

Hal itu karena sudah sekian lama kebijakan Menteri Penegakan Aparatur Negara (MenPAN) dengan para pengambil keputusan di Departemen Pendidikan Nasional menempatkan kebijakan Tridharma Perguruan Tinggi dalam bentuk yang salah.

Di luar negeri, menurut Mega, yang dinamakan Tridharma merupakan tanggung jawab institusional. Sebuah perguruan tinggi wajib melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Bukan pada pribadi-pribadi dosen seperti yang terjadi di Indonesia.

Saat ini yang muncul adalah faktor individual. Kalau faktor individual maka seseorang akan ”terpontal-pontal” karena waktunya sangat sedikit tetapi di lain pihak ia harus melakukan ketiga bidang tersebut di atas demi mengejar kenaikan pangkat. Padahal, untuk menjadi peneliti seharusnya dia fokus pada bidang penelitiannya.

Perlu difahami bahwa banyak peneliti yang rajin dan pandai sekali bukanlah seorang pembicara yang bagus bagi mahasiswanya ketika mengajar (untuk memenuhi kewajiban bidang pendidikan dalam Tridharma Perguruan Tinggi). Sehingga ketika ia mengajar para mahasiswa akan merasa bosan.

Sementara itu, para pendidik yang bagus ( dalam arti pandai sebagai pembicara) sering diambil institusi untuk berbicara dalam hal marketing dan sebagainya sehingga penelitian juga tidak terfokus.

Seharusnya, institusi melihat adanya blok-blok pada orang tersebut dan kemudian mensinergikan. Hasil hasil penelitian bisa dititipkan kepada orang-orang yang pandai bicara dan berkomunikasi kepada para mahasiswanya dan sebaliknya. Sementara, orang-orang yang kurang bergaul dengan luar khususnya bisnis dan pemerintah tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk pengabdian masyarakat. Institusi itu seharusnya menyediakan fasilitas itu sehingga masyarakat merasakan bahwa bukan si A atau Si B mampu melakukan itu semua melainkan institusinya.

Megawati sudah berkali-kali menyuarakan hal itu tetapi tampaknya belum didengar oleh para pengambil kebijakan di atas.

Akibatnya, orang-orang pandai di Indonesia yang jumlahnya besar itu tidak bisa membentuk critical mass yang bagus karena perhatiannya terpecah-pecah dalam ketiga bidang itu sekaligus. Ketiganya perlu mereka penuhi karena sangat berkaitan dengan kenaikan gaji dan pangkat. Apalagi seorang kepala rumah tangga yang berjenis kelamin pria, dia harus melakukan ketiga-tiganya. Tetapi, apabila tidak fokus maka seseorang tidak akan berhasil.

Dan sebetulnya dari hasil penelitian itu dikembalikan ke sistem pendidikannya sehingga mahasiswa memperoleh perkembangan terbaru (update). Dan itu bisa difasilitasi dengan blogger,misalnya, sehingga semua ilmu-ilmu itu dapat diakses seluruh mahasiswa. Tidak harus orangnya itu yang harus mengajarkan kembali.

Megawati pernah kuliah dengan seorang Malaysia dan dia bertanya padanya ikwal apa yang dipelajarinya. ”Saya belajar racun cacing tanah,” kata rekan Malaysia tersebut.

”Apakah kamu tidak punya pekerjaan? Seharusnya khan lebih banyak topik penelitian yang lebih advance,” tanya Mega.

”Karena pemerintah saya menghendaki hal itu karena saya adalah penerima beasiswa,” jawab teman mahasiswanya dari Malaysia itu. Hal itu menunjukkan bahwa Malaysia memiliki roadmap SDM yang sangat jelas.

Kalau di Indonesia seseorang peneliti bisa menentukan apa yang akan yang dipelajari dan dapat pindah ke topik lainnya dengan bebas karena yang penting bisa meraih gelar doktor. Namun, ketika kembali ke Indonesia si peneliti peraih gelar PhD itu akan terbengong-bengong. ”Ilmu saya adalah untuk meneliti darah (blood subtitution) dalam hal AIDS dan sebagainya. Dan itu diperlukan peralatan canggih yang sama sekali tidak ada di Indonesia. Mau membangun alatnya saja tidak ada dananya,” kata si peneliti itu.

Jadi ilmu yang dimiliki si peneliti dengan gelar PhD itu bisa terbuang bila tetap bertahan di Indonesia kecuali bila kemudian memutuskan kembali ke luar negeri.

Karena tidak ada guidance dari pemerintah maka semuanya jalan sendiri-sendiri. Andaikata pemerintah memiliki guidance, katakanlah, Indonesia itu harus hebat di bidang natural resources dalam bidang marine (kelautan) maka semua orang akan lari belajar kesitu. Disitu pemerintah akan mendukung habis-habisan.

Akibatnya Indonesia saat ini tidak memiliki keahlian khusus. Indonesia menganggap seluruhnya unggul. ITB, misalnya, yang menghasilkan 600 PhD merasa semuanya unggul. Apakah mereka salah? Tidak mereka memang benar-benar unggul. Tetapi karena tidak terjadi critical mass maka keunggulannya di mana tidak pernah ketahuan.

Kesalahan sistem seperti penerapan Tridharma Perguruan Tinggi yang salah telah ikut membentuk hal itu.

Megawati pernah pula menyampaikan kepada Menteri Pendidikan Nasional mengapa pendidikan di Indonesia hancur. Hal itu disebabkan guru selain gajinya kecil juga mereka tidakmendapatkan idealismenya.

Orang itu hidup karena dua yakni berdasarkan idealisme atau berdasarkan uang ( yang dapat mendatangkan kekuasaan). Guru seharusnya dipenuhi salah satunya. Kalau pemerintah tidak bisa membayar mereka lebih beri mereka penghormatan yang luar biasa atau penghargaan sesuai porsinya.

“Guru-guru yang dipilih memang selektif dan memiliki idealisme yang tinggi,” kata Mega. Seperti di zaman Ki Hajar Dewantara . Demikian pula guru-guru orang Cina meski mereka dalam kondisi miskin tetapi orang-orang kaya kalau bertemu guru mereka akan menunduk dengan hormat. Karena orang kaya itu sadar bahwa mereka bisa menjadi kaya karena guru mereka itu.

Artinya, kalau pemerintah tidak bisa memberikan uang bagi mereka untuk hidup layak berikanlah mereka penghargaan. Dari situ mereka bisa hidup layak. Saat ini penghargaan tidak, uang juga tidak. Pada akhirnya guru-guru dan dosen menjadi berantakan. ”Buat apa saya berkomitmen habis-habisan dan bekerja mati-matian sama saja dengan yang korup. Ya,lebih baik saya diam saja ..,” begitu pikir para guru tersebut.

Bagaimana pendapat Anda? (ASW)

Tahukah Anda?

Osmosis


Tidak semua molekul dapat bergerak melalui suatu membran. Demikian pula tidak semua membran dapat dilalui dengan leluasa oleh berbagai molekul. Membran demikian disebut membran semipermeabel atau permeable selektif. Artinya, tidak sepenuhnya dapat dilalui molekul yaitu hanya molekul dengan ukuran atau jenis tertentu.


Membran sel harus dapat membungkus isi sel, tetapi juga harus dapat dilalui oksigen dan zat-zat pada makanan dari luar ke dalam sel serta dapat dilalui oleh karbondioksida dan zat-zat yang akan dibuang keluar dari dalam sel. Untuk memungkinkan hal itu maka proses transpor terjadi melalui proses osmosis. Osmosis adalah difusi melalui selaput tipis yang bersifat permiabel.


Proses osmosis dalam sel ialah proses perpindahan zat makanan yang terlarut. Pelarut suatu zat peda makanan dalam tubuh ialah air. Oleh karena itu, osmosis yang terjadi ialah proses perpindahan air melalui membran sel. Perpindahan air berlangsung dari larutan encer ke dalam larutan yang lebih pekat dan mengakibatkan terjadinya suatu tekanan dari zat cair yang disebut tekanan osmosis.


Jadi tekanan osmosis adalah dorongan untuk terjadinya transpor molekul melalui selaput tipis karena adanya perbedaan kepekatan (konsentrasi) antara kedua larutan.


Sel dalam tubuh dikelilingi oleh cairan tertentu yang mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan atau plasma sel. Dalam hal ini kedua cairan itu disebut isotonik. Sel darah merah bersifat isotonik terhadap plasma darah di luar sel. Apabila sel darah merah ditempatkan pada air destilasi atau cairan yang mempunayi tekanan osmosis lebih rendah (hipotonik) maka air akan masuk ke dalam sel darah merah. Sehingga sel akan menggelembung dan pecah.


Sebaliknya bila sel darah merah ditempatkan pada larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih besar (hipertonik) daripada sel darah merah, maka air akan keluar dari dalam sel sehingga sel akan mengecil.

Sumber : Dr. Gardjito Sipan Sp.U, Ir. W.P. Winarto, Kimia Umum untuk Pengobat Herbal, Penerbit Karyasari Herba Media, 2007

Wednesday, October 3, 2007

Usulan Penilaian Berdasarkan Performance Audit Agar Peneliti Lebih Bersemangat

Topic : Government- Academic


Sebagai Ketua Majelis Profesor Riset sejak Agustus 2006 perhatian Soefjan Tsauri untuk memajukan penelitian di Indonesia besar sekali. Ia sangat mengharapkan agar peneliti itu lebih diberikan kebebasan dan kepercayaan tetapi sekaligus diberikan sanksi sebagai alat kontrol.


Pada sebuah rapat dengan Menristek Kusmayanto Kadiman , Soefjan Tsauri menyatakan penelitian itu apa tidak sebaiknya mengikuti apa yang disebut block grant secara borongan. Misalnya, ketika ia mengusulkan kerjasama dengan PINDAD untuk membuat APC (Armour Personal Carrier) atau Kendaraan Tempur Pengangkut Personel. Katakanlah dalam setahun diperlukan dana Rp 2 milyar . Untuk itu, ia menyaranlkan agar dana tersebut dipercayakan kepada tim peneliti untuk menggunakan uang penelitian untuk apa saja, tetapi di ujung sebelah sana sudah ditunggu dengan ”pentungan.”


Kriteria pengukurannya juga apa yang dinamakan performance audit. “Sekarang yang diaudit sebagian besar khan masih berupa financial audit,” ujar Soefjan. Performance audit yang sekarang harus diutamakan. ”Tujuan Anda pertama kali membuat kendaraan tempur dengan spesifikasi seperti ini dan membutuhkan dan Rp 2 milyar. Oke, silakan dikerjakan. Anda membutuhkan berapa tahun? Setahun. Maka setelah setahun persis dilihat performance-nya. Kalau betul-betul jadi oke. Kalau tidak berikan penalti. Itu menurut saya akan membuat para peneliti lebih semangat,” ugkap mantan Kepala LIPI periode 1995-2000 itu.


Dalam hal itu, bukan berarti peneliti tidak mau diaudit tetapi dilakukan post audit setelah semuanya selesai. ”Silakan diaudit uang Rp 2 milyar digunakan untuk apa saja tetapi dalam perjalanan silakan beri kebebasan,” Soefjan menambahkan.


Pak Kusmayanto Kadiman langsung menjawab dalam rapat itu.” Pak Soefjan, itu merupakan lagu lama. Nama saya Kusmayanto Kadiman. Saya tidak keberatan dipanggil nama saya Kusmayanto. Saya juga tidak keberatan dipanggil Kadiman. Tetapi saya nggak mau dipanggil Jaksa Agung. Karena yang Anda usulkan itu menyalahi aturan,” ujar sang menteri dengan nada bergurau.


Menurut pendapat Soefjan pribadi seharusnya pemerintah dapat mencari terobosan agar peneliti dapat diberikan kepercayaan dan kebebasan yang lebih besar tetapi dengan cara yang bertanggung jawab dan diberikan kontrol berupa sanksi.


”Sekarang ini anggaran riset Indonesia dibandingkan GDP hanya sebesar 0,047 %. Itu khan kalah jauh dari Malaysia yang bisa mencapai 1%. Andaikata semua peneliti itu ”bajingan” berapa sih nilai 1% dari GDP itu bila dibandingkan dana yang tersedot untuk menomboki BLBI. Kenapa peneliti tidak diberi kepercayaan?,” kilahnya.


Menurut Soefjan saat ini ada 4 jenis penelitian yang dilakukan LIPI. Pertama, penelitian dasar. Pengukurannya kalau benar-benar penelitian dasar akan diterbitkan di jurnal internasional yang mana? Kedua, penelitian terapan. Kalau mengembangkan teknologi yang Anda bantu siapa? Teknologi siapa? Sehingga akan menambah rendemen atau efisiensi. Ketiga, penelitian sebagai jasa untuk mencari dana seperti , misalnya, kimia analisa. Keempat, penelitian untuk membuat kebijakan. Misalnya, bagaimana membuat sistem pemilu yang cocok bagi Indonesia? Itu merupakan policy research.


Banyak peneliti selama ini yang melanggar aturan karena kode etiknya belum mapan. ”Kalau kode etik sudah mapan sebelum dia melanggar sudah terkena kode etik tersebut,” katanya.


Dengan adanya Majelis Profesor Riset Soefjan mengharapkan dapat diciptakan kode etik untuk riset. Yang sudah berjalan saat ini adalah bioethic seperti yang berlaku di Inggris yang mengatur masalah clonning.


Sejauh ini sebagai Ketua Majelis Profesor Riset ia sudah menyusun Kode Peneliti LIPI pada saat peringatan Ultah LIPI beberapa waktu lalu.” Bila hukum mengatur benar atau salah maka etika itu mengatur baik atau jelek. Jadi ada unsur rasa dalam etika itu,” ujarnya.

Bagaimana pendapat Anda? (ASW)

Tahukah Anda?


Difusi Biasa

Difusi secara umum adalah bercampurnya dua macam zat (pelarutan) sehingga menjadi campuran (larutan) yang homogen. Larutan homogen adalah larutan yang pada setiap titik dalam larutan itu memiliki konsentrasi (kepekatan) yang sama.

Jadi apabila kita masukkan sesendok kecil garam dapur ke dalam segelas air dan kita aduk, maka akan terjadi pelarutan dimana molekul garam berdifusi (menyebar) ke dalam air dan akan tercapai keadaan homogen yaitu pada setiap titik pada larutan itu memiliki konsentrasi yang sama (sama asinnya).

Tetapi difusi juga bisa melalui selaput (membran) tipis secara otomatis jika molekulnya sangat kecil, contohnya difusi antar sel pada tumbuhan dan hewan jika molekul metabolit tersebut sangat kecil.


Metabolit yang mempunyai bobot molekul rendah berdifusi melalui membran. Proses difusi dapat berlangsung apabila ada perbedaan konsentrasi antara kedua larutan yang dipisahkan oleh membran. Dalam proses difusi ini zat yang terlarut dapat berpindah dari larutan konsentrasi tinggi ke larutan berkonsentrasi rendah, hingga tercapai keadaan keseimbangan.


Pada keadaan keseimbangan, konsentrasi kedua larutan sama besar. Larutan berkonsentrasi tinggi disebut hipertonik dan larutan berkonsentrasi rendah hipotonik, sedangkan kondisi konsentrasi sama disebut isotonik.


Sumber : Dr. Gardjito Sipan Sp.U, Ir. W.P. Winarto, Kimia Umum untuk Pengobat Herbal, Penerbit Karyasari Herba Media, 2007

Tuesday, October 2, 2007

Bioreactor untuk Mengurangi Emisi Gas Batubara di Pembangkit Tenaga Listrik

Topic : Business


GS Cleantech telah memanfaatkan bioreactor yang telah dipatenkan para ilmuwan dari Ohio Coal Research Centre di Universitas Ohio, AS. Bioreactor perusahaan itu memanfaatkan cermin parabola untuk "mengalirkan" cahaya matahari melalui kabel optik ke tempat kumpulan Algae yang disimpan dalam pipa pengeluaran gas asal dari batu bara. Pada proses fotosintesis Algae itu gas CO2 yang dihasilkan diserap dan diubah menjadi gas O2. Diperkirakan melalui cara itu hampir sekitar 75% gas CO2 yang dihasilkan pembangkit listrik bertenaga batubara dapat dikurangi.



Sementara itu, reaktor Green Fuel yang merupakan proyek riset MIT di Massachusetts telah berhasil memproduksi 30.000 liter biofuel dari lahan seluas satu hektar serta menghasilkan karbohidrat yang bila difermentasi mampu menghasilkan 9.000 liter etanol.



Indonesia yang memiliki banyak pembangkit tenaga listrik bertenaga batubara sudah selayaknya memanfaatkan teknologi tersebut apalagi Algae mudah berkembang biak di negeri ini.



Bagaimana pendapat Anda? (ASW)


Sumber : The Economist, September 2007

Tahukah Anda?

Orang Indonesia Kini Bisa Membuka Rekening di PayPal untuk Berbisnis via Internet



Setelah sebelumnya di blacklist sekian lama maka orang Indonesia kini bisa membuka rekening di Paypal. Paypal adalah salah satu alat pembayaran (payment processor) di Internet yang paling banyak digunakan di dunia dan paling aman saat ini. Dengan memiliki rekening di Paypal maka pengguna Internet dapat membeli barang di eBay, lisensi peranti lunak, keanggotaan situs, urusan bisnis, pengiriman uang ke anggota Paypal lainnya dengan mudah dan otomatis.


Kondisi ini penting bagi orang Indonesia mengingat peluang untuk bisa lebih sukses di dunia bisnis online menjadi terbuka lebar.Orang Indonesia sekarang bisa menerima uang melalui Paypal sehingga bisa mengikuti lebih banyak program affiliate marketing yang memberikan komisi melalui Paypal.


Selain itu, orang Indonesia bisa membuka 'toko online' dengan menerima pembayaran dari pelanggan melalui Paypal


Yang lebih menguntungkan lagi sekarang orang Indonesia (khususnya pengusaha kecil dan menengah) dapat mulai berjualan di eBay. Tahun 2006 tak kurang 200 juta orang telah berjualan melalui eBay dan jumlahnya kini makin meningkat saja.


Selamat membuka rekening di Paypal dan manfaatkan peluang berjualan "apa saja" di eBay dengan baik. Selamat berjuang !!!

Monday, October 1, 2007

Saran Prof. Dr. Soefjan Tsauri, MSc untuk Kerjasama ABG Berdasarkan Pengalaman Membuat APC

Topic : Academic, Business, Government

Prof. Dr. Soefjan Tsauri adalah mantan Kepala LIPI untuk periode 1995-2000. Saat ini Soefjan menjabat sebagai Ketua Majelis Profesor Riset sejak Agustus 2006 disamping sebagai Staf Ahli Kepala LIPI di bidang Teknologi Pertahanan.

Dalam wawancara Senin (1/10), ia mengungkapkan pengalamannya membina kerjasama ABG (Academic, Business, Government) untuk membangun Kendaraan Tempur Pengangkut Personel atau lazim pula disebut APC (Armour Personnel Carriers).

Pada waktu itu, Soefjan bersama Prof. Dr. Budi Susilo Supandji, Dekan Fakultas Teknik Sipil UI yang kini menjabat salah satu dirjen di Departemen Pertahanan memutuskan untuk membangun Defense Design Centre (DDC). Dalam kerjasama ini dilibatkan pihak swasta, Dephan dan perguruan tinggi.

Soefjan pada awalnya berkata bahwa kerjasama tersebut disamping tidak gampang juga membutuhkan pengalaman lapangan. Sehingga ia kemudian meminta untuk membuat proyek yang mudah terlebih dahulu yang tingkat keberhasilannya tinggi. Dipilihlah kemudian pembangunan Kendaraan Tempur Pengangkut Personel atau APC sebagai proyek pertama.

Tahun pertama semuanya berjalan lancar karena semuanya masih sangat idealis. Mulai tahun kedua, mulai timbul masalah karena masing-masing mempunyai aturan main yang berbeda, khususnya yang menyangkut renumerasi atau honor.

Pada waktu tahun pertama masing-masing mencoba melupakannya karena masih memiliki idealisme. Pada tahun kedua, swasta mulai mengatakan,”Pak, hidupku ini berasal dari proyek. Karena itu saya akan mengajukan bagaimana anak buah saya billing rate-nya sesuai dengan apa yang ada.”

Kemudian swasta bertemu dengan birokrat yang aturan mainnya berdasarkan DIP (Daftar Isian Proyek). "Bagaimana bisa tenang dalam sebuah tim untuk menggolkan sebuah proyek bila yang satu katakanlah memperoleh Rp 2 juta per bulan sementara yang lain menerima Rp 750.000,- per bulan," ungkap pria kelahiran Gresik, 29 Desember 1942 itu. Terbukti kemudian proyek itu tidak bisa berlangsung mulus dan terhenti di tahun kedua. Kejadian itu terjadi sewaktu Soefjan menjadi Kepala Badan Litbang Dephan antara tahun 2002-2003.

Waktu itu, Soefjan sedang menggebu-gebu agar potensi-potensi yang ada di Indonesia semestinya sudah dapat membuat industri pertahanan yang mandiri. Caranya? Dengan menggabungkan antara Cilangkap dengan akademisi dan swasta yakni menggabungkan antara otot dan otak.

Oleh karena itu, Soefjan menyarankan untuk menjalin kerjasama ABG yang pertama kali harus dicari jalan keluarnya adalah agar dalam satu tim itu memiliki renumerasi yang sama ketika menangani sebuah proyek. Rasanya masuk akal bila hal itu yang perlu dibereskan terlebih dulu agar kerjasama ABG menjadi lancar.

Bagaimana pendapat Anda? (ASW)

Tahukah Anda?


Anti Oksidan
Untuk menanggulangi efek dari radikal bebas di dalam tubuh perlu ditingkatkan senyawa-senyawa yang bersifat anti oksidan yang mampu menetralkan radikal bebas, terutama sebagai penampung elektron dari radikal bebas. Senyawa-senyawa yang mampu menetralkan radikal bebas ini disebut anti oksidan karena bersifat mengurangi oksidasi terutama dari radikal bebas. Termasuk ke dalam senyawa anti oksidan adalah berbagai vitamin C (dari buah dan sayur), asam urat (dalam jumlah normal), vitamin yang larut minyak seperti vitamin A dan E dan banyak zat lain yang sudah ditelitu berefek anti oksidan.